
Tak ada kecanggungan antara Hamdan dengan keluarganya, ia tetap bisa akrab dengan mereka. Bahkan, ia juga sudah sangat dekat dengan Kabir.
"Ayah, aku seneng banget ketemu sama Ayah, hemmm Ayah lebih ganteng dara pada di foto." kata Hamdan.
"Hamdan pernah lihat foto Ayah? " tanya Kabir.
"Pernah dong, Hamdan juga bisa mengaji, tapi hafalan, dan itu cuma yang Paman beritahu aja, Ayah bisa ajari aku? " tanya Hamdan.
Kabir dan Ceasy terharu mendengar apa yang Hamdan katakan, walaupun hidup dengan orang non muslim, Hamdan tetap mempertahankan agama yang dibawa sejak lahirnya.
"Aku juga dong, aku juga mau masuk islam, selama ini Ayah sama Ibu, nggak maksain keyakinanku, aku ingin belajar bersama dengan adikku ini, agar bisa menjadi contoh yang baik untuk calon adikku yang satunya, " tutur Gu.
"Calon adik? Ibu hamil? " tanya Hamdan.
__ADS_1
Ceasy mengangguk-angguk, Hamdan sangat senang sekali mendengar itu. Ia suka sekali dengan anak kecil. Hari demi hari berganti, kabar kembalinya Hamdan juga di dengar oleh keluar di Jogja. Mereka bahkan mengadakan acara selamatan untuk kepulangannya.
Disisi lain, cinta Yoona dan Jamil ternyata tak dapat restu dari keluarga Jamil. Karena orangtua Jamil ingin, Jamil mendapatkan istri yang memikirkan akhirat daripada dunianya.
"Memang kalau nggak berhijab tanda nya nggak sholehah Mak? Dia ini lebih dari wanita yang selalu Emak jodohkan sama aku Mak, aku ini......... " Yoona menahan omongan Jamil dengan cara menyentuh tangannya.
"Maaf menyela, saya mungkin tidak berhijab, dan mungkin saya bukan anak pesantrenan. Tapi saya juga wanita yang punya masa depan Buk, kalau memang Ibu nggak suka sama saya hanya karena nggak berhijab, saya akan berusaha melakukan itu, pelan-pelan." ungkapan Yoona.
"Opo yo iso? Jaman saiki loh, anak gadis kalau disuruh berhijab katanya itu sesuai dengan hatinya. Katanya kalau belum mantap hatinya belum mau berhijab, benar itu urusanmu sama Gusti Allah. Tapi berhijab itu wajib bagi seorang wanita muslim, wajib wajib jib jib! " seru Ibu Jamil.
"Opo orangtuamu ndak ngajarin kamu po? " tanya Ibu Jamil.
Yoona merasa tersinggung saat Ibu Jamil menyebut nama orang tuanya. Sebagai anak dari keluarga broken home sejak kecil, ia jarang sekali mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Yoona pamit dan pergi keluar rumah.
__ADS_1
Ia tidak menyangka seorang ibu, dan seorang perempuan juga mengatakan itu kepadanya, hanya bisa menambah luka dihatinya. Tapi Yoona masih tabah, Ibu Jamil tidak mengetahui jika Yoona berasal dari keluarga broken home.
"Mak! kok ngomonge ngono sih! " kata Jamil mengejar Yoona.
"Woo bocah jaman saiki, nek wes cinta kok dadi wuto" Gumam Ibu Jamil.
Jamil mengejar Yoona, Yoona duduk di batu besar yang ada di depan rumah Jamil. Ini kedua kalinya melihat Yoona menangis, saat itu ia menangis karena menceritakan masa lalunya.
Menangis tanpa mengeluarkan suara itu, sungguh menyakitkan. Jamil mendekati Yoona, dan meminta maaf atas nama Ibunya.
"Yoona, sepurane yo, Makku tadi ngomong kayak gitu, aku tau hatimu cidro, sepurane yo Yoon." Kata Jamil menyentuh bahu Yoona.
"Nggak papa kok, namanya juga orang tua kan? Dia berharap yang terbaik untuk masa depan anaknya, its ok, ora popo kok, aku ora popo," kata Yoona meneteskan air matanya lagi.
__ADS_1
Bukan kemauan Yoona terlahir din keluarga broken home, ia juga sudah cukup menderita karena itu, tak mendapatkan kasih sayang orang tua, tak diinginkan orang tua, sering di lempar kesana kesini, itu juga sudah cukup melukai hati dan mental Yoona.