
Malam telah tiba, karena hanya satu kaki yang patah tulang, Kabir bisa berjalan walau harus menggunakan tongkat, ia berusaha bisa melakukan apapun sendiri, agar disaat ia sendirian, atau Ceasy sedang kuliah, ia bisa mengerjakan semuannya sendirian.
"Eh, Astaghfirullah sini aku bantu, ah istri macam apa aku ini, membiarkan suami tercintaku yang sedang kesakitan jalan sendiri. Maafkan aku kang Mas," Kata Ceasy mengelus-elus kaki Kabir yang di gibs.
"Nggak usah lebay deh" Kata Kabir mencubit pipi Ceasy yang tembem itu.
"Sakit dong, aku gantiin baju nya ya, sekalian ku gantiin celanannya" Kata Ceasy semangat.
"Agresif" Ucap Kabir dengan muka datar.
"Yang penting cinta hehehe, sini ah aku bantu duduk. Ciku ciku ciku suamiku tayang" Goda Ceasy.
Kabir malah semakin takut jika Ceasy bersikap agresif seperti itu, ia menjauhkan muka Ceasy menggunakan jari telunjukknya, tetapi apa boleh buat? Ceasy membuat Kabir tertawa dengan tingkah lucunya.
Perlahan Ceasy membuka baju Kabir, lalu mengusapkannya dengan handuk kecil yang sudah di basahi dengan air hangat.
"Geli tau, aku sendiri aja deh" Kata Kabir menahan senyumannya.
"Kenapa tuh bibir dimanyun-manyunin?" Tanya Ceasy.
"Nggak papa" Jawab Kabir sambil menggelengkan kepalannya.
"Tuh sekarang pipinya di gembul-gembulin gitu hish. Kak Kabir ini kenapa coba?" Goda Ceasy sambil menggeliti perut Kabir.
"Geli Ceasy, enggak ada apa-apa kok. Udah lanjutin, kalau nggak aku mau sendiri aja ngusapnya" Kata Kabir merangkul Ceasy, dan meletakkan kepala Ceasy di bahunya.
Mereka jadi senyum-senyum berdua, bahkan saat Ceasy memeluk Kabir yang telanjang dada pun, Kabir tidak marah seperti biasanya. Kabir malah membalas pelukan hangat Ceasy, dengan ciuman dikeningnya.
"Hishh, udah mulai nakal deh" Kata Ceasy mencubit hidung Kabir.
"Dengan istri sendiri boleh dong" Kata Kabir sambil menggertakan giginya.
"Ummm mau gigit pula," Kata Ceasy menghindar.
"Ayo buruan lanjutin, udah mulai dingin ini hawa-hawanya" Pinta Kabir.
Setelah mengelap badan Kabir, Ceasy mulai melepas celana Kabir, awalnya Kabir menolak karena malu. Melihat bibir Kabir yang manyun, Ceasy langsung tau jika Kabir belum siap memperlihatkan bagian tubuh lain padanya. Ceasy pun mengambil ide Kabir dulu saat menngobati kaki Ceasy, dengan menutupinya dengan selimut.
"Duh" Teriak Ceasy.
Bukan hanya Ceasy yang kaget, Kabir pun juga kaget saat tidak sengaja Ceasy menyentuh barang pribadi milik Kabir. Tak tok tak tok hanya suara jam yang berdetak saat itu.
__ADS_1
"Benjolan apa yang ku sentuh tadi?" Tanya Ceasy.
Tak ada jawaban dari Kabir, ia hanya diam saja dan merebut lap yang Ceasy bawa, lalu menyuruh Ceasy segera tidur, karena besok pagi Ceasy ada kelas pagi.
Selesai bersih-bersih Kabir langsung merebahkan tubuhnya. Saat melirik ke arah Ceasy, Kabir melihat Ceasy masih memandangi langit-langit kamar, padahal lampu sudah di matikan.
"Belum tidur?" Tanya Kabir.
Ceasy menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Kabir lagi.
"Masih ada yang mengganjal dihatiku Kak" Jawab Ceasy menyentuh dadanya.
"Apa itu?" Tanya Kabir.
"Soal benjolan yang tidak sengaja aku sentuh tadi, itu apa? Dan sakit atau tidak gitu?" Kata Ceasy dengan mata melotot.
Kabir langsung memalingkan badannya dan segera menyuruh Ceasy untuk tidur, karena Ceasy terus saja mempertanyakan tentang benjolan itu, Kabir menjadi sangat kesal.
"Kak Kabir mau apa?" Tanya Ceasy.
Tubuh Kabir sudah berada di atas tubuh Ceasy yang mungil itu. Kabir memutarkan bola matanya, menghela nafas panjang dan berusaha menjelaskan apa yang Ceasy sentuh sebelumnya.
Ceasy mengangguk dengan senyuman bodohnya.
"Itu suplayer yang akan menyuplay barang untuk membuat anak" Kata Kabir bingung.
"Nggak usah muter-muter, aku sudah berusia 19 tahun, malah mau 20 tahun, yang jelas lah. Kalau memang itu pembahasan dewasa ya kita sensor" Kata Ceasy.
Kabir beruasaha bangkit dan duduk di samping Ceasy, begitupun Ceasy juga duduk mendengarkan cerita suplayer itu.
-_-_-
Setelah dijelaskan, Ceasy baru mengerti apa itu suplayer dan masuknya ke pabrik pembuatan anak. Ceasy mengangguk-angguk dengan sangat mengerti apa yang Kabir jelaskan.
"Kenapa kita nggak bikin saja hehehe" Kata Ceasy.
"Petanyaan itu lagi? Ceasy kita cuma hidup berdua, sedangkan kamu masih harus belajar, kamu lulusin saja kuliah kamu dulu, baru kita bahas punya anak. Ok?" Kata Kabir.
"Setidaknya kita mencoba melakukannya saja, latihan gitu. Masa iya nikah selama 4 bulan aku dan kamu masih jadi perawan dan perjaka sih" Kata Ceasy.
__ADS_1
Kabir menyelimuti seluruh tubuh Ceasy, lalu memutar selimutnya hingga Ceasy seperti di bedong, kemudian mulutnya Kabir sumpal dengan roti tawar yang ada di samping meja lampu.
"Emm... emmm"
"Makanya kalau dibilang jangan ngeyel, sekolah yang rajin baru mikir punya anak" Kesal Kabir.
Mereka berdua pun tidur. Setelah selesai sholat subuh, Ceasy menyiapkan sarapan untuk Kabir, karena pagi ini ia dirinya ada kelas jadi semua harus serba cepat.
"Ceasy, tolong dong" Teriak Kabir dari kamar mandi.
Ceasy yang sedang masak itu langsung mematikan kompor, lalu berlari menuju kamar mandi. Sudah panik sampai ubun-ubun, Kabir hanya minta di bukakan tutup sampo.
"Hish, yang sakit kan kaki, terus yang buat buka botol kan tangan Kak," Kesal Ceasy sambil membuka botol sampo itu.
"Mandiin dong, kepalaku kan juga terbentur, kalau buat menghadap kebawah gini masih sedikit pusing" Pinta Kabir.
"Boleh, terus masakanku gimanan? Baru mau masukin bumbu" Kata Ceasy semangat.
"Mandiim dulu deh, nanti kalau kamu kuliah aku gimana dong. Bisa sendiri, tapi kamu kan masih dirumah, nggak papa dong minta bantuanmu" Kata Kabir.
"Dengan satu syarat" Pinta Ceasy.
"Apa? Pakai syarat segala sih, katanya cinta itu tanpa syarat" Kata Kabitr dengan mulut manyunnya.
"Kiss dulu, setelah ininaku beri rasa yang semalen itu, gimana?" Tanya Ceasy.
Wajah Kabir langsung berubah, sepertinya Ceasy pintar memanfaatkan keadaan. Tapi bagaimana lagi, saat ini memang Kabir butuh bantuan dari Ceasy.
"Soal yang semalam, nunggu aku sembuh gimana? Minimal lepas gibs, baru kita memulainya" Tawar Kabir.
"Emm ok bisa di nego, tapi kiss nya harus pagi ini juga" Kata Ceasy.
Kabir merentangkan tangannya, dengan senang hati Ceasy memeluk Kabir. Dengan sangat agresif, Ceasy mencium bibir Kabir, awalanya Kabir menghindar, tetapi ia cuma ingin berciuman dengan santai, tidak seagresif Ceasy.
Sarapan Kiss....
"Udah kan? Bantuin gih" Kata Kabir.
"Siap!" Kata Ceasy semangat.
Perlahan membuka celana panjang Kabir, ketika ingin melepas dalamannya, Kabir menahannya. Kabir masih merasa malu-malu, Ceasy pun mengerti, lalu mengguyurkan air kebadan Kabir. Dan lalalalallala
__ADS_1
Dosa jariyah aku iniππ