
Sejak semalam, Ceasy sengaja tidak tidur. Hanya memastikan apa yang Kabir katakan itu kenyataan, bukan hanya mimpi tidur saja. Ia terus memeluk Kabir di saat Kabir tertidur.
Disisi lain, Syakir sedang mandi tanpa mengunci pintu, Balqis yang sudah tidak tahan ingin buang air kecilpun masuk tanpa permisi dan langsung melepas celananya begitu saja.
"Astaghfirullah hal'adzim, Balqis," teriak Syakir langsung melompat ke atas wc.
Rumah Syakir ini sederhana, jadi masih menggunakan toilet jongkok. Balqis tau dia salah, ia hanya meminta maaf dan menutup matanya. Tangannya meraba-raba mencari gayung, karena gayungnya berada di dekat Syakir, Syakir pun mengerjainya, dengan menyiramnya air.
"Astaghfirullah, Mas ah, nyiram gini sih, kan dingin," jerit Balqis.
"Eh cie yang udah panggil Mas aja nih, kenapa? Kan kamu belum mandi, biar seger hahaha" Tawa Syakir membuat Balqis kesal.
"Emm, kan basah aku nya. Pinjem dulu gayungnya Mas, jijik tau belum cebok," kata Balqis.
"Ih jorok ih, ih" Syakir memberikan gayungnya kepada Balqis.
Karena sudah terlanjur basah, Balqis pun ikut mandi bersama Syakir. Mumpung Aminah masih tidur lelap di kamarnya. Pagi yang menyenangkan juga terjadi diantara Kabir dan Ceasy. Alarm subuh berdering, mata Ceasy masih terbuka.
"Astaghfirullah, Ceasy! Kamu nggak tidur? Mata kamu udah seperti mata panda loh!" Kabir kaget saat membuka matanya, Ceasy melotot padanya.
"Aku nggak cantik lagi dong, huhuhu." rengek Ceasy sambil mengusap-usap wajahnya ke dada Kabir.
__ADS_1
"Ah jangan gini dong, iya kamu masih cantik. Udah ya, kita sholat subuh dulu Ok. Ayuk bantu aku bangun Ok," Kabir mendorong lembut tubuh Ceasy, dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
Sudah kebiasaan sejak awal menikah, mereka berdua selalu sholat berjama'ah, selain Ceasy berada di kampus. Setelah selesai sholat, Ceasy terus saja menutupi wajahnya. Kabir pun berusaha membuka tangan penutup wajah Ceasy itu yang masih mengenakan mukena.
"Kamu kenapa sih Ceasy? Kenapa ditutupin gini?" Tanya Kabir.
"Jangan buka! Aku malu dengan lingkaran hitam dimataku!" kata Ceasy.
"Iya siapa suruh kamu nggak tidur coba? Kan jadi item-item gitu," Kata Kabir berusaha membuka tangan Ceasy.
"Aku tuh memastikan aja, bahwa pernyataan cinta Kak Kabir itu nggak mimpi, jadi aku nggak mau tidur, takutnya saat aku memejamkan mata, dan terbangun, semua itu hanya mimpi," Kini jelas kenapa Ceasy begadang sampai pagi di pelukan Kabir.
"Oh, aku mandi dulu" Kabir berniat untuk mengerjai Ceasy, dengan pura-pura lupa kejadian semalam.
"Kak! Kak Kabir," Ceasy berteriak karena Kabir sudah masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Kabir terus saja tertawa akan hal lucu yang Ceasy lakukan. Kabir sudah mengakui cintanya, untuk apa Ceasy meragukan lagi. Kabir pun mandi dengan perasaan riang gembira. Selesai mandi, Kabir mendapati Ceasy yang sedang menangis disudut kamar dengan banyak tisu bekas berserakan disana.
"Astaghfirullah hal'adim, Ceasy kamu ini apa-apaan sih? Tisu bekas kenapa nggak kamu buang? Kenapa juga kamar berantakan gini, dan kenapa juga kamu berada di pojokan gitu?" Pertanyaan Kabir malah menambah Ceasy menangis.
Cara Ceasy menangis itu, mengingatkan dirinya saat di bully di sekolah dulu, lalu Nisa datang menghiburnya. Tanpa sengaja Kabir teringat akan kehadiran Nisa, ia pun segera pergi mendekati Ceasy dengan kaki yang masih pincang.
__ADS_1
----
Dibujuknya Ceasy, lalu di rangkul di dudukkan di tempat tidur. Lalu, Kabir membereskan semua benda yang berserakan di kamarnya.
"Ceasy, udah ya jangan nangis lagi. Aku hanya bercanda tadi, mana ada aku lupain kata-kataku semaoam, udah ya," Bujuk Kabir.
"Bener? Aku tau aku belum bisa dewasa seperti Kak Nisa dan Kak Ais, tapi aku........" Ceasy menundukkan kepalanya.
"Stttt, udah ya, kamu ya kamu. Nisa ya Nisa, kamu nggak akan pernah menjadi Nisa, jadi.... apapun keadaan kamu, bagaimana sifat dan sikapmu, insyaallah aku bisa menerima semua itu, yang terpenting, kita saling mencintai, udah gitu aja," jelas Kabir.
Ceasy juga meminta maaf jika dirinya belum bisa bersikap dewasa, ia masih kekanak-kanakan yang sedikit saja di bentak pasti akan menciut hatinya. Kabir yang belum memakai baju pun memeluk Ceasy, ia meyakinkan hati Ceasy, bahwa dirinya sudah berubah, Kabir sudah mamou mencintainya, seperti yang Ceasy harapkan.
"Sudah ya, nggak ada lagi yang kamu takutkan, aku sudah mencintaimu, apa lagi yang kamu inginkan? Katakan saja!" Kabir mencoba menghibur hati Ceasy.
"Anak, aku ingin kita memiliki anak Kak Kabir, kita ininudah nikah selama 4 bulan, masa iya sih, belum itu itu," pinta Ceasy.
"Itu lagi? Kamu harus selesaikan kuliahmu dulu Ceasy, aku nggak ingin belajarmu terganggu akan hal ini, minta yang lain saja ya, soal melakukan itu, kita fikirkan lagi nanti ya," Kata Kabir menaik turunkan alisnya.
"Bener? Aku takut kalau aku mandul kak, nanti kamu cari bojo anyar, huhu ambyar aku" Kata Ceasy menangis lagi.
"Hush, jangan gitu ah ngomongnya, kita serahkan semua samanya sama yang di atas, anak itu diibaratkan rezeki, kita tunggu saja nantinya. Kita juga belum melakukan itu, kan kita belum tau kamu mandul atau enggaknya,"Kata Kabir menyeka air mata Ceasy.
__ADS_1
Permasalahan sudah sampai disitu, mereka berdua segera melakukan aktivitasnya masing-masing. Kabir menyiapkan sarapan untuk Ceasy, lalu Ceasy mandi, karena hari ini dirinya akan pertemuan di kampusnya. Dan Tae juga sudah mengabari jika dirinya sudah siap menjemput Ceasy.