
Musim di Korea saat itu sedang musim gugur, pertengahan bulan Oktober, dan sebentar lagi Ceasy akan betambah usia di bulan itu juga. Kabir tidak tahu, mengapa Ceasy seperti marah saat itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Kabir menyentuh kepala Ceasy.
Namun Ceasy mengelaknya, bahkan ia menjauh sedikit dari Kabir, dikepalanya, di matanya, nama dan wajah Siska Marwaidah selalu ada dibenaknya.
"Hey, Ceasy, kamu kenapa sih?" Tanya Kabir kembali membelai kepala Ceasy.
"Nggak papa!" Jawab Ceasy jutek.
"Nih anak kenapa sih? Mana ada kelelahan karena menangis, mana segala Dokter bilang tentang rumah tangga lagi, pasti si Ceasy nih yang bilang" Batin Kabir.
"Enak ya yang punya selingkuhan" Kata Ceasy tambah jutek.
"Selingkuhan apa sih? Siapa yang selingkuh?" Tanya Kabir makin bingung.
"Siska Marwaidah, cantik sih dia. Tapi bikin kesel, Kak Kabir jahat banget, kalau memang nggak cinta ya jangan gitu dong Kak, aku punya perasaan tau" Kata Ceasy.
Mata Kabir kesana kesini, ia makin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ceasy, bahkan tentang Siska itu. Kabir juga nggak peka ketika Ceasy bilang 'kalau memang nggak cinta'. Masih juga mikir keras si Kabir.
"Ceasy, ayo pulang lah, kamu ini kenapa bisa pingsan gitu sih? Buat aku panik tau nggak sih, nyusahin aja" Kata Kabir.
"Oh, aku nyusahin, terus si Siska itu nyenengin gitu? Aaaa Kak Kabir jahat, kalau memang nggak cinta sama aku, nggak suka pernikahan ini ya bilang dong sama aku. Jangan ngaku ke Siska itu kalau Kak Kabir tuh masih single, Kak Kabir anggap aku ini hanya boneka apa? Sakit tau" Rengek Ceasy.
"Ceasy please deh, aku nggak ngerti maksut kamu itu apa? Cinta, pernikahan, aku masih single, terus Siska, aku makin bingung ini" Kata Kabir masih berusaha mikir keras.
Melihat Kabir yang masih tidak mengerti, Ceasy pun memberikan kartu nama Siska yang ia ambil dari sakunya saat ia mencuci celana Kabir.
"Ohh, kamu cemburu dengan Siska ini. Dia bukan siapa-siapa aku lah" Kata Kabir.
__ADS_1
"Lalu kalau bukan siapa-siapa, kenapa Kak Kabir bilang kepadanya kalau Kak Kabir masih single?" Tanya Ceasy.
"Astaghfirullah hal'adzim Ceasy, siapa yang bilang. Nih ya aku jelasin, aku mungkin belum cinta sama kamu, aku juga mungkin masih belum terbiasa akan pernikahan ini, tapi aku adalah seorang muslim sejati, aku tau hukum islam. Bahwa haram hukumnya seorang suami, atau lelaki yang beristri, mengatakan kepada siapapun kalau dirinya itu single, walaupun itu hanya bercanda, itu dosa. Sama aja aku telah menalak kamu, naudzubillah" Jelas Kabir sambil mengusap kepala Ceasy.
"Jadi, Kak Kabir masih suamiku kan?" Tanya Ceasy.
"Ya masih lah, sekarang kita pulang ok!, infusmu juga hampir habis. Dirumah juga masih berantakan, kalau kamu memang nggak mau bersih-bersih ya udah jangan, biar aku nanti yang bersih-bersih, tapi jangan berantakin seperti itu. Segala macem kamu lempar kesana kesini" Kata Kabir.
"Ya itu karena Kak Kabir, dan aku kan istrimu. Aku juga harus bisa membersihkan rumah lah, masa iya Kak Kabir mulu sih" Kata Ceasy.
"Aku nggak pernah minta kamu jadi istri yang baik, atau bertingkah seperti orang lain, cukup menjadi Ceasy yang aku tau aja, udah cukup. Jangan berusaha lagi Ok! Sekarang kita pulang, aku panggil suster dulu buat lepas infus kamu" Kata Kabir dengan lembut.
"Kak Kabir, tapi aku masih istrimu kan?" Tanya Ceasy menahan tangan Kabir.
"Kapanpun kamu ingin," Jawab Kabir.
-_-_-_
Diresto, Yoona dan Jamil terus saja bergaduh, mereka saling melempar ejekan satu sama lain. Hal apa aja mereka buat untuk bahan candaan. Saat itu Yoona memang tengah duduk bersantai di kursi meja makan paling dekat dengan kasir, Jamil pun menghampiri dengan membawakan masakan dengan kreasi ia sendiri.
"Nih aku buatin kamu sesuatu, cobain deh" Kata Jamil.
"Wah, apa ini? Masakan orang jomblo?" Tanya Yoona.
"Ra lucu!, Aku memang jomblo, tapi kan awakmu juga jomblo, sesama jomblo ndak boleh saling menghina" Kata Jamil menyiapkan makanannya kepada Yoona.
"Hishh, bahasamu iku lho Mil, Jamil." Kata Yoona.
Setelah dihidangkan oleh Jamil, Yoona pun mencicipinya, ia terkesan karena masakan Jamil lebih enak dari pada masakannya. Masakan itu juga ada namanya 'masakan Jomblo terhormat'. Yoona sampi tertawa mendengar nama makanan itu.
__ADS_1
"Eh Yoon, Yoon. Ceritain dong, kenapa suaminya Aisyah itu bisa bikin resto di Korea ini, malah ada cabangnya lagi. Kok bisa kefikiran gitu" Tanya Jamil.
"Eh Nyet, aku sama Rifky itu nggak kepikiran dulu buat bangun nih resto. Dulu tuh ini kecil banget tau, bahkan mungkin sepertiganya ini, dan ini kan hanya cabang, pusatnya ada di tengah kota, dan ini lagi bangun lagi di Gimhae, doain ya" Kata Yoona.
"Nyet? Padakke aku monyet po? Lah, katamu Gimhae sepi, lha kok mbukak ning kono (di sana)?" Tanya Jamil.
"Karena disana juga banyak orang Indonesianya Mil, wes lah, aku mau keluar dulu Ok! Kalau kamu belum butuh sesuatu, tanya Si Sri, dia juga dari Jawa kok, sante Ok! Makannnya aku bawa, tata" Kata Yoona keluar dari resto.
Yoona berperan penting dalam mengelola restorannya bersama Rifky, karena sejak kecil hingga sekarang, Rifky selalu membantunya. Bahkan dahulu saat Yoona terpuruk, Rifkylah orang pertama yang disisi Yoona saat itu.
Setelah keluar dari sakit, Kabir dan Ceasy tidak sengaja bertemu dengan Siska di di depan lift, nampak Ceasy antusisa merangkul tangan Kabir dengan erat.
"Assallamhalaikum Kabir" Salam Siska.
"Waalaikum sallam, Siska, mau kemana kamu?" Tanya Kabir.
"Ih Kak Kabir, katanya dia nggak penting, kok nyapa sih" Kesal Ceasy.
"Ya kan dia ngucapin salam, harus di jawab dong" Kata Kabir.
"Dia beneran istri kamu Bir? Hemm bocah gini kamu jadiin istri, dulu seleramu itu si bunga sekolah, si Nisa, kenapa turun level jadi ciwi-ciwi gini sih?" Kata Siska sambil memainkan jilbab Ceasy.
"Tuh kan kak, dia panggil aku ciwi-ciwi. Aku akan menjambakmu!" Kesal Ceasy.
"Ceasy, kamu masuk duluan ya, biar aku yang menyelesaikan semua kesalah pahaman ini" Kata Kabir.
"Udah sana pergi!" Kata Siska.
Ceasy melihat Kabir dengan wajah memelas, tetapi Kabir memberi arahan dengan senyumannya untuk Ceasy masuk ke apartemenya terlebih dahulu. Karena ada hal yang akan Kabir katakan tanpa ingin melukai hati Ceasy.
__ADS_1