Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Berdua 3


__ADS_3

Karena Kabir belum boleh memaksakan jalan, Ceasy meminta rumah sakit untuk memberikannya kursi roda, Ceasy juga kuat mendorong Kabir dari lobby sampai masuk lift. Bahkan ia selalu tersenyum kepada semua orang, saat keluar lift, tak sengaja mereka bertemu dengan Siska lagi.


"Hish, kenapa nih orang muncul terus sih" Gumam Ceasy.


"Kenapa Ceas?" Tanya Kabir.


"Ada orang gila" Jawab Ceasy dengan nada kesal.


"Siska maksut kamu? Astaghfirullah hal'adzim, nggak boleh gitu dong, kalau kamu nggak suka dengan dia, lebih baih kamu diam dan hindari, jangan menambah dosa dengan kamu mengumpat di belakangnya, apa lagi menghinanya" Kata Kabir dengan lembut.


"Aku nggak mengumpat, aku juga nggak menghina Kak" Kata Ceasy membela diri.


"Iya, iya, ayo segera ke apartemen kita, aku sudah lapar, bukankah kamu ingin memasakkanku sesuatu?" Kata Kabir menepuk-nepuk tangan Ceasy yang berada di pegangan kursi roda.


"Kabir! Aku ingin kamu" Kata Siska.


"Kamu mabuk Sis? Ayo Ceasy, aku sudah lapar" Kata Kabir menepis Siska.


Lagi-lagi Siska menahan kursi roda milik Kabir, ia menangis dan bersimpuh di kaki Kabir, memintanya untuk memberi kesempatan untuknya. Karena Siska tau, pasti Kabir juga tidak mencintai Ceasy.


"Kak Kabir kok diam saja sih? Apakah Kak Kabir akan memberinya kesempatan? Tapi aku adalah istrinya" Kata Ceasy dalam hati.


"Ceasy kamu nggak dengar? Aku lapar, aku mau istirahat!" Kata Kabir tegas.


"I, i, iya Ka, awas kamu, Kak Kabir harus istirahat" Kata Ceasy menarik lengan Siska dan mendorongnya hingga Siska tersungkur di lantai.


"Ceasy ayo" Ajak Kabir.


Ceasy langsung mendorong kursi roda Kabir dan masuk ke rumahnya, di dalam Kabir juga tidak berkata apapun, yang tadinya senyum-senyum terus kini menjadi murung. Karena tidak ingin merusak suasana hati Kabir, Ceasy pun pergi ke dapur dan memasak untuk Kabir.

__ADS_1


"Ceasy, aku pinjam ponselmu ya, boleh?" Tanya Kabir.


"Pakailah kak, aku masakin buat Kak Kabir makan dulu" Jawab Ceasy.


"Yah di kunci, apa ini sandinya Ceasy?" Teriak Kabir.


"Tanggal lahir Kak Kabir lah" Jawab Ceasy.


"Hari gini masih pakai kata sandi hahaha dasar bocah. Mana wallpapernya foto pernikahan juga, hahaha bahkan wallpaoer chatnya juga fotoku, segitu cintanya sama aku? Ceasy, Ceasy" Gumam Kabir dengan senyum-senyum sendiri.


Kabir sibuk mengobrak abrik isi ponsel Ceasy, yang malah membuatnya ketawa-tawa sendiri. Bahkan ada foto masa kecilnya yang saat itu di ambil oleh Aisyah, ketika ia pertama kali bertemu dengan Aisyah.


"Ini kak, aku suapi ya" Kata Ceasy selesai memasak, lalu memberikannya kepada Kabir. Karena Kabir sibuk dengan ponsel Ceasy, Ceasy pun berinisitaif ingin menyuapi.


"Ini foto kapan? Kok kamu pakai baju rumah sakit, dan sepertinya sama deh sama sragam rumah sakit kemarin" Tanya Kabir.


Kabir mencubit hidung Ceasy, senyuman Kabir juga membuat hati Ceasy meleleh. Bahkan saking bahagiannya, Ceasy sampai gugup menyuapi Kabir.


"Kamu ceritakan aja masa dulu waktu pertama kali ketemu Kak Ais, biar aku makan sendiri" Kata Kabir memberikan ponsel Ceasy dan meminta piring yang dibawa Ceasy.


Ceasy mulai cerita sejak awal saat pertemuannya dengan Aisyah, saat itu ia sedang sakit parah, tak ada sanak saudara yang mau mengantarkan kerumah sakit, bahkan ia juga dibuang di panti asuhan oleh bibinya. Disana juga Ceasy mendapat perlakuan buruk, tiap kali ia merasakan sakit dan trauma, saat itu ia masih berusia kira-kira 9 tahun.


-_-_-


"Lalu Kak Ais datang dan merubah segalanya, dia merubah kehidupanku, nasibku, dan kesedihanku akan kehilangan sosok orang tua. Dengan mudah dan senangnya Mama sama Abi menyambutku saat itu, aku masuk ke agama kalian, belajar sesuai adat Jogja, aku bahagia sekali," Tutur Ceasy.


"Dan lagi, aku mendapatkan dua Kakak seperti Abang Akbar dan Kak Syakir, mereka sangat menyayangiku waktu itu, belum mengenal Kak Kabir tapi. Aku sering main dengan Kak Jamil, dia yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, karena Kak Syakir harus sering kembali ke Kairo, dan Abang harus kembali ke Jepang, sampai akhirnya Kak Kabir pulang, datang di kehidupanku," Sambung Ceasy.


Sambil makan, Kabir mendengarkan celotehan Ceasy, ia juga menikmati makanan yang Ceasy masak. Tiba-tiba Kabir menggenggam tangan Ceasy dengan erat, tersenyum untuk kesekian kalinya hari itu.

__ADS_1


"Semoga akan ada pelangi setelah badai yang menerpamu ya Ceas, Insya Allah," Kata Kabir membelai wajah Ceasy.


"Pelangi itu sudah ada di depanku, untuk apa aku mendambakan pelangi lain lagi, aku sangat bahagia bisa menikah dengan orang yang sangat aku cintai" Kata Ceasy menggenggam kembali tangan Kabir.


"Aku boleh memelukmu?" Tanya Ceasy.


"Boleh dong" Jawab Kabir merentangkan tangannya.


Rasa nyaman, bahagia, haru juga menjadi satu. Ini yang Ceasy dambakan, kasih sayang dari Kabir, senyuman darinya juga, itu sudah lebih dari cukup untuk Ceasy.


"Terus kapan kita punya baby?" Tanya Ceasy.


Mata Kabir terbuka lebar, ia terkejut mendengar kata 'baby' tersebut. Kabir langsung melepaskan pelukan Ceasy, terdiam sebentar dan membuat Ceasy bingung, lalu mendorong roda kursinya menuju ke kamar.


Melihat kegugupan Kabir, Ceasy malah tertawa, ia berusaha menghentikan Kabir dan membantunya masuk kekamar mengantarnya istirahat.


"Stop! Kenapa Kak Kabir kabur saat aku minta anak? Kan nggak ada salahnya, kita suami istri bukan, memiliki anak itu kan wajar" Kata Ceasy sambil mendorong kursi roda Kabir.


"Belum waktunya" Jawab Kabir singkat.


"Lah, terus kapan dong? Kan aku udah siap, Kao Kabir juga sudah seharusnya punya bayi kan?" Tanya Ceasy.


"Kamu masih harus mengejar pendidikanmu Ceasy, lagian kita baru menikah selama empat bulan. Itu belum lama" Kata Kabir.


"Gitu ih!" Kesal Ceasy.


"Mulai?" Kata Kabir.


Dari cemberut menjadi senyum, Ceasy berusaha untuk bersikap lebih bijak dan dewasa lagi dalam segala hal. Ia tidak ingin mengecewakan Kabir untuk kesekian kalinya lagi, karena ia benar-benar ingin menjadi seorang istri yang diharapakan Kabir, walaupun Ceasy tak mampu untuk menjadi seorang Nisa untuk Kabir.

__ADS_1


__ADS_2