
Gua dan Hamdan juga akan berusaha mengembalikan ingatan Kabir. Sedangkan Kabir, ia kembali ke Kabir yang cerita, seperti sebelum meninggalnya Nisa.
Saat itu, ia ditemani Hamdan sedang bermain di ruang inapnya, ini kesempatan yang bagus untuk mengingatkan ingatan Kabir kembali. Hamdan memberikan foto dirinya ketika bayi.
"Ayah, ingat foto ini nggak?" tanya Hamdan menggunakan bahasa Korea.
"Amm kamu ngomong apa ya? Om mana faham? " tanya Kabir bingung.
Ingatan bahasa Korea Kabir juga hilang, berbeda dengan Gu yang sudah menguasai kosa kata Indonesia, Hamdan masih belum bisa lancar berbahasa Indonesia. Dengan caranya sendiri, Hamdan mengingatkan kembali ingatan Kabir dengan membaca surah yang sering Hamdan lantunkan ke telinga Kabir.
Mendengar lantunan Hamdan, tiba-tiba kepala Kabir menjadi pusing, ia ingat sesuatu, tapi belum bisa mengingatnya kembali. Hamdan panik, ia langsung memanggil Ceasy dan Gu masuk. Ceasy mencoba menenangkan Kabir,
"Sebenarnya apa yang terjadi, aku masih bingung." kata Kabir mengerutkan dahinya.
"Aku, istrimu. Ini Gu, Hamdan dan si kecil yang belum kita beri nama, adalah anak-anakmu. Sedikitpun kau tak ingat dengan kami? " tanya Ceasy berharap.
__ADS_1
Kabir menatap kedua anaknya, lalu ia kembali menatap Ceasy. Tetap saja belum bisa mengingat semuanya.
"Its ok, semua akan kembali dengan semula secara perlahan. Sekarang kamu istirahat dulu ya, aku akan menelfon Kak Rifky atau Kak Syakir untuk membawa pulang anak-anak dulu, sebentar. " dengan sabar Ceasy berusaha tersenyum.
Ceasy juga harus mengurus data diri Kabir yang sudah masuk kecamatan surat kematiannya. Sementara bayi kecil itu dibawa pulang oleh Aisyah saat itu, karena kebetulan dirinya sedang libur.
Disisi lain, Jamil dan Yoona juga akan bergegas ke kampung halaman untuk menjenguk Kabir, yang saat ini masih dirumah sakit.
"Ayah benar-benar tak ingat kami? " tanya Gu.
"Emm aku, ehh bukan maksudku, eh Ayah, akan berusaha untuk ingat-ingat lagi kok, kalian bantu aku, ehh bantu Ayah yaa," tutur Kabir.
Tak lama kemudian, Syakir, Akbar dan Rifky datang, Rifky membawa pulang Gu dan Hamdan terlebih dahulu. Sementara Syakir dan Akbar masih menemani Kabir.
"Bir, kamu ndak lagi nge prank kan? " tanya Syakir mencubit pipi Kabir.
__ADS_1
"Jahat kalau kamu main prank-prankan, nggak lucu tau, aku terbang dari Jepang langsung ke sini, bawa istri dan dua anak. Segala Papa aku panggil, dia langsung ambil penerbangan dari Jakarta, awas kalau cuma prank! " kesal Akbar.
"Astaghfirullah hal'adzim, na'udzubillah himmindzalik Ya Allahu Ya Rabbi, seingat aku, aku ini lagi tertembak, bangun-bangun udah di dalam peti mati aja.! " Ucap Kabir.
"Ya kali kalian yang keterlaluan, nyumpahin aku mati! " sambungnya.
"Kamu lagi bercanda kan? “ tanya Akbar.
" Abang mah, haih, Ya Allah, lagian kalian juga udah setua ini kah? Kita baru 3 tahun nggak ketemu tau," kata Kabir dengan cengegesan.
"Gundulmu! Heh, ini tahun berapa! Kamu udah kembali saat pernikahanku sekitar 8 tahun lalu mbolll!" teriak Syakir.
"Heh, ngawur wae! Aku... aku.... Heladalah! Tahun piro saiki? " kata Kabir mengamati kalender yang ada di dinding sebelah kirinya.
Syakir dan Akbar kembali kesal karena Kabir tidak menyadari itu, tetapi mau bagaimana lagi, semua juga sudah terjadi. Melihat Kabir masih ada kesempatan untuk berkumpul bersama saja sudah sangat indah bagi seluruh keluarganya.
__ADS_1