
Hari pertama Ceasy bekerja, ia sudah sibuk sejak subuh tentang masalah baju yang akan ia kenakan. Pasti sulit berinteraksi dengan sesama rekannya karena ia berhijab. Tidak mudah bagi seorang muslimah membaur disana, bukan hanya soal makanan atau atau bagaimana, menurut seseorang jika bekerja disana mengenakan jilbab akan ribet, tetapi bukan semua orang yang menyimpulkan hal itu, banyak juga salah satu kota yang banyak orang muslim nya juga, contohnya di Itaewon, Seoul.
Selain kawasan pertokoan dan caffe, disana juga ada Masjid terbesar di Seoul, yaitu Masjid Itaewon. Masjid ini berada diatas kawasan Itaewon, sehingga dari halaman masjid, kita bisa melihat pemandangan Namsan Seoul Tower. Dan itu tidak jauh dari apartemen yang ditinggali Kabir dan Ceasy, hanya perlu naik busway dan turun di setasiun Itaewon, dan berjalan sedikit sejauh kurang lebiih 300 meter untuk menuju Masjid itu.
"Kenapa semua pakaian dikeluarin sih dari lemari? Mau pindahan bu?" Tanya Kabir keluar dari kamar mandi selesai mandi.
"Aku bingung mau pakai baju yang mana Kak, waktu kuliah aja aku susah dapat teman karena aku berhijab, bagaimana kalau kerja." kata Ceasy ragu.
"Astaghfirullah hal'adzim, kamu jangan gitu doang, kamu berhijab kan udah lama. Lagian kan juga cuma bekerja, pakai aja hijab yang simple, nanti juga lama-lama mereka akan terbiasa denganmu." Usul Kabir.
"Pakai baju warna agak gelap, kulitmu cocok jika pakai baju warna itu, apa lagi kalau warna netral seperti putih atau hitam," sambung Kabir.
__ADS_1
Karena Kabir sudah berkata seperti itu, Ceasy pun memakai baju putih saat itu, ia segera memakai bajunya dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setengah jam sebelum berangkat, Tae dan Zoe sudah menjemputnya di apartemennya, mereka.
"Pagi Kak Kabir," sapa Tae.
"Pagi juga, kalian mau berangkat bareng aku, atau kereta?" Tanya Kabir.
"Kita naik kereta aja Kak, berangkatlah dulu, iyakanbCeas, Tae?" tutur Zoe kepada Kabir.
"Kak! Tunggu....." Ucap Ceasy.
"Hati-hati ya, kalau nanti sudah mau jemput aku, kabari dulu, I Love You," Ceasy memang tidak memiliki rasa malu jika bermesraan dengan Kabir.
__ADS_1
Ceasy mencium tangan Kabir, lalu Kabir mencium kening Ceasy dengan lembut. Bahkan tersenyum manis, dan memberi semangat untuk hari pertama Ceasy bekerja. Kabir berangkat lebih awal karena ingin menemui Siska dulu di penjara, dan akan menemui pihak keluarganya juga yang tiba hari itu di Korea.
Sampai di penjara, Kabir, dan Arnold yang di temani oleh pengacara pribadi Arnold masuk ke kantor dan berdiskusi dengan keluarga Siska. Melihat kedatangan Kabir membuat orang tua Siska kaget, beberapa tahun lalu, Siska juga pernah masuk penjara dikarenakan Kabir yang menuntutnya. Karena masih dibawah umur dan masih sekolah, Siska hanya diberi sanksi dan wajib lapor selama tiga bulan saja waktu itu. Tapi sekarang, Kabir tidak ingin memberi toleransi lagi, dulu yang Siska serang adalah almarhumah Nisa, yang setutasnya baru calonnya. Sekarang berbeda, karena yang Siska serang ada istrinya.
"Assallamu'alaikum warrohmatullahi wabbarokatuh," salam Kabir.
Wa'alaikum sallam, kamu kan....?" Ayah Siska sedang mengingat wajah Kabir.
"Iya Pak, saya Kabir Al Jazeera, alumni SMA yang sama dengan Siska dahulu, dan yang melaporkan Siska masalah dengan Siti Khairunnisa, masih ingat kan?" tanya Kabir.
Orangtua Siska yang sudah mulai sepuh itu hanya menepuk jidatnya, karena ini maslah dengan sesama negara, jadi masih bisa dipertimbangkan hukuman untuk siska. Namun, sejak Siska menikah, ia sudah berpindah jiwa dari Indonesia ke Korea. Orang tua Siska sudah menyerah dan mengikuti apa yang Kabir mau, karena Siska sendiri juga sudah mengakui kesalahannya. Karena apa yang ia lakukan sudah menjadkani trauma bagi Ceasy, dan bukti kriminal yang dilakukan di tanah air juga ada, akhirnya masa hukuman bagi Siska di tambah, menjadi 15 tahun, karena percobaan pembunuhan berencana juga.
__ADS_1