
Di waktu yang bersamaan permohonan maaf Arnold untuk Ceasy, Kabir tidak sengaja bertemu Boona di jalan. Kaki Kabir yang lumayan bisa di pakai berjalan itu dipakai melangkah membeli sesuatu di salah satu kedai terdekat dari apartemennya.
"Kabir? Kabir kan?" tanya Boona terlihat bahagia.
"Boona, kamu tinggal di daerah sini juga?" tanya Kabir kembali.
"Aku baru kembali kemarin dengan suamiku, kaki kamu kenapa? Dan kamu ada disini?" Boona masih belum percaya jika ia bisa bertemu dengan Kabir.
Karena mereka masih ingin mengobrol lama, mereka mencari tempat untuk mengobrol. Tempat yang rindang di taman bermain di dekat mereka tinggal, sangatlah cocok untuk mereka ngobrol.
"Kamu bilang kamu menikah dengan Ceasy setelah pernikahanmu yang pertama? Ada apa dengan pernikahanmu yang pertama Bir?" tanya Boona.
"Namanya Nisa, dia seorang muslimah yang taat, di hari pernikahan kita, dia menghembuskan nafas terakhirnya, sebelum itu, dia ingin aku menikah dengan Ceasy terlebih dahulu," jelas Kabir.
__ADS_1
Mendengar cerita Kabir itu sudah cukup, mengerti itu cerita yang pilu, Boona tak lagi menanyakan hal yang lain, bertemu dengan Kabir saja sudah senang, apa lagi mendengar berita bahwa Ceasy juga sudah mendapatkan kebahagiaan yang ia dambakan sejak kecil.
"Terus, ini yang beruntung diantara kalian berdua siapa? Ceasy yang mendapat kebahagiaan yang belum oernah ia rasakan sejak kecil, atau kau yang beruntung mendapatkan daun muda Kabir," goda Boona.
"Ck, kau juga tau masa kecil Ceasy?" tanya Kabir.
"Hatcuuuuuuu" Ceasy bersin di Singapura sana.
"Ya tau lah, dulu nih. Dulu, yang menangani kasus Ceasy pertama kali kan aku dengan Ica, Kakakmu itu. Waktu itu, tubuhnya memprihatinkan, di siksa bibinya, di bully teman-temannya di dinas sosial. Ica saja sampai menangis waktu itu." Kata Boona.
Disisi lain, Syakir dan Balqis memanfaatkan waktu dan keadaan berduaan di apartemen milik Kabir. Bagaikan sedang berbulan madu, saat itu mereka duduk berdua di sofa yang menghadap ke jendala. Syakir memeluk dari belakang, dan Balqis bersandar di tubuh Syakir.
"Suasana nya nyaman ya Mas, coba deh kalau Aminah juga ikut, pasti dia seneng banget," tutur Balqis.
__ADS_1
"Lain kali jika datang kesini lagi, kita ajak Aminah sekalian ya," kata Syakir.
"Mas tuh beruntung banget ya, lahir di dalam keluarga yang selalu menjunjung tinggi tali persaudaraan, apa dayaku, aku hanyalah anak tunggal, dari ibu juga anak tunggal, dari ayah anak yatim piatu, nggak rame." kata Balqis.
"Kan sekarang udah rame, keponakan banyak, Kakak-kakak juga banyak, keluarga besar juga ada. Jangan di bahas lalu mah, Insya Allah, jika Allah berkendak, kamu bisa hamil lagi. Nyatanya rahimmu nggak diangkat, kenapa bohong?" tanya Syakir dengan cubitan mesara di pinggang Balqis.
Onbrolan Boona dan Kabir belum juga usai, dari kejauhan Siska melihat mereka berdua. Timbulah perasaan tidak senang dihatinya.
"Itu Kabir dengan siapa lagi, ahhh kenapa sainganku orang Korea juga sih, ganjen banget tuh cewek," Siska menggerutu.
Dihampirinya Kabir dan Boona, Siska juga membuat Kabir malu, karena tiba-tiba memeluk lengannya tanpa melihat situasi. Siapa yang tidak marah? Kabir sangat marah, istrinya baru saja keluar negri untuk belajar, kini Siska tiba-tiba datang langsung memeluk Kabir. Spontan Kabir mendorongnya, dan Siska hampir saja terjatuh.
Wajah memang terhalang ruang untuk saling menatap.Tangan terlalu sulit untuk saling berjabat.
__ADS_1
Namun,untaian kata tetap bisa tersampaikan sebagai jembatan ukhuwah di hari nan suci ini,di hari yang penuh kemenangan.
Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin🙏