Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Pertemuan itu.


__ADS_3

Disisi lain, Ceasy dan Gu ternyata baru pulang dari makam Ae Ri. Sore itu, Ceasy dibantu oleh Gu memasak untuk Tae dan sesorang yang Tae bilang ingin bertemu dengan Kabir itu.


"Memang siapa sih yang mau sama ketemu aku? Sampai repot-repot gini? " tanya Kabir.


"Entahlah Yah, mungkin orang penting. " jawab Ceasy.


"Jangan capek-capek ya sayang, kamu lagi hamil loh," kata Kabir mencium kening Ceasy.


"Ibu lagi hamil yah? Kok nggak tau aku, ihh aku akan ada adek baru ini. Seneng deh, semoga adik ku ini selalu sehat-sehat didalam sana. jangan nakal ya dek." kata Gu berbicara di perut Ceasy.


"Usianya masih 6 minggu, jadi Ibumu harus selalu jaga kesehatan. Jangan angka-angkat yang berat, dan jangan sampai kelelahan ya, aku mau mandi dulu, tamunya sudah mau datang kan?" kata Kabir.


Hati Ceasy sejak tadi berdebar-debar, ia merasa jika akan ada yang membuatnya terharu dan bahagia. Begitupun dengan Kabir, ini tidak seperti biasanya Tae membawa orang yang ingin berkenalan dengan Kabir. Bahkan, menyuruhnya untuk menyiapkan satu kamar.

__ADS_1


Waktu yang ditunggu telah tiba, semua persiapan sudah siapa semua. Bahkan Ceasy juga sudah siap memeberi kejutan untuk Tae tentang kehamilan keduanya.


Bel berbunyi, Tae sudah datang. Zoe tidak bisa datang karena ia sedang sibuk menyiapkan pernikahan nya. Begitupun dengan Jamil dan Yoona yang sedang pulang ke Jogja untuk rembug tuo dengan kedua belah keluarga.


"Hai Tae, sudah tiga hari ini nggak ada kabar, kemana saja sih?" tanya Ceasy sambil cium pipi kanan dan pipi kiri.


"Aku banyak lembur Ceasy, hufft baru bisa sempat ketemu, maaf ya. Hai boy, tambah ganteng aja beberapa hari tidak bertemu." Tae mengusap-usap kepala Gu yang sekarang lebih tinggi darinya.


Kabir juga menyambut Tae dengan hangat. Ini saatnya membawa masuk Arnold dan Hamdan ke dalam. Tae memanggil Arnold dan Hamdan, sengaja tidak di sebut nama Hamdan, agar Ceasy dan Kabir mengenalinya sendiri.


"Kak Arnold?" kata Ceasy.


Arnold menyalami Kabir dan Ceasy, ia juga memperkenalkan Hamdan dengan Kabir dan Ceasy. Walaupun hanya bertemu 1 bulan, tetapi Ceasy yang mengandung dan melahirkannya. Ikatan batin seorang anak dengan ibunya tidak bisa dipungkiri lagi.

__ADS_1


"Dia keponakanku, usianya 7tahun, tahun ini. Jadi masih kurang kalau disebut 7 tahun hehe." kata Arnold.


Kabir dan Ceasy berjongkok dan menatap Hamdan, merasa tidak asing, mereka berdua terus menatap Hamdan. Tiba-tiba air mata Kabir menetes, Kabir menyentuh pipi Hamdan dengan lembut.


"Kenapa kamu mirip dengan istriku? Sekilas kau juga mirip dengan Kakakku yang di Jogja?" Kabir mulai menyadari.


"Dia keponakanmu dari mana Arnold? Dia tak mirip denganmu walaupun Tae, harusnya jika masih family harus sekilas mirip." tanya Kabir.


"Hamdan?" kata Ceasy dengan suara bergetar.


"Hamdan?" Kabir kaget ketika Ceasy memanggil nama Hamdan, ia langsung memutar badan Hamdan, Kabir ingat sekali jika baby Hamdan memiliki tanda lahir warna merah di punggungnya.


Tanda lahir itu masih ada, tetapi sudah mulai memudar, kemungkinan karena tubuh Hamdan mulai tumbuh. Kabir dan Ceasy menyentuh tanda lahir itu, seperti ada aliran listrik yang menyengat. Apa lagi mendengar Hamdan memanggil mereka, Hamdan membalikkan badannya, air mata Hamdan sudah tidak bisa ditahan lagi.

__ADS_1


"Assallam...... " sebelum Hamdan meneruskan salamnya, Ceasy langsung memeluk Hamdan.


Suana itu, membuat malam itu menjadi haru. Terbayar sudah penantian Kabir dan Ceasy, Hamdan kembali dengan keadaan sehat dan wal'afiat. Terutama, bangga kepada Arnold, karena dia tetap mengajari agama yang dibawa Hamdan sejak lahir dengan semampunya. Ceasy juga menarik Gu, agar ia juga memeluk adik kecilnya yang hilang itu.


__ADS_2