Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Paket 2


__ADS_3

Karena semua sudah jelas, hari itu juga Kabir meminta Ceasy untuk membuka paket yang dikirim oleh Leah. Ya seperti biasa, beberapa baju untuk Kabir dan Ceasy dan beberapa barang pribadi, tentunya dengan sepucuk surat.


"Nih!" Kata Ceasy memberika surat untuk Kabir.


"Jaman modern pakai surat hahaha, Mama ada-ada saja deh" Kata Kabir.


"Assallamu'alaikum anak-anak Mama, hehehe maaf pakai surat, Abimu beberapa hari ini agak nggak enak badan, jadi Mama kecapekan ngurusnya, tapi nggak papa, ladang pahala Mama. Oh ya, kapan kalian punya anak, Mama pengen lihat anak sipit dari kalian, bibit dari ibunya kan udah unggul hahaha, cepat jadiin dong bayinya. Masa kalian belum punya anak sendiri, yang lain udah double tuh, Si Akbar udah ada dua, cepet yaa. Wassallamu'alaikum"


"Tuh kan Mama minta anak, ayo bikin!" Teriak Ceasy.


Kabir menatap Ceasy dengan mata yang di sipit-sipitkan, mengode Ceasy agar mengingat kenapa alasan Kabir menunda untuk Ceasy mendapat momongan dini.


"Ah iya, jangan menatapku seperti itu Kang Mas hehehe aku lulusin kuliahku dulu, iya, iya, iya" Kata Ceasy dengan cengar-cengir.


"Udah gini doang pakai surat? Aku telfon aja deh," Kata Kabir berusaha sambil meraih ponselnya.


"Jangan lah Kak, pasti ada alasan tersendiri kenapa Mama nggak telfon kita, apa lagi kaki Kak Kabir baru kemalangan, pasti Mama sedih, mau kesini aja repot lah" Kata Ceasy menggenggam tangan Kabir.


Kali ini Kabir bisa melihat wajah Ceasy dengan jelas, bukan maksutnya menatap seperti biasa, kali ini tatapan Kabir itu penuh arti, wajah mereka begitu dekat. Tatapi, musik dan angin kencang yang Kabir rasakan itu ambyar ketika Ceasy memanyunka bibirnya.


"Muah"


"Apaan sih, dah sana aku nggak jadi telfon," Kata Kabir gugup bercampur kesal.


"Jangan menatapku lama-lama ntar jatuh cinta jadi bucin, aku mana ada obat, karena aku sendiri juga bucin," Ceasy membelai-belai lengan Kabir.


"Itukan yang kamu mau?" Tanya Kabir.


"Wooo iya, ayo ulang tatap-tatapannya Kak, terus ciuman seperti drama Korea gitu kak. Nanti aku akan bilang gini saranghae, cheoneun tangsineul yeongwonhi saranghae, neo-opsi motsara" Kata Ceasy sambil membelai wajah Kabir.


"Mau ini?" Tanya Kabir menunjukkan kepalan tangan.

__ADS_1


Ceasy langsung menghindar dan melanjutkan membuka isi paketnya. Ternyata disana ada paket dari Ibu Jamil juga, Ceasy meminta Jamil untuk mengambil paketnya siang itu juga, karena restoran sangat padat pembeli, Jamil mengatakan malam ini akan mengambilnya.


"Gimana?" Tanya Ceasy.


"Katanya malam ini mau dia ambil, resto lagi rame" Jawab Kabir.


Setelah selesai membuka paket, Kabir menyiapkan makan siang untuk Ceasy, sedangkan Ceasy sedang mandi saat itu, tiba-tiba terdengar Ceasy sedang terjatuh di depan kamar mandi.


"Aduhh, Astaghfirullah hal-adzim, siapa sih yang naruh nih keset welcome disini ah, kpelset to akune, oh lali aku nding Yang menaruh keset itu, aku ganti aja nanti," Kesal Ceasy.


"Ada apa Ceas?" Tanya Kabir susah payah berlari cepat dengan pincang-pincang.


"Astaghfirullah hal'adzim." Ucap Kabir.


Kabir kaget melihat Ceasy yang hanya memakai handuk, ia langsung membalikkan badannya. Karena Kabir sempat melihat apa yang seharusnya ia tidak lihat. "imajinasi"....


"Maaf, bisa bantu aku berdiri nggak Kak, pingulku sakit banget, keknya kakinya kesleo deh, tolong," Pinta Ceasy dengan suara manja.


"Benar, kita sudah sah menjadi istri, aku nggak boleh egois, beri hati kesempatan membiasakan diri untuk hal ini, dia istrimu! Kau akan berdosa jika terus saja bersikap seperti ini" Kata Kabir dengan hatinya sendiri.


Dengan susah payah berjalan, Kabir masuk ke kamar dan membantu Ceasy berdiri, memapahnya ke temoat tidur dan mengambilkannya baju ganti.


-_-_-_


Kecanggungan itu berakhir saat Kabir juga selesai memijat pinggul Ceasy, sentuhan Kabir ke pinggul Ceasy membuat jantung Ceasy berdebar, seperti ada listrik yang mengalir di jantungnya, begitupun dengan Kabir. Karena, mereka memang bersentuhan langsung dengan kulit, handuk nya hanya menutupi bagian depan saja, tidak dengan bagian belakang.


"Ceasy, apakah semua orang Korea seputih dan selembut kulitnya?" Tanya Kabir.


"Ha?"


"Astaghfirullah hal'adzim, maaf, setan yang ada di hatiku nakal," Kata Kabir gugup.

__ADS_1


"Buat apa gugup, semua yang ada pada diriku ya milikmu Kak, kau boleh menyetuh bagian lain, tidak berdosa jika kau menyentuhku, tetapi, kau akan berdosa jika tidak memberiku nafkah batin itu" Kata Ceasy.


Pijatan Kabir terhenti, tangannya ia majukan sampai memeluk perut Ceasy, sekarang yang ada malah Ceasy yang gugup, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka jika tangan Kabir akan menyentuh perutnya.


Belum juga mengontrol kegugupannya, Kabir meletakkan kepalanya di bahu Ceasy dari belakang, membuat perasaan Ceasy tidak karuan.


"Maaf kan aku ya Ceasy, tak seharusnya aku begitu padamu, mau kah kau memberiku kesempatan?" Bisik Kabir.


Nafas Kabir di telingan Ceasy membuatnya sangat kepanasan, ia tak lagi bisa mengontrol kegugupannya, seluruh tubuhnya menjadi panas. Ceasy langsung melepas tangan Kabir yang berada di perutnya, lalu berbalik memeluk Kabir dengan sangat erat.


"Ceasy, kamu nggak berbusana sama sekali, aku jadi ngga........"Kata l-kata Kabir terhenti disaat ia melihat dirinya dan Ceasy berpelukan di cermin besar tepat di depan tempat tidur.


"Aku ingin begini saja sebentar Kak. Ini yang aku inginkan, kehangatan sari hatimu, aku sangat memcintaimu" Kata Ceasy menambah erat pelukannya.


Melihat Ceasy yang terbuka di baguan punggungnya, Kabir menarik selimut dan menutupinya, ia juga membalas pelukan Ceasy siang hari itu. Sampai pada akhir ya sang pengacau itu datang.


"Assallamu'alaikum, Kabir, Ceasy, kalian tidurkah?" Teriak Jamil.


"Jamil, ah Ceasy, kamu segera pakai bajumu Ok! Aku yang akan keluar menemui Jamil." Kata Kabir langsung melepas pelukannya.


"Ck, Kak Jamil ini, sebentar lagi tuh udah mau bikin anak, malah dia muncul, nggak jadi kan akhirnya," Kesal Ceasy.


Menunggu Ceasy berpakaian, Kabir keluar dari kamar dan menemui Jamil, ternyata Jamil juga membawakan makanan untuk mereka berdua.


"Dikamar mulu deh ah, mana paket dari Ibuk? Jangan mentang-mentang udah baikan, terus di kamar mulu, fikirin ruh kaki" Kata Jamil tak melihat situasi.


"Brisik lu, kebetulan kamu kesini, siapin makanan gih bawa kemari, aku mau makan sambil nonton tv" Kata Kabir.


"Iyo,iyo. Ceasy kemana?" Tanya Jamil.


"Sedang mandi katanya tadi, resto gimana? Lancar kan?" Tanya Kabir mengalihkan jantungnya yang masih bersebar-debar.

__ADS_1


Kedatangan Jamil mungkin menyebalkan bagi Ceasy, tapi menguntungkan untuk Kabir, karena dirinya hampir saja kebablabasan di siang hari itu. Karena memang ia akan melakukan itu di malam hari, setelah kakinya sembuh.


__ADS_2