
Pagi hari, Kabir sudah menunggu Ceasy bangun di sampingnya. Ceasy mencoba mengingat semua yang terjadi semalam, dan memberikan senyuman kepada Kabir.
"Assallamualaikum Kang Mas, hehehe kok mentari udah nongol ya, aku jadi ndak subuhan hehehe" Kata Ceasy cengegesan.
Dengan melipat tangannya, melirik Ceasy, Kabir pun memasang wajah masam kepada Ceasy.
"Emm permisi, apa yang terjadi semalam? Bukanya kita sedang mamam-mamam di restoran ya Kang?" Tanya Ceasy.
"Kamu yakin nggak ingat semuannya semalam?" Tanya Kabir mendekatkan wajahnya ke wajah Ceasy.
Ceasy menggelengkan kepalanya, karena ia benar-benar tidak ingat dengan apa yang telah ia lakukan semalam. Karena pagi itu juga, Kabir mendapat informasi jika minuman Ceasy terdapat alkoho sedikit, kemungkinan setelah memberi serbuk itu, Siska lalu menambahkan alkohol didalamnya.
"Yakin?" Tanya Kabir lagi.
"Emang nya kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Ceasy kembali.
"Kamu mau tau?" Kata Kabir.
"Katakan Kang" Kata Ceasy.
"Kamu jangan menyesal lhoh ya, kamu memperkosaku semalam Ceasy, dan itu....mmm hmm nggak mungkin aku ceritakan lah" Goda Kabir.
"Wah, yang bener saja Kang? Berarti aku udah nggak perawan lagi dong aaaaaa nggak mau, masa aku pecah perawan nggak ngrasain sih keperjakaannya Kang Kabir" Rengek Ceasy.
"Kamu emang pikirannya kotor sih, udah sana buruan mandi, kuliah kan hari ini? Dan itu, bahasa barumu itu, lanjutkan aku suka" Kata Kabir mengusap-usap rambut Ceasy.
"Kang, aku malu udah perjakain Kakang, tapi aku pengen rasan (ngrasain) lagi boleh ndak?" Tanya Ceasy.
"Mandi dulu, otakmu perlu di cuci mesum! Aku tunggu di meja makan" Kata Kabir dan beranjak pergi.
Sebelumnya Kabir berasa bersalah telah membentak dan meninggalkan Ceasy sendirian di kamar, tetapi melihat Ceasy terbangun tanpa mengingat kejadian semalam, ia pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perihal semalam, yang belum ia selesaikan.
"Ternyata Ceasy ndak ingat, yo wis lah, boarlah ini jadi rahasia saja, kasihan juga dia" Gumam Kabir.
Dikamar mandi, Ceasy selalu menyentuh bagian sensitivnya, ia tidak merasakan ada sesuatu disana. Bahkan berkali-kali mengeceknya juga tidak menemukan hal yang janggal.
"Aku masa iya perjakain Kak Kabis sih? Kok ndak sakit atau apa gitu ya, Kata Mama kalau pertama melakukan sakit, bahkan sakitnya semalamannya aja belum tentu langsung ilang, dan di komik-komik juga katanya akan ada bekas merah-merah, mana ada?" Kata Ceasy masih bingung.
__ADS_1
Setelah berbagai ingatan ia berusaha ingat, sampai selesai mandi, berpakaian, dandan dan hasilnya pun tetap nihil, Ceasy pun keluar dari kamar dan kearah meja makan, sarapan bersama Kabir.
"Lama banget sih, aku kan mau ke resto juga, Jamil sudah ada disana soalnya" Kata Kabir sambil mengambilkan Ceasy sarapan.
"Aku masih bingung Kang, kalau kita melakukan itu, kok aku ndak merasakan sakit ya?" Tanya Ceasy.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa masih bahas itu sih Ceasy, makan cepat!" Kata Kabir mencubit pipi Ceasy.
"Aw, sakit Kang, tapi beneran loh ini, coba deh kita ulang sekali lagi" Pernayataan Ceasy membuat Kabir tersedak.
"Uhuk, huk, kamu ngomong apa sih Ces? Pagi-pagi dah ngomongin seperti itu, makan cepat, teris kita berangkat" Kata Kabir.
"Ya kan kita harus ulangi lagi Kang" Kata Ceasy.
"Kapan-kapan aja" Jawab Kabir.
"Kenapa? Ayolah" Ajak Ceasy.
-_-_-
Seperti biasa, Kabir mengantar Ceasy ke kampus sebelum ia berangkat ke resto. Di sebrang jalan, Arnold melihat kebersamaan Kabir dan Ceasy, cintanya sudah sangat buta keoada Ceasy, hingga ia rela melakukan apapun demi mendapatkan cinta Ceasy.
"Kak, ada apa?" Tanya Tae.
"Emm kamu ada rahasia tentang Ceasy nggak? Yang lebih intim gitu" Tanya Arnold.
"Maksut kamu apa sih?" Tae mengerutkan alisnya.
"Tahi lalat ata tanda lahir gitu hehehe" Kata Arnold.
"Ya buat apa?" Tanya Tae semakin heran.
Alasan Arnold ingin mengetahui itu adalah, ia berpura-pura untuk memberi sesuatu untuk Ceasy, dengan rasa percaya, Tae pun menceritakan hal yang akan membuat petaka bagi rumah tangga Ceasy dan Kabir.
Setelah mengantar Ceasy, Kabir langsung melaju mobilnya menuju resto, ia juga mengendarai mobilnya dengan cepat, karena Jamil dan Yoona sudah menunggunya di sana.
"Pagi Ceasy" Sapa Arnold.
__ADS_1
"Pagi juga Kak, hey Tae" Ceasy melambaikan tangannya.
Kata-kata rahasia yang Tae ucapkan terngiang di ingatan Arnold, ia sudah tidak mampu menahan rasa cintanya lagi, rasa cinta itu sudah tidak seperti rasa cinta pada umumnya, Arnold semakin tidak terkendali, ia hanya ingin memiliki Ceasy seutuhnya.
"Ceasy, ada hal yang ingin aku berikan padamu, tolong dibaca ya, dan iya semangat belajar" Kata Arnold, ia memberikan secarik kertas, disana ia ingin mengatakan ada sesuatu yang harus ia katakan penting.
"Temui aku setelah belajarmu selesai di tangga lantai 3, aku tunggu ya penting! Tapi jangan ajak Tae, Ok!" Isi secarik kertas itu.
Dengan tanpa curiga, Ceasy mengiyakan ajakan Arnold tersebut. Karena Arnold tidak ingin Ceasy mengajak Tae, ia pun menyembunyikan kertas itu, lalu mengajak Tae segera masuk ke kelas.
Di resto, Kabir tiba sebelum Yoona tiba disana. Sedangkan Jamil sudah menunggunya sangat lama, pagi itu Jamil meminta Kabir untuk membawakan baju untuknya, karena semalam ia menginap di resto.
"Assallamualaikum, Yoona mana? Belum datang?" Tanya Kabir sambil memberikan kresek untuk Jamil.
"Kalau memang nggak terlihat ya pasti belum datang dong" Kata Jamil menerima kresek itu dengan sangat sinis.
"Apaa sih, mandi sono! Bau tau!" Kata Kabir mendorong Jamil.
"Kak Kabir, aku kangen!" Pesan dari Ceasy
Kabir hanya tersenyum melihat isi pesan dari Ceasy. Menikmati sejuknya pagi hari saat itu, lamunan Kabir terhenti karena kedatangan Yoona.
"Assallamu'alaikum!" Salam Yoona.
"Wa'alaikum sallam, baru datang? Udah jam berapa ini? Sebentar lagi udah mau berangkat kita ini, resto cabang akan buka sebentar lagi" Kesal Jamil.
"Sorry, gimana hubunganmu dengan Ceasy?" Tanya Yoona.
"Biasa aja" Jawab Kabir.
"Jangan gitu lah bir. Beri si Ceasy tu belaianmu, pelukaanmu kehangatan ranjangmu, beri dia nafkah batin juga lah" Kata Yoona.
"Sok tau kamu, kamu sendiri saja masih jomblo" Kata Kabir.
"Kabir, dia istrimu, wanita mana yang tidak sakit jika dirinya tak pernah di nafkahi batin Kabir. Hidup berkeluarga itu nggak harus dengan modal uang saja, tapi dengan cinta dan kasih sayang juga, dewasalah Kabir" Saran Yoona.
"Ya aku menyayanginya kok, santai saja. Cuma untuk melakukan itu, aku masih butuh waktu" Kata Kabir.
__ADS_1
"Sampai kapan? Sampai Ceasy lelah menunggu? Kasihan dia, dapat yang lain baru kamu akan tahu rasanya" Kata Yoona, ia berdiri laly masuk kedapur.
Yang dikatakan Yoona ada benarnya, Kabir seharusnya juga harus memberinya nafkah batin juga. Kabir merasa tidak enak kepada Ceasy karena perlakuannya semalam, ia akan berusaha untuk menuruti apa yang Ceasy inginkan pagi tadi.