
"Mamaku pergi bersama pria lain, Papaku pergi dengan wanita lain, aku ditinggal begitu saja, dan sekarang, Ibumu bilang aku nggak pernah didik orangtua. Iya! itu benar, jangankan mendidik ku, melihatku saja mereka tidak mau, ya sudahlah... Aku mana mau menyalahkan apa yang sudah terjadi." kata Yoona.
Waktu demi waktu berlalu, semua sudah Yoona lakukan untuk merebut hati orangtua Jamil, akhirnya mereka men dapat restu dari orang tuannya.
Disisi lain, hubungan rumah tangga Kabir dan Ceasy berjalan dengan lancar, mereka bertiga hidup bahagia, bahkan kini sedang menunggu kelahiran adik Hamdan. Restoran yang Kabir kelola juga semakin pesat, bahkan telah memiliki cabang dimana-mana.
Gu dan Hamdan juga semakin akrab, mereka sudah seperti layaknya saudara kandung yang tidak pernah terpisahkan. Tetapi, ada tragedi yang memang seharusnya tidak terjadi keluarga yang bahagia itu.
Malam setelah menghadiri pesta ulang tahun Yoona di restoran, Ceasy mengalami kontraksi, Kabir segera membawa Ceasy kerumah sakit karena sudah pecah air ketuban nya terlebih dahulu.
Kabir menitipkan Gu dan Hamdan kepada Jamil dan sahabat-sahabatnya yang lain, di dalam perjalanan, kebetulan jalanan yang mereka lewati tengah macet. Dan Kabir harus segera membawa Ceasy kerumah sakit.
"Sabar ya, jalanan macet banget ini." kata Kabir.
Namun Ceasy sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi, kebetulan sekali ada seorang pengendara motor disampingnya. Kabir mencoba bernegosiasi dengan pengendara motor itu.
Setelah deal, Kabir membonceng kan Ceasy dan mobil nya ia parkir di pinggir jalan. Kabir ngebut tanpa memikirkan apapun lagi, sampai di perempatan, ia tidak melihat lampu merah dan akhirnya.....
Ciiiiiittttt.......
Bruaaaakkkk......
Kabir dan Ceasy mengalami kecelakaan, semua orang berhenti, pejalan kaki berlari menghampiri Kabir dan Ceasy yang tergeletak di tengah jalan.
"Aku lihat yang laki-laki sampai terbang, kasihan istrinya sedang mengandung, " kata seseorang saksi.
"Aku akan hubungi ambulance, kau ambil ponsel salah satu milik dari korban, telfon seseorang di panggilan terakhir. " kata seorang laki-laki.
Salah satu pejalan kaki itu mengambil ponsel yanga ada di saku Ceasy, kebetulan panggilan terakhir adalah Tae. Dan Tae masih bersama dengan Zoe mengantar Gu dan Hamdan.
"Hallo...... "
__ADS_1
Ponsel Tae langsung terjatuh, ia tidak menyangka jika Kabir dan Ceasy mengalami kecelakaan, ia menatap Gu dan Hamdan. Memberi pengertian kepada mereka dan memintanya untuk tetap tenang.
Tae dan Zoe langsung membawa Gu dan Hamdan kerumah sakit, mereka juga menghubungi, Yoona dan Jamil agar segera menyusul.
Sudah hampir 4 jam dokter belum juga keluar, semua orang panik, bahkan tangan mereka sampai bergetar karena Kabir dan Ceasy bertabrakan dengan sebuah truck.
Akhirnya Dokter keluar juga, ia memberitahu kepada yang lain, jika bayi yang di kandung Ceasy baik-baik saja, Ceasy juga hanya mengalami sedikit luka di bagian tangan dan kakinya. Sedangkan Kabir, dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan darah.
Tangisan Gu dan Hamdan pecah, untuk Gu sendiri, ia juga kehilangan orang tuannya saat kecelakaan, dan kini, ia harus kehilangan seorang Ayah juga dalam kecelakaan. Begitu juga dengan Hamdan, ia baru 7 bulan bersama dan bertemu dengan Ayah kandungnya, tetapi kini, ia harus menjadi seorang yatim.
Jamil menghubungi keluarga yang dirumah, semua juga kaget. Tidak ada firasat apapun Kabir kecelakaan dan meninggal dunia. Pihak keluarga akan menjemput jenazah Kabir esok hari.
Jam 4 pagi, Ceasy terbangun. Sebelum itu ia bermimpi bertemu dengan Kabir yang memakai baju koko putih dan tersenyum, disampingnya juga ada Nisa.
"Mas, Kak Nisa? Kalian mau kemana? Kenapa baju kalian rapi sekali? " tanya Ceasy bingung.
"Ceasy, aku akan mengajak Kabir bersamaku, jaga putrimu dan kedua putramu baik-baik ya, kami akan menunggumu di ujung sungai itu." kata Nisa.
"Jangan! Mas, Mas jangan pergi, jangan tinggalin aku, aku nggak mau sendirian, anak-anak masih butuh kamu mas." teriak Ceasy.
"Jangan! “ teriak Ceasy.
Ceasy bingung, saat dia membuka mata, ada Leah dan Aisyah di sampingnya. Mata mereka sembab, di tangan Rifky juga ada seorang bayi kecil. Rifky mendekat kepadanya.
" Putrimu, cantik sekali.... " kata Rifky, dengan nada tertahan.
"Kalian semua ada disini? Dimana Mas Kabir?" tanya Ceasy dengan mata mencari-cari.
Leah dan Aisyah hanya saling menatap, setelah itu, Gu dan Hamdan masuk keruangan itu, mereka memeluk Ceasy dan saling menguatkan satu sama lain.
"Kalian kenapa menangis? Kenapa? Dimana Ayah kalian?" tanya Ceasy bingung.
__ADS_1
"Ikhlaskan dia ya Bu, Ayah sudah bertemu dengan Appa dan Amma ku di syurga." kata Gu dengan derai air mata.
Ceasy masih bingung dengan ucapan Gu, ia kembali bertanya kepada Hamdan, karena mungkin Hamdan tidak akan bercanda seperti itu.
"Hamdan bilang sama Ibu nak, di mana Ayahmu? Dimana dia? Dia tadi bersama Ibu, dan kami bertabrakan dengan truck, Ayahmu gak papa kan? " kata Ceasy mengguncang tubuh Hamdan.
"Innalillahi Wainna Illahi roji'un, Ayah sudah pergi, dipanggil oleh Allah Bu, kita harus ikhlas, ia masih di ruang jenazah, masih diurus dengan Kakung." jawab Hamdan dengan halus.
Ceasy melepaskan tubuh Hamdan, tatapan matanya kosong, ia juga tidak berkata apapun, hampir saja putri bungsunya jatuh, beruntung Aisyah sigap menangkapnya.
"Ibu, Ibu istighfar Bu, Ibu! " kata Hamdan.
"Ibu, Ya Allah, Uti, Bu Dhe, ada apa dengan Ibu?" kata Gu panik.
"Ceasy, nak Ceasy sadar. Rifky tolong panggil dokter cepat! " Leah juga mulai panik.
"Iya Ma,"
"Buat apa? Bahkan jika aku sehat, suamiku tidak akan kembali lagi kan? Dia jahat sama aku, dia jahat sama aku Ma, Kak, dia nggak pernah cinta sama aku!" kata Ceasy meneteskan air matanya.
"Aisyah bawa anak-anak keluar." pinta Leah.
Aisyah langsung membawa Gu dan Hamdan, serta bayi kecil yang di gendongnya keluar. Disana juga ada Yoona, Jamil, Tae dan Zoe yang masih menunggunya.
"Ceasy istighfar nak. Astaghfirullah hal'adzim, kamu harus sabar, harus kuat demi anak-anak kamu.“ kata Leah mencoba menenangkan Ceasy.
" Ma, dia nggak pernah sayang sama aku, dia ninggalin aku bersama Kak Nisa. Aku lihat dia berjalan sama Kak Nisa, aku benci sama Mas Kabir, aku benci dia, kenapa dia nggak pernah mencintai aku, dia nggak sayang aku, makanya dia pergi ninggalin aku dengan anak-anak hah!" teriak Ceasy.
Leah memeluk Ceasy yang saat itu ingin turun dari tempat tidur pasien. Leah semakin kewalahan menahan tubuh Ceasy yang memang kini lebih besar darinya.
Dokter dan para suster masuk dan menyuntikkan obat penenang. Ceasy mulai tenang, lalu di rebahkan lagi di tempat itu. Airy matanya tak henti-hentinya mengalir. Bukan hanya Ceasy yang kehilangan dan berduka, seluruh keluarga juga berduka atas kepergian Kabir.
__ADS_1
Moment indah bersama Kabir memang jarang sekali Ceasy rasakan, tapi ia sangat mencintai Kabir. Bahkan, anak kedua itu juga Kabir yang sangat menginginkannya. Ceasy masih tidak. bisa menerima kenyataan itu, kenyataan jika Kabir telah pergi sejauh mungkin darinya.