
Jenazah Kabir sudah mau di bawa pulang, begitu juga dengan Ceasy dan ketiga anaknya. Mereka juga akan ikut pulang bersama dengan jenazah Kabir.
Nampak semua sudah menyambut kepulangan mereka, Syakir, Akbar dan pasangan masing-masing juga ada disana. Bahkan Airy dan Adam juga masih ada disana, hanya Raihan yang tidak terlihat, karena ia sudah berangkat ke Kairo malam sebelum Kabir kecelakaan malam itu.
Semua tiba di pesantren pukul 7, ketika jenazah hendak di mandikan, peti itu bergoyang-goyang dan bergetar, ada suara teriakan minta tolong. (cuma di novel ada mati suri selama itu).
Semua orang yang hendak melayat langsung lari semua, bahkan sampai ada yang terjatuh, sarung melorot dan sandalnya melayang tinggi. Berbeda dengan para santri dan keluarga Kabir, mereka mendekat ke peti dan membukanya.
Mata Kabir terbuka, ia memerlukan udara yang cukup banyak, itu sebabnya ia membuka mulutnya juga. Kaki yang luka robek mulai pendarahan lagi, Leah kaget, menangis, ia segera memanggil Aisyah, Sandy, Akbar dan Keny.
"Kalian cepat kemari! Kabir! " teriak Leah panik.
__ADS_1
Para Dokter itu segera mendekat ke peti, mereka langsung memberikan pertolongan pertama, sebagai pensiunan Dokter Jantung, Sandy maju terlebih dahulu, baru Akbar dan Aisyah, Keny juga ambil peran dalam memberi perawatan.
"Dia masih bisa bertahan, kita harus segera membawanya kerumah sakit, dia butuh alat dari rumah sakit." kata Sandy.
"Segera ku ambil mobil," kata Keny.
Ceasy menangis haru, bukan hanya dirinya. Gu dan Hamdan juga mengucap syukur jika memang Kabir kembali selamat. Jalan menuju rumah sakit tidak lah jauh, Keny mengemudi dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di rumah sakit, Kabir langsung diberi penanganan khusus. Semua orang panik, bersyukur juga yang mereka panjatkan. Sebelum ini, saat Kabir berjalan dengan Nisa dijalan yang lurus, mereka memasuki suatu pohon besar, dimana Kabir tidak bisa masuk, sedangkan Nisa bisa.
" Kembalilah, aku yakin jika putri kecilmu juga ingin di gendong dengamu, aku bisa menunggumu lebih lama disini." kata Nisa melambaikan tangannya.
__ADS_1
Kabir tersadar kembali, Dokter bilang, kemungkinan memori di otaknya akan sedikit hilang, benar saja. Kabir merasa bahwa dirinya masih ada di lapangan saat ia menjadi Abdi negara.
"Pasien sudah sadar, butuh donor darah yang sedikit agak banyak. Mohon untuk keluarganya periksa dulu untuk mendonorkan darahnya, ini mukjizat dari Allah SWT, kita harus patut bersujud syukur atas kuasanya." Ucap Dokter.
Bukan hanya Leha atau Ceasy saja yang sujud syukur, seluruh keluarga dan para santri juga bersujud syukur atas kembalinya Kabir. Sudah dua hari Kabir di rumah sakit, hari ini ia sudah mulai membaik, ia bisa mengingat beberapa ingatan yang kecil.
"Ceasy? Kamu Ceasy? Kenapa kamu sudah besar gini?" tanya Kabir terbangun dari tidurnya.
"Mas Kabir nggak ingat masa-masa kita? " tanya Ceasy.
"Ingat apa ya? " tanya Kabir dengan mengerutkan alisnya.
__ADS_1
Ingatan Kabir hanya sampai saat dirinya tertembak saat latihan. Di cerita Suara Hati, seharusnya Kabir sudah datang setelah tiga tahun berpisah dengan Ceasy, dan Kabir pulang lebih lambat, saat itu ia sedang pemulihan karena tertembak. Ingatan Kabir ada disana, dengan seperti itu, Kabir tidak akan ingat dengan anak-anaknya dan masa-masa indah saat hidup di Korea dengan Ceasy.
Apakah Ceasy akan sabar mengembalikan ingatan Kabir yang hilang? jangan lupa terus dukung authornya ya kakak kakak. Jangan lupa juga rate, like dan komentar nya