Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Gu


__ADS_3

Di sisi lain, Gu ini sering jadi bahan bullying di asrama mau pun sekolahnya. Karena teman-temannya sering mengatakan ia berbeda dengan yang lain. Bukan masalah dari keluarga mana, dan memiliki status apa. Melainkan, agama Gub yang selalu di jadikan bahan untuk membully.


Tidak semua temannya membully, sebagian temannya acuh tak acuh, tetapi ada juga yang mau berteman dengannya, dengan tulus. Semua orang seling mempertanyakan, olahraga jenis apa yang Gu lakukan setiap 5 waktu. Bukan itu saja, bahkan Gu juga sering dikatakan brisik saat dirinya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tapi dengan begitu, tidak bisa membuat hati Gu kecil hati. Ia malah bisa sering menghatamkan Al-Qur'an di setiap malamnya. Ia juga memulai dengan hafalannya lagi.


Malam itu, ia duduk di samping jendela. Matanya terpejam, mendengarkan ceramah yang sudah di translate kedalam bahasa Korea. Ia sering mendengarkan hal-hal positif di ipodnya itu. Salah satu teman sekamarnya masuk, dan mengajaknya untuk makan.


"Gu, ayo makan! Sudah waktunya makan malam." ajak temannya itu.

__ADS_1


Beruntung ada koki yang juga satu keyakinan dengan Gu, jadi ia tidak khawatir akan kehalalan dari makan itu. Ia pun keluar bersama dengan temannya. Disana, sebut saja Ha Joon, adalah sahabat satu-satunya Gu yang mau berteman dengannya. Itu sebabnya kemana-mana mereka selalu berdua. Ha Joon juga menganut keyakinan lain dari teman-temannya di asrama itu, ia beragama kan, Hindu. Karena ibunya adalah seorang Hindu, ayahnya seorang atheis.


"Gu, apa yang kau dengar tadi? Sepertinya kau sering tenang jika mendengarkan sesuatu di iPod mu itu? " tanya Ha Joon.


"Ohh, itu kajian, atau tausiyah. " jawab Gu santai.


" Hahaha itu bukan sejenis musik Ha Joon. Kau pernah mendengarkan sesorang atau di radio, atau di tempat manapun tentang Mahabarata, atau tentang Dewa? " tanya Gu kembali.

__ADS_1


"Bukan hanya pernah, saat kecil sering di ceritakan itu. Bahkan aku membawa beberapa kitab suci tentang maha dewa, tapi jarang kubaca. " tutur Ha Joon dengan suara pelan.


" Kenapa harus pelan ngomongnya? kita harus santai, kita juga tidak boleh minder dengan keyakinan kita. Seharusnya kita lebih baik dari orang yang tidak memiliki keyakinan, keyakinan itu urusan pribadi dengan individu dan Tuhannya, kita harus hargai itu. Pertahankan keyakinan kita masing-masing, dan jangan dengarkan kata orang lain. Kamu juga harus sering amalkan dong apa yang sudah orang tua kamu bawakan itu kitab sucinya. begitu juga denganku, aku juga sering membaca apa yang aku bawa yaitu, Al-Qur'an." tutur Gu.


Saat mereka asyik berbicara, tiba-tiba ada seorang lelaki seusia Gu dan Ha Joon menyiram kepala Gu menggunakan air bekas cucian piring. Dia satu sekolah kelas dengan Gu, ia juga iri dengan Gu yang terus menjadi juara di kelasnya.


Dengan sabar, Gu tetap tersenyum. Ia tetap menghabiskan makanannya dengan perlahan, sambil membersihkan kepalanya. Tetapi, anak itu malah membalikkan tempat makan Gu, lalu menendang mejanya. Gu masih bisa kontrol emosi, ia masih bisa istighfar di dalam hatinya. Ha Joon mengajak Gu ke kamar asrama, dan makan ramen saja disana. Tetapi anak nakal itu malah menarik baju Gu dan memukulnya.

__ADS_1


__ADS_2