
"Aku tidak menyangka Yeong akan melakukan itu, tau akan seperti ini, kemarin aku akan memeluknya, mendengar curahan hatinya, aku bukan teman yang baik Tae," Ceasy merasa terpukul akan itu, karena seingat dia, Yeong terakhir kali menemui Tae dan dirinya.
"Aku juga Ceasy, kata anak-anak masih ada di rumah duka. Sebaiknya kita kesana dulu, masih ada waktu jika kita izin sekarang." kata Tae menarik tangan Ceasy.
Sampai juga dirumah duka, nampak kedua orang tua Yeoang, Kakak dan Nenek nya juga ada disana. Tak ada sedikitpun wajah kesedihan di wajah mereka. Yang ada tatapan sinis saat Ceasy dan Tae datang, entah membenci atau memang tidak menyukai kehadiran mereka. Bahkan disana juga hanyalah ada beberapa orang saja.
"Kamu siapa?" tanya Kakak Yeong.
"Kami adalah teman sekampus Yeong Kak," jawab Tae sedikit gugup.
"Silahkan!" begitu juteknya Kakak Yeong itu.
Ceasy melihat wajah Yeong yang pucat, tak ada riasan wajah seoerti jenazah pada umumnya, tidak ada barang atau pakaian yang ia sukai, bahkan baju yang Yeong kenakan adalah baju yang kemarin ia pakai.
"Lihat Ceas, bajunya kan yang kemarin dia pakai, saat terakhir bertemu kita," bisik Tae.
"Nanti saja bahasnya," bisik Ceasy kembali.
Melihat tatapan keluarga Yeong yang tidak menyenangkan, Ceasy mengajak Tae untuk segera mengucapkan selamat jalan dan pamit dengan keluar Yeong.
"Selamat jalan Yeong, ketika beban dalam jiwa tak bisa teruraikan, maka hanya air mata yang menunjukkan semua. Selamat jalan sahabatku. Doa kami menyertaimu semoga Engkau selalu berada dalam surganya yang indah." bisik Ceasy.
Ceasy dan Tae menyalami keluarga Yeong dan keluar dari rumah duka. Suatu hari nanti, Ceasy dan Tae akan mengunjungi tempat perisitirahatan terakhir Yeoang.
__ADS_1
"Kau doakan Yeong sesuai dengan keyakinannya?" Tanya Tae.
"Iya lah? Masa iya secara agamaku, aku terlahir sebagai umat Kristiani dulu, aku sering mendengar kata selamat jalan itu di panti asuhan. Tapi aku sekarang, aku sudah menemukan kedamaian di dalam keyakinanku yang sekarang. Dan aku bahagia," kata Ceasy menepuk-nepuk dadanya.
"Aku juga ingin mendapat anugerah itu, aku selama ini tidak memiliki agama, walaupun aku kemana saja membawa salip ini. Tetap, aku tak pernah datangi greja, jika aku budha, aku juga tak pernah mengunjugi wihara dan membakar dupa. Akankah aku akan di benci oleh semua Tuhan di seluruh alam semesta?" tanya Tae.
"Itu tidak mungkin Tae, Tuhan selalu ada di dalam hati kita. Tuhan itu satu, hanya kita semua yang berbeda cara menyembahnya. Aku doakan agar kau segera mendapat anugerah Tae, ayo kita kembali ke kampus." Kata-kata Ceasy merasuk kedalam hati Tae.
Mereka akhirnya kembali lagi ke Kampusnya, rencana dan bekal yang akan dibawa ke Singapura sudah siap semuanya. Termasuk pembagian kelompok di acara itu. Kelompok itu terdiri dari empat mahasiswa, beruntung sekali Tae dan Ceasy bisa menjadi satu kelompok dengan para senior, ada Won dan juga Kris.
"Sudah ya, kalian besok juga akan terus bersama sampai pendidikannya selesai, sampai bertemu lagi besok di Bandara, selamat siang," kata Dekan.
"Baiklah, namamu siapa! Tulis nomormu, alamat rumahmu, dan juga temanmu ini!" tegas Won langsung pergi.
"Ishh, ada apa dengannya? Kenapa semarah itu?" tanya Tae lebih kesal.
"Nih, permisi!" kesal Tae sambil memberikan kertas itu dengan keras di dada Kris.
"Heh? Yang namanya Ceasy dia sudah menikah? Emm sayang sekali," gumam Kris nampak kecewa.
Karena Tae ada acara mendadak, mereka pun berpisah di jalan, untuk menyingkat waktu agar cepat sampai rumah, Ceasy pun memilih untuk naik kereta. Disana, tidak sengaja ia bertemu dengan Won dan seorang gadis.
Mata gadis itu nampak sembab, Ceasy yakin jika gadis itu baru saja menangis. Ceasy menjadi takut dengan Won yang tadi bersikap tegas padanya. Sesampainya dirumah, Ceasy melihat Kabir tertidur di sofa panjang di samping jendela. Ceasy juga tidak menemukan Syakir dan Balqis disana.
__ADS_1
"Assallamu'alaikum," mengucapkan sallam, lalu memengecup pipi Kabir.
"Emm, wa'alaikum sallam, sudah pulang?" Kabir pun terbangun.
Tiba-tiba Ceasy memeluk, menyandarkan kepalanya di bahu Kabir. Kabir pun membalas pelukan Ceasy itu, dan merapikan posisi duduknya.
"Ada apa ini?" Tanya Kabir.
"Kita akan terpisah dua minggu, aku sedih tau Kak. Giamana kalau aku nggak ikutan?" Alasan Ceasy.
"Boleh kok kalau kamu nggak mau ke Singapura, tapi keinginan kamu yang itu di tunda yaa, sampai kamu lulus," bisik Kabir.
"Jangan dong," kata Ceasy manja.
Kabir melepas pelukan Ceasy, membelai wajahnya dan tersenyum ramah. Membuat Ceasy semakin tidak ingin meninggalkan Kabir terlalu lama, Ceasy juga menceritakan tentang kematian temannya yang oernah usil terhadapnya.
"Yeong? Meninggal karena bunuh diri? Apa penyebabnya?" Tanya Kabir.
"Aku sih kurang tau pasti Kak, tapi semua teman bilang kalau dia itu depresi, serem ya Kak. Dia di keluarkan dari kampus gegara masalah dengan Kak Arnold itu loh Kak, kan Kak Kabir yang melaporkan, masa nggak ingat!" seru Ceasy.
"Umm, aku tidak bisa mengingat hal yang tidak penting. Pijitin aku, nanti gantian, aku lelah," kata Kabir tetap dingin.
"Lelah kenapa?"
__ADS_1
Ceasy memijat kaki Kabir dengan penuh kasih sayang. Kabir hanya ingin Ceasy segera menyelesaikan pendidikannya, dan segera pulang ke Jogja. Disana bukan tempat Kabir dan Ceasy tinggal, biarpun Ceasy lahir dan besar sampai usia sembilan tahun di Korea, tetapi ia tumbuh remaja di pesantren yang berada di Jogja.
Kabir tidak ingin Ceasy terpengaruh akan pergaulan di sana, sejauh yang Kabir tau dari Aisyah juga begitu. Tidak semua orang tidak baik, tetapi alangkah baiknya jika mereka tetap tinggal di Jogja bersama dengan keluarga.