Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Saran.


__ADS_3

Kecanggungan di diri Kabir masih berlaku, ia masih terdiam karena ciuman pagi itu, berbeda dengan Ceasy yang santai-santai saja setelah merampok habis bibir Kabir. Ketika mereka sarapan seorang kurir datang membawakan paket yang lumayan cukup besar. Paket itu dikirim oleh Leah dan beberapa dari saudara lainnya yang di kemas menjadi satu.


"Siapa Ceas?" Tanya Kabir berusaha jalan menggunakan tongkat dengan hati-hati.


"Eh Kak Kabir kok jalan sendiri sih, aku aja yang bawa paketnya kesitu" Kata Ceasy langsung lari kearah Kabir.


"Aku hanya sakit di kaki, udah ada tongkat juga. Aku bisa jalan sendiri" Kata Kabir mendorong pelan kening Ceasy menggunakan telunjukknya.


"Iya Kakek tua yang bawel, udah pakai tongkat nggak tau diri," Kesal Ceasy den mulut manyunnya.


"Teros," Kata Kabir mencubit pipi Ceasy.


"Aw sakit suamiku!" Jerit Ceasy.


"Apa istriku" Kata Kabir merangkul Ceasy.


Senyuman Ceasy nampak ceria saat itu. Ia sangat bahagia, Kabir telah berubah, bahkan seringk kali mencubit hidung, pipi dan merangkulnya, walaupun belum mengutarakan perasaannya.


Kabir meminta Ceasy untuk segera berangkat ke kampus, karena ia sudah hampir telat. Lalu menyimpan paket dari Leah ke tempat yang aman dulu, dan akan membukanya setelah Ceasy pulang.


"Awas, jangan sampai janda itu kemari loh Kak," Kata Ceasy memperingati Kabir.


"Iya sayang" Jawab Kabir santai.


"Uwu, sayaaang, bahagianya aku, aku nggak kuliah dulu ya," Kata Ceasy.


"Ya udah nggak jadi bikin anaknya!" Tegas Kabir.


"Aaa iya, iya aku berangkat. Assallamu'alaikum suamiku hehehe," Salam Ceasy manja.


"Wa'alaikum sallam istriku, semangat kuliahnya, yang pintar biar cepet lulus Ok, dadah, aku menunggumu dirumah," Kata Kabir sambil melambaikan tangannya.


Pagi itu Ceasy berangkat dengan hati gembira, Kabir tak lagi dingin padanya, bahkan ia sangat lembut dan perhatian. Tetapi, dalam hati Kabirpun itu menggelikan untuknya, karena dirinya bukan tipe lelaki romantis seperti itu. Berbeda dengan Akbar ataupun Rifky, mereka berdua sangat romantis jika bersama pasangannya masing-masing.


"Assallamu'alaikum Kabir, ada apa?" Tanya Aisyah.

__ADS_1


Mengisi kejenuhan Kabir di apartemen sendiri ia menelfon Aisyah, karena kebetulan Aisyah saat itu sedang senggang waktunya.


"Wa'alaikum sallam. Kangen, pengen telfon aja" Jawab Kabir dengan nada rendah.


"Ada apa sih Kabir, kok seperti lemas gitu? masih sakit banget ya kakinya?" Tanya Aisyah.


Tidak pernah menyimpan rahasia apapun dari Aisyah, semua adik-adiknya termasuk Seto dan Delia, jika dengan Aisyah mereka tak pernah menyembunyikan apapun juga, sekecil masalahpun mereka ceritakan.


"Lalu? Bagaiamana dengan hatimu Kabir, setidaknya berikan kessmpatan dirimu sendiri untuk bahagia, kau bisa mencintai Ceasy, hanya saja gengsimu lebih besar daripada cintamu itu" Kata Aisyah.


"Ungkapkan! Utarakan! Rasakan cintamu, nikamati berdua, mumpung kamu dianjurkan untuk istirahat, gunakan waktu ini untukmu mencoba mencintainya," Sambung Aisyah.


"Tapi soal anak?" Tanya Kabir.


"Siap atau tidaknya hanya ada pada dirimu Kabir, tidak salah seorang istri menginginkan anak. Setelah kau sembuh, dan kembali pulih, lakukan saja. Kalian coba saja, Allah yang lebih tau akan hal baik untuk kalian berdua" Kata Aisyah.


Dengan saran Aisyah, Kabir akan memulai apa yang harus ia lakukan. Ia kembali menelfon Akbar setelah menelfon Aisyah. Sebelumnya, ia menelfon Syakir dulu, karena Syakir sedang ada di Singapura bertemu dengan orangtua Balqis, akhirnya ia urungkan niatnya itu.


"Assallamu'alaikum" Salam Akbar.


"Enggak kok, ini udah istirahat, kenapa? Gimana kakimu, maaf aku belum bisa menjengukmu, aku lagi sibuk sekali ini, apa lagi kalau sudah pulang kerumah, aku disibukkan dua balita heheh maafkan Abangmu ini ya" Kata Akbar.


"Santai saja Bang, aku tau kok kesibukanmu. Cuma mau minta pendapat ini," Ujar Kabir.


"Ada apa Bir?" Tanya Akbar.


Kabir pun menceritakan tentang Ceasy yang menginginkan anak padanya. Sedangkan mereka berdua belum pernah melakukan hubungan itu sehak pernikahan mereka.


"Yang bener aja Bir! Empat bulan belum pernah melakukan itu? Kuat banget kamu menahan nafsu, Masya Allah atau Subhanallah ini?" Ledek Akbar.


"Apaan sih Bang, aku tanya serius nih ah. Astaghfirullah, dah lah aku tutup aja," Kesal Kabir, ia merasa malu dengan ledekan Abangnya itu.


"Kamu coba aja lah, tapi ingat! Saat kamu harus benar-benar pulih, dan dalam keadaan fit. Dan iya, lakukan setelah sepertiga malam, langsung mandi dan nunggu subuh, minta lah Kabir atau Ceasy junior haha" Goda Akbar.


Tut...tut... tut..

__ADS_1


Telfon langsung Kabir matikan, ia kesal dengan Akbar yang terus meledeknya. Bahkan salam saja ia ucapkan setelah telfon dimatikan.


"Apa sih Abang ini, malu kan aku. Aku belum lakukan itu karena aku belum siap lah, kalau mikirin nafsu ya udah ku lakukan sejak dulu, nggak ada akhlak dong akunya" Gerutu Kabir.


Dikampus, Arnold telah kembali. Saat itu Arnold bertemu dengan Ceasy di taman kampus, Ceasy baru saja selesai kuliah, karena masih kesal dengan Arnold, Ceasy pun menghindarinya, namun tangan Ceasy berhasil Arnold tarik, dan tidak sengaja Ceasy berada di pelukan Arnold.


"Lepaskan! Aku tidak sudi kamu sentuh!" Ketus Ceasy, berusaha melepaskan cengkraman tangan Arnold.


Ckrekk...


Suara shot kamera dari belakang bangku. Ternyata Arnold sengaja melakukan itu, untuk apa? Menjebaknya lagi? Foto itu dikirimkan kepada Kabir dengan caption "My Love"


Plakkk....


Tamparan keras melayang di pipi Arnold, Ceasy sangat marah, geram dan tidak bisa ia gambarkan lagi perasaanya kepada Arnold.


"Menjauhlah dariku!" Kata Ceasy kesal.


Diapartemenya, Kabir membuka foto yang sudah Arnold kirim, tangannya mencengkram ponselnya sangat kuat, seketika merasa sakit hati, tetapi ia sangat percaya dengan Ceasy.


Foto itu ia zoom sampai ke wajah Ceasy, ekspresi wajah Ceasy begitu sangat marah. Kabir yakin jika itu hanyalah permainan Arnold saja. Ia belum jera mengejar Ceasy, Kabir harus bertindak sebelum Arnold bertindak lebih dulu.


Tok tok tok


"Assallamu'alaikum Kak, buka Kak!" Teriak Ceasy dari luar.


Dengan tongkatnya, ia perlahan membuka pintu dan saat terbuka, tedlihat Ceasy yang saat itu sudah acak-acakan bajunya. Bahkan lututnya berdarah.


"Ceasy, lututmu kenapa? Dan sandalmu putus, bajumu kotor seperti ini, kamu jatuh?" Tanya Kabir khawatir.


"Kak, yang Kak Arnold kirim itu bukan seperti yang Kakak duga. Itu hanyalah rekayasa, aku tidak tau jika Kak Arnold akan datang tanpa rasa malu langsung menarikku Kak, aku hanya mencintaimu, percayalah padaku," Kata Ceasy dengan sangat cepat, ia juga memegang kedua tangan Kabir.


Kabir tersenyum, mengajak Ceasy untuk duduk terlebih dahulu, lalu memberinya air minum.


"Arnold memang mengirim foto, tetapi belum aku buka langsung ku hapus. Tenang saja, aku percaya padamu, kita kan suami istri, harus percaya dong. Iya kan? Sekarang kamu harus segera mandi, setelah itu kita makan siang, aku akan memasakkan kamu sesuatu," Kabir membelai pipi Ceasy dengan sangat lembut.

__ADS_1


Bukan hanya belaiannya saja, kata-kata Kabir juga sangat indah masuk di telinga Ceasy. Tidak ada hal yang perlu Ceasy khawatirkan lagi, suami yang ia idam-idamkan sudah mulai ia dapatkan.


__ADS_2