
Alrm subuh berbunyi, Ceasy segera bangun ia juga akan bergegas sholat subuh. Saat ia terbangun, Ia kaget dengan dirinya yang sudah berganti pakaian beserta dalamannya.
"Bajunya kok jadi warna kuning? Perasaan kemarin putih deh, daleman, celana panjangnya juga" Gumam Ceasy.
"Aku yang gantiin" Kata Kabir dengan suara serak, karena baru bangun tidur.
"Oohhh"
"Aaaaaaa" Terial Ceasy.
"Ada apa?" Tanya Kabir langsung terbangun.
"Aduh" Rintih Kabir karena sakit kepala.
Ceasy menutup tubuhnya menggunakan selimutnya, walaupun Kabir juga merasa malu, namun ia masih meninggikan rasa gengsinya.
"Kenapa sih? Kedinginan?" Tanya Kabir.
"Kak Kabir lihat punyaku dong" Kata Ceasy lirih.
"Iya" Jawab Kabir.
"Semuannya?" Tanya Ceasy.
"Iya" Jawab Kabir lagi.
"Termasuk atas bawah?" Tanya Ceasy lagi.
"Yang mana yang kamu maksut?" Tanya Kabir kembali.
"Aaaaaaaaa aku malu" Kata Ceasy menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala menggunakan selimut.
Karena suasana makin canggung, Kabir mengajak Ceasy untuk segera mengambil air wudhu dan sholat subuh. Setelah sholat subuh, Ceasy duduk di pojokan dinding, ia masih malu karena Kabir menggantikan pakaiannya.
"Kenapa masih disitu sih? Mau cari makan bareng nggak? Aku nggak mau cari makan sendiri" Kata Kabir, ia tetap masih berpura-pura santai, lalu mengajak Ceasy keluar, agar Ceasy tidak merasa malu lagi.
"Tapi kakiku masih sakit Kak" Kata Ceasy dengan manja.
"Ya udah, kamu tunggu disini dulu ya, aku keluar dulu, siapa tau ada yang jualan makanan, atau supermarket" Kata Kabir.
"Aku bawa mie cup" Kata Ceasy.
"Kamu tau sendiri kan? Aku nggak bisa makan mie di pagi hari, lebih baik kamu mandi dan siap-siap, hari ini kita pulang saja" Kata Kabir.
"Tapi liburan kita?" Tanya Ceasy.
__ADS_1
"Kita bisa liburan lain waktu, kakimu itu masih sakit, tubuhmu masih butuh istirahat. Assallamaulaikum, jadilah istri penurut" Kata Kabir langsung keluar kamar.
"Waalaikum salla, tunggu! Istri? Istri? Kak Kabir bilang aku ini adalah istrinya? Aaaaaaaaaaaaa" Teriak Ceasy kegirangan.
Sementara Kabir pergi makanan, kita beralih ke kisah Syakir dan Balqis, setelah beberapa bulan menikah, dua insan yang berbeda sifat dan latar belakang ini semakin harmonis saja, mereka sudah mulai mengerti satu sama lain.
Pagi hari di rumah Syakir, pagi itu Leah sengaja menjemput Aminah agar Syakir dan Balqis bisa memiliki waktu berdua, karena Leah tahu, bahwa Syakir hari ini tidak ada jadwal mengajar.
"Ma, tapi kan aku libur, masa iya Mama mau bawa Aminah sih?" Tanya Syakir.
"Suka-suka Mama, kalian habisin waktu kalian berdua saja, siapa tahu kalian tambah mesra hihihi. Assallamualaikum" Salam Leah membawa Aminah pergi.
"Waalaikum sallam"
"Emm jangan dengerin apa kata Mama ya, dia sama seperti Jamil" Kata Syakir.
"Begitu juga Mama kan Ustad? Udah selesai kan? Sini biar aku cuci piringnya" Kata Balqis.
"Ahh nggak usah, biar aku aja. Kamu beberes yang lain saja" Kata Syakir.
Ketika Balqis hendak meraih mangkuk kotor Aminah, tidak sengaja juga Syakir menyentuh tangannya, karena ia juga ingin mengambil mangkuk itu. Seperti tersengat listrik, hingga membuat jantung Syakir berdebar-debar.
"Hal ini sama yang pernah aku rasakan saat menyentuh Ika, Ya Allah, apakah aku telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, mungkinkah itu bisa?" Kata Syakir dalam hati.
Begitupupa jantung Balqis, mereka mungkin merasakan jatuh cinta, namun belum menyadari satu sama lain. Ketika Balqis berbalik arah dari dapur tak sengaja tubuhnya menabrak Syakir, untung saja Syakir tidak jadi membawa mangkuk sayurnya. Tangannya memegang tangan Balqis.
"Aku,.. aku fikir, aku mencintaimu" Kata Syakir.
Deg.. deg.... deg...
Jantung mereka berdua beradu sangat sengit, adu saling keras bunyinya. Balqis tak bisa berkata apapun lagi, ingin menangis atau tersenyum pun tidak bisa, tubuhnya sedasa terkunci sangat rapat.
"Apakah kita harus mencoba saling mencintai?" Tanya Syakir.
"Aku, aku, bingung mau jawab apa Ustad" Jawab Balqis.
-_-_-_-
Karena Kabir tudak suka Ceasy berkumpul dengan teman-temannya, Kabir pun mengajak Ceasy sarapan di kamar lalu segera pergi dari villa itu dan pulang.
"Kenapa sih kita sarapan disini? Kenapa nggak bareng yang lain?" Tanya Ceasy.
"Oh! Kamu arepe melok konco-koncomu sarapane? Monggo!" Kata Kabir dengan wajah badan di tegakkan.
"Ora-ora, karo sampean wae mas, aku sampun seneng kok, kan lope-lope. Muacch" Goda Ceasy.
__ADS_1
"Bocah! Cepat makan, setelah ininkita pulang" Kata Kabir.
"Kenapa?" Tanya Ceasy.
"Kita hanya akan liburan berdua. Kenapa? Ndak mau ya sudah, aku pulang sendirian aja, biar kamu bisa berduaan sama Afdol" Kata Kabir sambil melahap sarapannya.
"Afdol niku sinten Mas Kabir (Afdol itu siapa)" Tanya Ceasy.
"Lha iku, koprol opo afdol?" Kata Kabir.
"Afdol sopo yoo, ck Arnold Kak Kabir sayang" Jata Ceasy dengan senyuman.
"Yo iku lah" Jawab Kabir.
Menyadari Kabir sedang cemburu, Ceasy terus saja menggodanya dengan menceritakan semua kebaikan yang ada pada diri Arnold, hingga membuat Kabir cepat selesai sarapannya dan segera mengajak pergi dari villa itu.
"Aku mamamnya belum habis loh Mas Kabir" Goda Ceasy.
"Ceasy! Mau bikin aku kesal dengan menyebut nama Botol itu?" Kesal Kabir.
"Arnold, bukan botol" Kata Ceasy.
"Mau Arnold kek, botol kek, panadol kek, aku nggak peduli, yang aku ingin kamu pulang sekarang juga. Cepat beresin barang-barang kamu" Kata Kabir.
"Cie cemburu" Goda Ceasy.
"Ceasy!" Kata Kabir tambah kesal.
"Iyo"
Ceasy pun langsung membereskan semua barang-barangnya. Bahkan ia juga langsung menuruti apa kata Kabir di bandingkan dengan ajakan Tar yang sebelumnya mengajak dirinya berkeliling di taman belakang villa.
Di meja makan, Arnold, Tae, dan Yeong sedang membicarakan Kabir dan Ceasy. Arnold masih tidak percaya jika Kabir itu adalah suaminya.
"Aku masih ragu jika laki-laki itu adalah suami Ceasy" Kata Arnold.
"Apa lagi yang kamu ragukan sih kak? Jelas-jelas mereka sudah menikah, ada cincin di jari mereka, cincinnya pun warna dan bentuknya sama" Kata Yeong.
"Cincin itu tidak bisa di jadikan simbol begitu saja. Ada yang tidak beres, aku harus bertemu dengan Ceasy" Kata Arnold.
"Kak, plis, jangan gegabah. Aku akan membantumu mendapatkan Ceasy, tenang saja" Kata Tae.
"Aku tidak setuju, Kak Arnold, tolong pandanglah wanita lain juga diluar sana. Aku misalnya, aku sungguh menyuakaimu Kak" Kata Yeong.
Arnold pergi begitu saja, ia sangat marah. Karena wanita yang ia cintai selama ini ternyata sudah menikah. Saat Arnold hendak menemui Ceasy, ia berpapasan dengan Ceasy yang saat itu sudah membawa semua barang-barangnya. Sedangkan Kabir juga ada di belakamg Ceasy.
__ADS_1