Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Obat Nakal.


__ADS_3

"Rapi amat? Rep nandi (mau kemana)?" Tanya Jamil.


"Golek (cari) angin!" Jawab Kabir.


"Hehehe ikut" Kata Jamil sambil merangkul lengan Kabir.


"Udah siap Kak, ayo! Nanti kemalaman pulangnya" Ajak Ceasy, ia baru saja keluar dari kamarnya.


"Lah aku mbok tinggal dewe? Tega banget sih" Kata Jamil.


"Assallamualaikum Jamil" Salam Kabir.


"Assallamualaikum Kak Jamil, makanya jangan jomblo!" Kata Ceasy.


"Waalaikum sallam bali gawakno (pulang bawakan) oleh-oleh lho ya!" Teriak Jamil.


Melihat ada Siska di depan lift, Ceasy sengaja menggandeng lengan Kabir dengan penuh mesra. Tanpa menunggu Siska panas pun memang sejak awal Siska sudah panas.


"Bocil lu, Bir! Istrimu senewen kah? Ini di tempat umum, berjilbab tapi nggak ada akhlak" Ketus Siska.


"Ya biarin aja lah, orang cuma kita bertiga ini kan? Dia juga kan istriku, dan jangan bahas jilbab ya, itu memang sudah kewajibannya seorang wanita muslimah" Kata Kabir dengan santai.


"Cuma kita? Hello Kabir, noh ada cctv di setiap sudut. Jangan ketularan lebay istrimu deh" Kesal Siska.


Di dalam lift juga Ceasy sengaja bermesraan dengan Kabir, walaupun Kabir hanya diam saja, tetapi dia tidak menolaknya. Siska tidak terima dan berniat untuk mengikuti mereka. Sampailah Kabir dan Ceasy di resto halal salah satu kenalan Kabir disana.


Mereka juga memesan makanan yang nantinya akan disabotase oleh Siska. Siska diam-diam kedapur dan menyamar menjadi salah satu pegawai disana menggunkan masker. Lalu ia menaruh sedikit bubuk putih kedalam minuman Kabir, yang aslinya adalah milik Ceasy.


"Hahaha, setelah Kabir mabuk nanti, aku akan mencari ide lagi untuk membawanya ke apartementku. Si alay itu pasti nangis bombay nantinya, dan minta pisah dengan Kabir, setelah itu aku masuk deh dihati Kabir, gampang banget, pinter kan gue" Kata Siska dalam hati.


Setelah menunggu, akhirnya pesanan Kabir dan Ceasy datang, Siska kaget karena minuman yang ia taburi dengan serbuk putih itu ternyata milik Ceasy. Ingin menggagalkan tetapi tidak mungkin mendekati mereka.

__ADS_1


"Sial, ternyata minuman itu punya si bocil itu. Ck, susah banget sih mau dapetin Kabir aja, dulu Nisa nggak bisa gue lawan, karena dia memang di atas gue, sebaiknya gue pergi aja dari sini sebelum ketahuan" Gumam Siska.


Ceasy sangat bahagia malam itu, ia juga banyak bercerita kepada Kabir, dan kali ini Kabir mendengarkan cerita Ceasy baik-baik. Tidak seperti biasanya yang sering acuh tak acuh. Tiba-tiba Arnold dan Tae juga datang di resto itu.


"Ceasy?" Sapa Tae.


"Tae, Kak Arnold?" Sapa Ceasy kembali.


"Kak Kabir, hallo" Sapa Tae.


Kabir hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Tae, tetapi dengan Arnold, ia mempalingkam mukannya, wajahnya menjadi masam tak ada manis-manisnya. (Bayangin Zikry manyun woy).


"Kak, salamin dong, kan Kak Arnold juga mau salam" Kata Ceasy.


Karena permintaan Ceasy, akhirnya Kabir mau berjabat tangan dengan Arnold, walaupun dalam hatinya ia berkata 'Panadol iki mameh (lagi)'. Ceasy juga mengajak Tae dan Arnold duduk makam malam bersama mereka.


"Emm asyik banget deh, ramai gini kan jadinya enak makannya. Ayo Tae kamu pesan dulu" Kata Ceasy.


Tak ingin melihat Arnold tersenyum dengan Ceasy lama-lama, Kabir langsung memakan makanannya dengan cepat, bahkan minumnya juga sudah habjs dalam sekejab.


"Sabar ya Kang Mas, belum habis ini. Tumben Kak Kabir makannya cepet?" Tanya Ceasy.


"Males aja lama-lama disini, takut kemaleman" Alasan Kabir.


"Sabar ya" Jawab Ceasy menepuk-nepuk pipi Kabir.


Setelah mengobrol lama, dan memakan makanannya, Ceasy baru mau meminum minuman yang sudah ditaburi serbuk putih itu oleh Siska beberapa waktu lalu. Serbuk itu reaksinya sangat cepat, Ceasy menjadi seperti orang mabuk, obrolannya semakin melantur, bahkan ia mengatakan jika dirinya belum disentuh sama sekalo oleh Kabir.


"Kak Arnold, kamu baik banget sih. Andai saja aku belum mencintai suamiku ini hehehe, pasti aku akan jatuh cinta padamu" Kata Ceasy sambil cengegesan.


"Ceasy? Kamu baik-baik saja?" Tanya Tae.

__ADS_1


"Kau mabuk?" Timpal Arnold juga.


"Aku nggak mabuk kok, aku kan belum pernah minum, hik, minumannya setan hehehe baru saja minum jus lemon, iya kan suamiku hehehe" Kata Ceasy sambil sesegukan.


"Ceasy, kamu kenapa sih ha?" Tanya Kabir sedikit heran.


"Aku nggak papa kok, aku cuma bituh kasih sayang kamu, belaian kamu, aku juga pengen di kelonin sama kamu Kak hehe, tapi kamunya cuek sama aku, aku kan jadi sedih" Kata Ceasy memeluk Kabir dan berbicara seperti nada anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen kapas.


Dengan segera Arnold meraih grlas bekas jus Ceasy dan mencium baunya. Arnold tau bahwa ada sesuatu dalam minumannya yang membuatnya tidak bisa terkrndali, lalu dengan salah fahamnya, Arnold langsung memukul Kabir dengan keras, bahkan baju Kabir di tarik hingga sedikit robek.


"Kau menjijikkan, istrimu sendiri kau kerjai seperti ini? Obat ini? Minuman itu telah di beri obat, kau sangat menjijikkan!" Teriak Arnold.


"Apa maksutmu?" Kata Kabir membalas pukulan Arnold.


"Kak Arnold, Kak Kabir cukup, itu sudah bukan obat buat orang mabuk lagi, Ceasy sepertinya,.... emm.. itu sedang terangsang" Kata Tae malu-malu.


"Kau?" Teriak Arnold.


"Aku adalah suaminya, jika aku ingin, aku akan memakannya dirumah, bukan dengan cara murahan seperti ini. Tae aku mohon padamu, Roy! Tolong selidiki cctv mu, aku ingin penjelasan dari gelas ini" Kata Kabir kepada pemilik restoran.


Kabir membawa Ceasy pulang, memang sial mereka. Mereka pergi tidak mengendarai mobil sendiri, niat ingin jalan berdua malah harus pulang cepat karena insiden obat nakal itu. Kabir juga menelfon Yoona untuk menjemputnya, tidak mungkin meminta bantuan dengan Jamil, karena ia baru tiba kemarin malam di Korea.


"Sorry Bir, gue sama jenglot ini lagi keluar, habisnya lu ninggalin gue di apartemen ma dia, takut di lecehin ma dia ya mending gue ajak dia keluar keliling. Sorry ya," Ucap Yoona dari telfon.


"Ck, kenapa mereka malah keluar sih, ini juga Ceasy nggak bisa ngontrol juga. Ceasy jangan seperti itu dong, kenapa kancing bajunya kamu buka sih?" Kata Kabir mencoba menutupi dada Ceasy yang sudah terbuka dua kancing.


"Kak Kabir, aku gerah, gelisah, deg degan gini. Ayolah Kak Kabir, sudah empat bulan kita menikah, masa iya kita belum melakukannya juga sih" Rengek Ceasy.


"Ayolah Kak, ayo" Kata Ceasy.


Kabir berusaha sekuat tenaga membawa Ceasy pulang ke apartemen, Siska sengaja menunggu mereka dari depan pintu apartemennya, melihat sebenarnya siapa yang meminum serbuk itu.

__ADS_1


"Sial, kenapa si bocil sih yang minum. Kalau seperti ini kan jadi susah aku bergeraknya." Kesal Siska.


Dengan nafas terengah-engah, Kabir mendorong tubuh Ceasy ke sofa, lalu berusaha menyadarkannya, karena tangannya di tarik oleh Ceasy, akhirnya Kabir terjatuh dia atas tubuh Ceasy.


__ADS_2