
"Aw, sakit Kabir. Lepaskan lenganku, kamu mencengkram lenganku sangat kuat!" Rintih Siska.
"Ini belum seberapa Siska, jika kamu berani menyentuh Ceasy, aku akan mematahkan lenganmu dengan satu cengkraman saja. Asal kamu tau saja Siska, sampai sekarang pun, aku masih belum memafkanmu dengan apa yang kamu lakukan kepada Nisa!" Kata Kabir.
"Aw, sakit Kabir, lepaskan aku!" rintih Siska.
"Pergilah dari hadapanku, pergi sejauh mungkin. Agar aku tidak biasa melihat kelakuan burukmu lagi!" Kesal Kabir.
"Assallamu'alaikum!" Kabir melepaskan cengkramanya, dan pergi mencari Ceasy.
Kini, Cinta yang tumbuh dihati Siska menjadi dendam yang membara. Entah kapan Siska akan kembali merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya, walaupun itu harus menyakiti orang lain, ia tidak peduli.
Semenjak saat itu, Siska pindah dari samping unit Kabir. Bahkan tidak pernah ada kabar lagi tentangnya. Itu kabar baik bagi hubungan Kabir dan Ceasy, juga ada kabar baik lainnya dari Syakir.
Seorang wanita yang sudah di diagnosa tidak bisa hamil, kini mendapat keajaiban dari Allah. Balqis hamil, di cerita Airy, anak Balqis dan anak Ceasy Kabir belum masuk ya, karena masih ada beberapa konflik lain.
__ADS_1
Sore itu Balqis menegeluh pusing dan berkurang nafsu makan saat menemani Aminah main dengan Yusuf dirumah Aisyah.
"Alah pasti juga Aminah mau punya adek baru," jawab Airy sambil merakit-rakit mainannya.
"Coba deh sini aku priksa," kata Aisyah memegang telapak tangan Balqis.
Kabar gembira memang sangat mengejutkan, bukan hanya Aisyah, tetapi Balqis sendiri bahkan tidak menyangka jika dirinya bisa hamil.
"Kamu bilang dulu, rahim kamu diangkat kan?" tanya Aisyah.
"Astaghfirullah hal'adzim, kamu pernah aborsi? Masa lalu kamu yang pahit itu ini kah?" tanya Aisyah.
Balqis menunduk, ia sangat malu ingin mengakui nya. Mungkin Syakir dan seluruh keluarga tahu bahwa Balqis pernah terjerumus dalam dunia malam. Arifin dan Intan sendiri sebagai orangtua nya juga sudah menceritakan hal itu.
"Kok nangis sih Qis? Jangan nangis dong." Tutur Aisyah menghapus air mata Balqis.
__ADS_1
"Aku malu Kak, itu aib yang aku sengaja dulu. Aku beruntung banget memiliki suami dan keluarga Kak Ais seperti ini, bahkan mungkin jika di panter-pantesin, aku nggak pantas buat Mas Syakir yang sangat baik dan memiliki hati yang tulus," Balqis menangis.
Melihat Balqis menangis, Airy mengajak Naura, Yusuf, Aminah dan Mayshita masuk ke kamar. Airy kecil-kecil sudah mengerti, mana yang baik untuk di dengar, mana yang buruk untuk dijauhi. Bukan masalah sudah terlalu dewasa untuk anak seusia Airy ini, tapi didikan agama itu memang sangat penting jika diterapkan sejak dini.
"Kak Airy, kenapa kita masuk sih? Kan enak mainnya di depan tv." Kata Naura.
"Kamar Kak Airy juga ada tv, orangtua sedang bicara sebaiknya kita tidak boleh mendengarkan, apa lagi.... saat orang dewasa sedang menceritakan yang sedih-sedih seperti tadi." Ucap Airy.
"Tapi Kak....."
"Sttt, keep silent please Naura!" tegas Airy.
"Baiklah...." jawab Naura.
Dunia malam memang membuat Balqis menjadi orang lain saat itu, dia menjadi hamil diluar nikah dan harus melakukan aborsi tanpa sepengetahuan orangtuanya. Bahkan ia baru ketahuan, saat aborsi itu hampir saja merenggut nyawanya juga. Karena itu Arifin meminta Balqis untuk bertaubat, dan nyantri di pondok pesantren Darussallam milik Ikhsan/Ruchan.
__ADS_1