Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Meninggalnya keluarga Gu.


__ADS_3

Entah cobaan apa lagi yang Ceasy harus terima. Belum juga anaknya di temukan, kini Gu harus kehilangan orang tuanya dalam sebuah kecelakaan.


Gu menjadi anak yatim piatu, semua sirna. Harta yang Papanya tinggalkan juga telah di kuasai istri sahnya. Walaupun Gu adalah sang pewaris, tetapi istri sahnya lebih berhak.


Hati Ceasy tambah hancur, baru saja bertemu dan bersama dengan kakak yang ia rindukan, kini harus pergi jauh darinya. Hak asuh Gu di ambil oleh Kabir, bagaimanapun juga Gu adalah keponakan Ceasy.


"Ama, Apa meninggalkanku, aku sedih. Tak ada lagi yang mau menerimaku, Ibu besar (sebutan untuk istri sah Papanya) juga membuangku huhuhu," Gu terus menangis tanpa henti.


"Hey, kata siapa Gu sendirian, kamu masih ada Paman sama Bibi, mulai sekarang kamu tinggallah bersama kami ya." Tutur Kabir.


"Tapi jika adik Hamdan ketemu, apakah kalian akan tetap menyayangiku?" tanya Gu polos.


"Tentu saja, kita semua berdoa agar baby Hamdan segera di temuka, " sahut Ceasy.

__ADS_1


Di perasaan sana, Arnold belum juga bisa meng hubungi Ceasy maupun Kabir. Bahkan menghubungi Tae saja masih belum bisa. Butuh waktu lama Arnold di tempat itu, ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Dalam hati Arnold, bagaimana mungkin Hamdan berada di kawasan itu. Karena kawasan itu jauh dari kota, jangankan kota, tetangga desa saja sangat jauh.


"Haih, bagaimana kamu bisa sampai kemari Hamdan, pasti Ayah dan Ibumu bingung mencarimu, aku jadi kasihan dengan Ceasy dan Kabir." Gumam Arnold sambil merapikan baju Hamdan.


Untung saja selama di Seoul, dan bersama dengan Kabir, Arnold selalu merekam suara Kabir sedang mengaji. Ia memang sengaja merekamnya untuk beberapa penilitian.


"Kau terlahir sebagai seorang muslim Hamdan, jadi aku harus mendidik ku sebagai seorang muslim juga. Untung saja aku memiliki rekaman suara Kabir, jadi bisa membantu mendekatkanmu kepada Tuhan dan Ayahmu." Kata Arnold memutar suara Kabir.


Di Seoul, Ceasy masih sering murung di kamar, ia terus saja membongkar dan merapikan baju Baby Hamdan dengan rapi. Sesekali meneteskan air matanya.


"Bibi," kata Gu menyentuh tangan Ceasy.


Ceasy tersenyum, lalu memeluk Gu. Kini hanya Gu yang menjadi cahaya di dalam hati Ceasy, sambil berharap dan berdoa, agar Baby Hamdan cepat di temukan dan segera kumpul bersama kembali.

__ADS_1


Keluarga yang berada di Jogja juga tidak putus komunikasi, setiap saat mereka juga selalu mempertanyakan perkembangan tentang Baby Hamdan.


Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, 6 tahun berlalu, belum juga ada kabar dari Baby Gu berada. Siska tertawa bahagia walau dirinya di di penjara, mengingat belum ada jejak tentang baby Hamdan, Ceasy dan Kabir tidak ingin menambah anak lagi.


Mereka akan fokus mengurus Gu yang kini berusia 12 tahun, menjadi idola banyak kaum hawa. Ia sekolah di Internationale School ternama di Seoul. Bahkan Gu juga memanggil Kabir dan Ceasy dengan sebutan Ayah dan Ibu, sekarang juga pandai berbahasa Indonesia. Ia juga sering ikut pulang ke Jogja dan selalu di sambut ramah dikeluarga Kabir.


"Paman, kapan kita akan bertemu dengan orangtuaku?" suara Baby Hamdan, oh bukan baby lagi. Ia sudah berusia 6 tahun.


"Sabar ya nak, paman pasti akan membawamu bertemu dengan orangtuamu. Mereka pasti sangat merindukanmu, besok kita kembali ke kota." jawab Arnold.


Entah bagaimana cara Arnold mendidiknya, tetapi Hamdan menjadi anak yang sholeh. Kini Arnold akan membawa Hamdan pulang bertemu dengan orang tuanya.


Sekarang, tahun Kabir dan Airy sama ya kakak-kakak,

__ADS_1


__ADS_2