
Setiap malam, Kabir selalu memutar bacaan ayat suci Al-Qur'an di kamar dengan volume kecil. Agar tidurnya bisa nyenyak dan nyaman. Pukul dua pagi, Ceasy terbangun, ia tiba-tiba ingin makan bakso yang berisikan udang. Ia pun berjalan ke dapur, hanya ada bahan mentah di kulkas, ingin membuat sendiri tidak bisa. Akhirnya, Ceasy pun membangunkan Kabir yang tidur di sofa samping jendela itu.
"Kak, Kak Kabir, bangun!" bisik Ceasy.
"Ck, apa sih Ceas? Aku masih ngantuk, tidurlah sana!" kata Kabir.
Entah kenapa Ceasy menjadi emosi, padahal Kabir baru menolaknya sekali. Ia pun membuka selimut Kabir dan menarik-narik selimutnya. Kabir menjadi sangat kesal karena Ceasy mengganggunya, ia pun terbangun dan sedikit membentak Ceasy, karena ia baru saja bisa tidur.
"Ceasy!" Teriak Kabir.
"Kok bentak sih?" Kata Ceasy dengan suara manja.
"Astaghfirullah hal'adzim, iya ada Ceasy? Kenapa membangunkanku di saat masih petang begini? Ada apa gerangan?" tanya Kabir halus.
"Pengen bakso yang di dalamnya ada udangnya, sekarang!" kata Ceasy.
"Sekarang? Mau beli kemana?" tanya Kabir heran.
__ADS_1
"Ya Kak Kabir yang bikin dong, kan ada bahannya di kulkas. Tinggal bikin doang, apa sih repotnya!" Kata Ceasy merajuk.
"Hah? Nggak! Aku nggak mau jam segini repit-repot bikin bakso, aku baru aja mau tidur Ceasy, kamu bikin sendiri lah!"
Ini bukan kali pertama Kabir terlihat cuek, tetapi kata-kata yang ini menyinggung Ceasy. Ceasy sendiri juga nggak tau kenapa ia tiba-tiba ingin menangis. Benar saja, Ceasy menangis sampai sesenggukan, awalnya Kabir cuek dan bahkan menutupi dirinya menggunakan selimut.
Tetapi tangisan Ceasy membuat Kabir tidak tega, dengan wajah kesal, Kabir pun bergegas kedapur dan membuatkan apa yang Ceasy inginkan itu.
"Yang bener saja, jam dua seperempat bikin bakso kek gini. Mana harus ada udangnya lagi! Ck, kalau nggak sayang udah aku tinggalin keluar." Gerutu Kabir.
"Udah tuh, makan dulu!" Kesal Kabir.
"Yeeey, ayo temenin dong," kata Ceasy menarik-narik tangan Kabir.
"Nggak ah, aku mau tidur, ngantuk, capek jadi satu!" tegas Kabir.
Melihat wajah Ceasy yang mewek lagi, ia pun akhirnya luluh dan menemani Ceasy makan bakso yang ia buatkan. Lebih kesalnya lagi, Ceasy hanya memakan satu suapan bakso saja, dan itupun tidak.habis satu bakso. Kabir yang kesalpun meminta Ceasy untuk membereskan dapur, dan ia segera pergi ke kamar, lalu tidur. Merasa bersalah, Ceasy pun membereskan semuanya, dan kembali tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya, Ceasy terbangun dengan perut yang mual-mual. Ceasy fikir itu karena ia makan bakso di jam dua pagi, ia pun mengambil air wudhu dengan cepat karena takut akan muntah dan harus wudhu lagi. Melihat Kabir yang baru saja bangun, Ceasy meminta maaf karena mengganggu tidurnya.
Rasa kesal Kabir sudah hilang, Kabir meminta Ceasy untuk menunggunya agar bisa sholat berjama'ah. Baru saja salam attakhiyat terakhir, Ceasy mual lagi, melihat Ceasy yang muntah-muntah, Kabir pun bingung. Ia terus memijat leher belakang Ceasy dan meniup-niup rambutnya.
"Sakit?" tanya Kabir cemas.
"Nggak tau, rasa nya pengen hueekk, ahhh nggak enak bgt ini perut!" kata Ceasy.
"Priksa aja yuk, kita mandi dulu, setelah ini kita ke dokter ya." Tutur Kabir.
Ceasy hanya mengangguk saja, setelah selesai berkemas, mereka pun langsung pergi kerumah sakit. Walau masih terlalu pagi, tetapi di unit gawat darurat pasti buka 24 jam. Tanpa harus mengantri, Ceasy langsung menjalani pemerikasaan.
Ada kabar gembira dari Dokter, Ceasy dinyatakan hamil, dan kini usianya sudah hampir menginjak 3 bulan. Bukan hanya Kabir yang kaget, bahkan Ceasy sendiri malah lebih kaget lagi, karena selama ini dia memang tidak mengalami menstruasi, dan jarang melakukan hal itu dengan Kabir.
Karena, hasil pemeriksaan terakhir Ceasy, dia hanya mengalami gangguan hormon saja. Dan kemungkinan, janin itu ada ketika mereka melakukan di malam tahun baru saat itu.
Wah tahan bener si Kabir
__ADS_1