
Jamil dan Yoona terus saja bercanda, tidak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang yang baru saja melstakkan sesuatu di depan pintu apartemen Kabir. Saat di sapa oleh Jamil, seseorang itu langsung lari dan mendorong Kabir.
"Wey, sopo seh? Muka nya di tutupi gitu deh," gerutu Jamil.
"Apa kira-kira isi dari kardus ini? Mencurigakan deh," ucap Yoona.
Jamil mengambil kotak yang berukuran seperti kotak sepatu itu. Membuka nya secara perlahan, membuat Jamil dan Yoona tertegun melihat isi itu. Seketika, Jamil.melempar kotak itu ke lantai.
"Astaghfirullah hal'adzim, opo mau Yoon?" tanya Jamil.
"Seperti boneka deh, tapi di lumuri darah gitu. Coba kita lihat lagi." kata Yoona mengambil kotak itu.
Benar juga, kotak itu berisikan boneka yang tidak ada tangan dan kakinya, bahkan matanya juga tidak ada sebelah. Yoona dan Jamil yakin, jika orang yang mereka tabrak tadi adalah pelakunya.
Sementara Yoona menghubungi pihak keamanan, Jamil masuk ke apartemen dan membicarakan semua itu dengan Kabir dan Ceasy, tetapi Kabir masih ada di kamar mandi saat itu.
"Kak Jamil kenapa sih?" tanya Ceasy.
"Kalau masuk tuh ngucapin salam dong." Sambungnya.
__ADS_1
"Assallamu'alaikum, Kabir nengdi, cepet Kabir nengdi?" tanya Jamil.
"Baru mandi, tunggu aja disini. Memangnya kenapa sih, kok kelihatan ketakutan gitu? Terus Kak Yoona kemana? Kata Kak........" Ceasy membuat Jamil merasa kesal dengan semua permintaannya.
"Sttttt wes to wah. Riwil banget to koe ki (Udah lah, crewet banget kamu ini)!" Kata Jamil.
Jamil meminta Ceasy segera memanggilkan Kabir, karena ikut panik, Ceasy langsung lari ke kamar dan memanggil Kabir. Untung saja, Kabir sudah selesai, dan tinggal merapikan bajunya.
"Ada apa sih Ceasy? Aku bilang kan buatin dulu minuman, tunggu sebentar lah." kata Kabir merapikan kancingnya.
"Ra kober aku Bir (nggak sempat aku Bir). Gaswat pokokke gaswat, ada yang menaruh boneka santet di depan pintu!" kata Jamil dengan penuh keyakinan.
Itu bukan hal yang baru, dulu saat sekolah juga ada yang mengirimkan Nisa boneka seperti itu, Kabir yakin jika itu adalah ulah Siska. Mendrngar penjelesan dari Jamil, Kabir yakin jika itu adalah perbuatan Siska.
"Diamana Yoona?" tanya Kabir.
"Dia kepihak keamanan. Bir, koe kudu pindah secepat mungkin, aku yakin dia adalah musuhmu!" Kata Jamil memperingatinya.
"Kita tunggu info dari Yoona dulu!" ucap Kabir.
__ADS_1
Ceasy semakin ketakutan, ia terus saja memeluk lengan Kabir. Mendengar ada teror, hati Ceasy menjadi sangat takut.
Datanglah Yoona dengan seorang dari pihak keamanan, dijelaskan bahwa cctv yang ada di lorong lantai dimana Kabir dan Ceasy tinggali, sedang rusak. Dan itu dirusak dengan sengaja, pihak keamanan meminta Kabir dan Ceasy untuk tetap tenang dan waspada.
"Kak," kata Kabir.
"Kamu tenang saja ya, setelah intervew, kamu ikut kita saja. Jadwal kita yang akan diundur, gimana semuanya?" tanya Kabir.
"Ngikut aja lah, mana yang lebih aman dulu, intervew juga nggak bakal lama kan?" Yoona dan Jamil mengiyakan saja apa yang terbaik.
Yoona juga memeberikan secarik kertas yang terselip di kotak itu kepada Kabir. Belum Yoona buka, jadi Yoona dan pihak keamanan pun tidak mengetahui isi surat itu.
"난 당신이 행복하게하지 않을거야 Ceasy!"
"Apa isi dari surat itu Kabir?" tanya Yoona.
"Dia mengancamku! Dia mengancamku Kak Kabir, aku takut," Ceasy ikut melihat surat itu dan sudah membacanya.
Kabir belum menguasai banyak bahasa Korea dalam hangul begitu banyak. Dengan cepat Yoona merebut surat itu dan membacanya. Lalu memandang Ceasy dan membaca kembali surat itu.
__ADS_1