MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEMOGA KAMU TIDAK MENURUNI SIFAT KEDUA ORANG TUAMU


__ADS_3

Wanita, kadangkala diuji dengan sehebat-hebat ujian. Fisiknya lemah tapi batinnya sangat kuat. itulah anugerah Tuhan bagi mereka.



Hari itu adalah hari terberat untuk Rose karena mengetahui jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk calon suaminya kelak.



“Aku telfon kak Ryan dulu ya, aku yakin dia pasti khawatir dengan keadaanmu.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Rose.



“Halo kak Ryan, Rose sudah datang ke perusahaan dan dia baik-baik saja.”



“Lalu mengapa dia mematikan telfonnya?” tanya Ryan.



“Batrai hpnya habis jadi hpnya mati kak.”



“Bisakah aku berbicara dengannya?” tanya Ryan kembali.



Khansa menoleh ke arah Rose namun dia menggelengkan kepalanya.



“Maaf kak, tapi Rose sedang sibuk sekarang.” Ucap Khansa yang sebenarnya merasa bersalah karena telah membohongi Ryan.



Setelah memberitau keadaan Rose kepada Ryan, Khansa segera mematikan telfonnya dan menyuruh Edo dan Kalandra kembali masuk ke dalam ruangan.



“Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Rose?” tanya Edo.



“Kak Edo jangan kepo, ini urusan perempuan. Oh iya kak katanya kakak dan kak Anita akan pergi mengunjungi orang tua kak Anita ya?” tanya Khansa yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.



“Hm, aku akan mengunjungi orang tua Anita lusa. Jadi aku memintamu untuk memperhatikan pekerjaan Kalandra ya jika tidak dia akan menangis dan merengek kepadaku.” Canda Edo.



“Ha? benarkah dia akan merengek aku jadi penasaran dengan ekspresinya saat merengek.” Balas Khansa.



Kalandra hanya diam melirik sinis ke arah sahabat dan istrinya yang sedang mengejeknya itu.



“Katanya kalian berdua membawa bayi Hani ke rumah kalian?” ucap Edo.



“Apa!? Benarkah itu kak?” tanya Rose yang terkejut.



“Iya, aku dan mas Andra membawanya untuk di rawat di rumah karena menurutku penjara bukan tempat yang baik untuk pertumbuhan anak kecil.” Jelas Khansa.



“Kak, sebenarnya hatimu terbuat dari apa sih? Aku baru tau ada orang yang merawat bayi wanita yang sudah menculik anakmu dan menembak kepala suamimu.” Ucap Rose.


__ADS_1


“Anak itu tidak bersalah Rose, jika aku membenci anak itu karena orang tuanya yang bersalah sepertinya itu tidak benar. Aku juga tidak ingin ada orang yang membenci anak-anakku karena mereka membenciku.”


Rose hanya diam mendengar ucapan Khansa yang menurutnya memang benar.



“Tapi mas, aku masih penasara loh apa yang di ucapkan mama kepada Kenan sampai dia tiba-tiba bisa menerima Rey secepat itu.” Ucap Khansa yang merasa penasaran.



“Iya benar juga, sebenarnya aku juga penasaran karena melihat ekspresi wajah mama yang hambar tadi pagi pfftt..” Kalandra menahan tawanya setelah mengingat mimik wajah mamanya yang datar saat kembali setelah memberikan Kenan penjelasan.



“Sudahlah mas, kamu menertawakan mama terus nanti dia tersedak.” Ucap Khansa sambil memukul lengan Kalandra.



Akhirnya Kalandra berhenti menertawakan mamanya dan fokus kembali membicarakan pekerjaannya.



“Bagaimana pertemuan dengan perusahaan C, apa mereka sudah ada di perusahaan kita?” tanya Kalandra kepada Edo.



“Sepuluh menit lagi mereka akan berada di perusahaan Ndra, oh iya saat aku cuti aku akan memberikan dokumen-dokumen penting kepada Khansa dan Rose agar mereka bisa menggantikanku dengan baik setelah membaca dokumen yang aku berikan.” Jelas Edo yang di balas anggukan oleh Kalandra, Khansa dan Rose.



Apa saja kerja sama yang akan kita lakukan bersama perusahaan C?” tanya Khansa kepada Kalandra.



“Kita bekerja sama dalam bisnis pakaian olahraga baru perusahaanku, dia memiliki bisnis golf yang lapangannya tersebar kemana-mana, setelah melihat model olahraga yang di tunjukkan oleh perusahaan kita, mereka segera mengajukan kerjasama.” Ucap Kalandra.



“Berapa model baju yang kalian miliki? Apa mereka semua memiliki ukuran atau all size? Lalu apakah perusahaan kita memiliki model untuk perempuan?” tanya Khansa kembali.




“Aku memposisikan diriku sebagai orang yang akan bekerjasama dengan perusahaan kalian, setidaknya ini adalah pertanyaan umum yang akan di ajukan mereka.” Ucap Khansa.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606556877903.jpg)



“Perusahaan kami masih memiliki satu model satu warna dan satu ukuran.” Ucap Kalandra yang baru memikirkan hal itu.



“Bagaimana kamu bisa begitu ceroboh mas, mereka tidak akan jadi bekerjasama dengan perusahaan kita jika model pakaian yang kita tawarkan tidak memiliki daya tarik lain.”



“Lalu bagaimana lagi sayang? kita tidak bisa membuat baju atau desain secepat itu.” Ucap Kalandra.



“Berapa lama waktu yang di butuhkan sebelum bertemu dengan mereka?” tanya Khansa.



“Sisa 7 menit lagi.”



“Berapa lama editor computer kalian bisa menggambar desain baju.”


__ADS_1


“Mungkin hanya membutuhkan waktu 5 menit.”



“Baiklah aku akan menggambar desain baju golf di kertas dan suruh editor kalian bersiap untuk menggambar beberapa desain gambar baju yang akan aku buat.” Tegas Khansa.



“Sayang, apa kamu bisa mendesai baju?” tanya Kalandra yang tidak mempercayainya.



Khansa tidak menjawab perkataan suaminya, dia hanya fokus dengan kertas dan pensil yang dia pegang sekarang, Rose yang melihat ambisi Khansa hanya bisa menggelengkan kepala dan mengagumi sifat Khansa.



Dua menit, hanya dua menit Khansa bisa menyelesaikan sekitar 4-5 desain gambar baju yang diperlihatkan dulu kepada Kalandra dan Edo, mereka terkejut melihat kemampuan mendesain Khansa karena semua yang di gambarnya sangat bagus dan tidak ketinggalan jaman.



“Suruh semua editor kita menggambar ke limanya dan segera masukkan ke dalam file lalu kirim ke emailku, aku akan memasukannya ke dalam persentasiku nanti.” Ucap Kalandra kepada Edo yang segera di laksanakan.



“Terimakasih sayang, kamu memang tidak pernah mengecewakan.” Ucap Kalandra yang hanya di balas senyuman oleh Khansa.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606556877900.jpg)



Rumah Kalandra


Mama Alisha termenung di dalam kamarnya mengingat tentang jawaban konyol yang dia berikan kepada Kenan.


“Ma, kamu kenapa sih?” tanya papa Arnold.


“Pa, sepertinya aku membuat otak Kenan rusak.” Ucap mama Alisha.


“Ha? maksudnya apaan sih ma?”


“Tadi Kenan tanya kenapa om Robert bisa punya anak padahal dia belum menikah.”


“Lalu?” tanya papa Arnold.


“Mama bilang kalau Robert nakal jadi di kutuk sama Allah jadi dia hamil dan melahirkan tanpa menikah.” Ucap mama Alisha datar.


“Pfftt..” papa Arnold berusaha untuk tidak tertawa agar istrinya tidak memarahinya, namun gagal papa Arnold tertawa terbahak-bahak di hadapan istrinya itu.


“Buahahahaha,, yaampun ma. Kamu kok bisa-bisanya berbohong seperti itu kepada Kenan?”


“Ya terus apa yang harus aku bicarakan pa? apa aku harus berbicara kalau Rey anak di luar nikah? Nanti yang ada dia malah bertanya terus menerus tidak ada habisnya.” Ketus mama Alisha.


“Bener juga sih ma, tapi kalau masalah Robert hamil itu sungguh mustahil, Kenan juga sudah mengerti jika laki-laki tidak bisa mengandung.” Ucap papa Arnold.


“Justru itu aku bilang kalau Robert dikutuk karena nakal, aku juga menyuruh Kenan agar tidak nakal agar tidak seperti Robert.”


“Yaampun ma, kamu ini bikin perut papa sakit aja deh.” Ucap papa Arnold sambil memegangi perutnya.


Oekk,,, oekkk.


“Ma, Rey menangis.” Ucap papa Arnold yang mendengar suara tangisan bayi.


Mama Alisha segera pergi ke kamar Rey dan menggendongnya, mama Alisha membawa Rey ke dapur menggunakan gendongan bayi dan ingin menghangatkan susu untuk Rey.


“Biar saya saja yang menghangatkan susunya nyonya besar.” Ucap bi Rini yang menawarkan diri.


Karena mama Alisha sangat repot akhirnya dia menerima bantuan dari bi Rini dan membiarkan bi Rini untuk menghangatkan susu Rey.


“Ini susunya nyonya.” Bi Rini memberikan susu yang sudah di hangatkan dan sudah di taruh ke dalam botol susu itu.


“Terimakasih bi.” Ucap mama Alisha yang mengambil botol susu itu dan memberikannya kepada Rey.


Seketika tangis Rey berhenti setelah meminum susu yang di berikan oleh neneknya itu, Rey meminum susu itu sambil tersenyum dan membuat mama Alisha bahagia menatapnya.

__ADS_1


“Nenek harap jika kamu di besarkan di rumah ini dengan penuh cinta dan kasih sayang, kamu tidak akan menuruni sifat kedua orang tuamu sayang.” gumam mama Alsha sambil mencium pipi mungil cucunya itu.


__ADS_2