
Tidak ada sebuah kebahagiaan yang tidak dimulai dari kesulitan.
***Rumah Kalandra***
Mama Alisha dan papa Arnold sedang duduk di ruang tamu.
“Ma, sudah 3 bulan anak kita belum sadarkan diri juga, papa kasihan dengan Khansa dan Kenan.” ucap papa Arnold.
“Iya pa, mama kasihan dengan Khansa. Dia harus menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi ini, sedangkan Kenan tidak mau jauh dari Khansa.”
“Kenan selalu menyalahkan dirinya akan kejadian yang dialami papinya, itulah kenapa dia ingin berada di dekat Khansa untuk mengiburnya agar Khansa tidak kesepian.”
“Kita harus membujuk Kenan lagi untuk ikut pulang bersama kita pa.”
“Percuma ma, dia tidak akan mau ikut bersama kita.”
“Tidak ada salahnya mencoba pa. Sudahlah mama akan bersiap untuk ke rumah sakit sekalian membawa makanan untuk menantu dan cucu mama.” Ucap mama Alisha lalu meninggalkan suaminya yang masih berada di ruang tamu.
“*Papa yakin kamu kuat Ndra dan akan segera berkumpul kembali dengan keluargamu*.” Batin papa Arnold.
Rumah Sakit
Tiga bulan sudah Kalandra terbaring lemah tidak sadarkan diri, Khansa masih setia menemani suaminya walaupun dengan perut yang sudah mulai membesar.
“Selamat pagi suamiku sayang, cuaca hari ini sangat cerah, langitnya sangat indah. Oh iya, Kenan baru saja berangkat ke sekolah bersama kak Ryan, cepatlah bangun, sebentar lagi kamu akan kalah saing dengan kak Ryan mas hehe” Ucap Khansa sambil membelai lembut rambut suaminya.
Drrtt.. drrt..
“Halo Rose? Ada apa?” tanya Khansa.
“Kak, di bawah banyak wartawan. Kak Ryan dan Kenan masih belum berangkat karena di hadang oleh wartawan!”
__ADS_1
“Apa!? Baiklah aku akan segera turun kebawah.” Khansa mematikan telfonnya dan beranjak dari kursinya.
“Mas, aku tinggal dulu ya,, aku janji tidak akan lama.” Ucap Khansa lalu keluar dari ruangan suaminya.
Tanpa disadari jari tangan Kalandra bergerak sedikit setelah Khansa keluar dari ruangannya.
Dibawah Khansa terkejut melihat ada banyak kerumunan wartawan di depan rumah sakit, Khansa juga melihat Kenan sedang dikepung oleh para wartawan.
Dengan segera Khansa menghampiri Kenan dan menghadang para wartawan yang mengepung anaknya.
“Apa kalian tidak bisa melihat jika anakku masih sangat kecil untuk ditanyai tentang keadaan papinya!?” tegas Khansa sambil memeluk Kenan.
“Jika memang ada pertanyaan, maka saya lah yang harus diberi pertanyaan.” Ujar Khansa yang mulai kesal dengan para wartawan.
“Nyonya Kalandra, apa benar jika tuan Kalandra mengalami kecelakaan? Lalu bagaimana kondisi tuan Kalandra saat ini?” tanya salah satu wartawan.
Khansa mencoba mengatur nafasnya agar tidak terbawa emosi di depan wartawan.
“Suami saya baik-baik saja, hanya saja dia membutuhkan istirahat lebih agar bisa kembali pulih dan melakukan aktifitas seperti biasa.” Ucap Khansa
“Tapi mengapa informasi kesehatan tuan Kalandra di sembunyikan? Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarga Kalandra? lalu bagaimana dengan perusahaan tuan Kalandra?”
“Doakan saja semoga kesehatan suami saya cepat membaik, doa kalian sangat berarti untuk keluarga kami. Dan untuk perusahaan..” ucapan Khansa terputus secara tiba-tiba.
“Nyonya Kalandra yang akan menggantikan suaminya untuk sementara waktu!” teriak seorang wanita dari belakang Khansa.
Khansa terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.
Semua wartawan mengarahkan perekam suara dan kamera ke arah Anita.
“Apa hubungan anda dengan keluarga Kalandra? apa benar nyonya Kalandra yang akan menggantikan posisi suaminya untuk sementara?”
“Bagaimana bisa nyonya Kalandra yang hanya lulusan SMA bisa mengatasi perusahaan besar milik suaminya.”
Bertubi-tubi pertanyaan diberikan kepada Anita, Khansa sedih karena para wartawan telah memandangnya sebelah mata karena dia hanya lulusan SMA.
Anita menoleh ke arah Khansa dan bisa menebak jika Khansa merasa sakit hati karena ucapan para wartawan.
“Pertama-tama perkenalkan saya Anita, saya dokter pribadi keluarga Kalandra sekaligus sepupu Kalandra.” jelas Anita.
“Apa kalian yakin Kalandra akan menikahi wanita biasa saja? Walaupun Khansa hanya lulusan SMA tapi kecerdasannya lebih dari yang kalian duga, hanya saja keadaan yang mengharuskan dia menikah dan mengurus keluarga di usianya yang masih muda.” Lanjut Anita.
Khansa sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan Anita. Dia hanya diam mendengarkan semua ucapannya.
“Kak Anita kenapa ngomong kayak gitu sih, aku mana tau soal perusahaan.” Batin Khansa.
Semua wartawan diam setelah mendengar ucapan dari Anita.
“Benar juga, tuan Kalandra tidak mungkin menikahi wanita biasa saja.”
__ADS_1
“Iya benar, pasti ada sesuatu yang istimewa dari nyonya Kalandra sehingga dia dipilih untuk menjadi istrinya.”
Semua wartawan berbisik membicarakan Khansa. Setelah para wartawan mendapat penjelasan yang jelas, mereka semua langsung meninggalkan rumah sakit.
Khansa lega karena semua wartawan sudah pergi, dia melihat anaknya yang masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.
“Sayang? Semua sudah baik-baik saja tenanglah.” Ucap Khansa menenangkan anaknya.
“Kenan takut mami..”
“Tidak apa-apa sayang ada mami. Hari ini Kenan tidak usah masuk sekolah dulu ya, mami akan bicara dengan ibu guru.”
“Kenan maafin papa Ryan ya, papa bisa kehilangan kamu maafin papa.” Ucap Ryan yang baru saja terbebas dari kerumunan para wartawan yang menggila.
“Tidak apa-apa pa, om sama tante itu yang narik-narik Kenan.”
“Sudahlah kak Ryan, Kenan tidak apa-apa itu yang terpenting.” ucap Khansa kepada Ryan.
“Oh iya kak Anita, maksud kakak apa bilang aku akan menggantikan posisi mas Andra? Bagaimana bisa kakak bisa membohongi para wartawan masalah perusahaan?” Tanya Khansa.
Anita tersenyum mendengar pertanyaan Khansa dan menuntun Khansa sampai ke ruangan Kalandra dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Sa? Duduklah dulu dan minum air ini, kamu butuh air karena habis berbicara dengan lantang kepada para wartawan itu.” Canda Anita.
Khansa menatap tajam ke arah Anita dan mengambil minuman yang diberikan kepadanya.
“Sebenarnya apa yang kakak bicarakan?” tanya Khansa.
“Apa yang aku bicarakan barusan itu adalah kenyataan, aku sedang tidak bercanda di saat genting seperti ini.”
“Kak, aku bahkan tidak mengerti apa pun tentang perusahaan mas Andra.”
“Andra pernah bilang kepadaku jika kamu adalah wanita yang cerdas, dia sangat ingin menguliahkanmu tapi saat itu ternyata kamu sedang hamil jadi Andra mengurungkan niatnya.”
“Dia bilang jika kamu sangat mengerti tentang manajemen dan perusahaan, kemampuanmu hanya butuh di asah, dan kami semua akan mengajarkanmu dan selalu memantaumu.” Lanjut Anita.
“Kenapa tidak kak Edo saja? atau kak Anita, kakak juga sangat mengetahui tentang perusahaan.” Ucap Khansa.
“Aku sudah sibuk hanya mengelola satu rumah sakit, bagaimana bisa aku memegang perusahaan Kalandra.”
“Kakak mengelola rumah sakit? M,,maksud kakak rumah sakit ini?” tanya Khansa tidak percaya.
“Hmm,, orang tuaku memiliki beberapa rumah sakit di Indonesia termasuk rumah sakit ini, dan akulah mengambil alih rumah sakit ini.”
“Astaga kak, aku gatau kalo kakak mempunyai rumah sakit sebesar ini.. lalu kenapa mas Andra harus tetap mengantri saat di rumah sakit ini kak?” tanya Khansa.
“Karena aku harus adil kepada semua pasienku. Kalandra memang keluargaku, tapi di rumah sakit dia adalah pasienku sama dengan yang lain.” Ucap Anita dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“MAMI!! PAPI SADAR!!” Teriak Kenan yang melihat papinya sudah membuka matanya dengan perlahan.
Khansa dan Anita yang mendengar teriakan Kenan dengan segera melihat Kalandra.
__ADS_1
“Mas Andra!” teriak Khansa sambil meneteskan air mata.
Anita yang terkejut segera memeriksa keadaan Kalandra yang baru saja tersadar dari komanya selama 3 bulan.