
Cinta yang berawal dari mata, akan berakhir menjadi air mata. Cinta yang berawal dari hati, tidak akan pernah berakhir.
“Yaallah mas, kamu ngapain di sini?” tanya mami Khansa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melihat suaminya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil meneteskan air matanya.
“Hiks,, hikss.. sayang air mataku keluar sendiri hikss..” ucap papi Kalandra sambil menatap istrinya.
“Hahahaha, yaAllah mas kamu nangis?” mami Khansa tidak bisa menahan tawanya karena suaminya menangis karena mau di tinggal anak perempuannya.

“Kamu mau jadi istri durhaka ya ngetawain suaminya!?” ketus papi Kalandra.
“Ih kamu kok jahat sih mas! Habisnya kamu ini lucu tau, selama ini kamu tuh keras sama anak-anak kamu tapi pas di tinggal malah nangis kayak gini. Terus kemana mas Kalandra yang galak itu?” tanya mami Khansa dengan nada mengejek.
“Aku kan juga seorang ayah, aku juga sedih di tinggal anaknya apalagi ini anak perempuanku satu-satunya, hikss..”
Mami Khansa menghampiri suaminya dan berjongkok sambil menggenggam tangan suaminya.
“Mas, aku tau di balik ketegasan kamu kepada anak-anak pasti ada kesedihan di dalam diri kamu karena memperlakukan mereka dengan tegas seperti itu. Tapi kamu harus kuat mas, kalau kamu menunjukkan kepada anak-anak kamu kalau kamu menangis karena kepergian mereka, mereka akan merasa bersalah karena sudah meninggalkan rumah.” Jelas mami Khansa sambil mengelus pipi suaminya untuk menghapus air matanya.
Tanpa sengaja, ternyata Key ada di depan pintu kamar papi dan maminya yang kebetulan memang mau menyusul mereka karena terlalu lama, Key tidak menyangka jika papinya ternyata sangat menyayanginya.
“Papi..!!” teriak Key yang langsung berlari memeluk papinya.
“Key? Kamu kok bisa di sini?” tanya papi Kalandra sambil menghapus air matanya.
“Hikss,, Key sayang papi.. papi jangan nangis ya, Key ga akan pergi jauh dari papi dan mami kok Key janji bakal pulang cepat dari Jepang hikss..” ucap Key.
“Papi tau kamu sayang papi sayang..”
“Key fikir papi tidak menyayangi Key karena Key tidak bisa apa-apa hikss..”
“Kata siapa!? Kamu adalah anak papi yang paling papi sayangi, kamu juga memiliki banyak kelebihan, jadi jangan menganggap kamu tidak bisa apa-apa ya sayang.” ucap papi Kalandra mencoba menenangkan anak perempuannya.
__ADS_1
“Sudah, udahan nangis-nangisannya ntar Key ketinggalan pesawat pi. Ayo kita antar Key ke depan.” Ucap mami Khansa.
Sebenarnya mami Khansa juga sangat sedih karena ini adalah kali pertama anak perempuannya pergi jauh dari rumah.
Di depan rumah, Kenan yang melihat mata papinya dan Key sembab itu sudah mengetahui pasti mereka habis menangis. Kenan menghampiri maminya dan merangkul mami Khansa.
“Pasti mereka habis drama ya mi?” bisik Kenan yang di balas anggukan oleh mami Khansa.
Papi Kalandra melepas pelukannya dari tubuh anak perempuannya dan beralih menghampiri Bernard yang sedang berdiri di samping mobilnya. Bernard yang gugup karena di dekati oleh papi Kalandra itu hanya bisa diam dan menghirup nafas panjang.
“Saya titip anak perempuan saya! kalau sampai dia menangis, kamu akan membayar setiap tetes air mata yang keluar dari mata anak saya!” papi Kalandra mengingatkan Bernard dengan mata yang berapi-api.
“Siap om! Saya akan selalu menjaga anak om dengan sangat baik dan tidak akan membuat air matanya terjatuh!” tegas Bernard.
Papi Kalandra hanya mengangguk menanggapi ucapan Bernard dan menyuruh Key untuk masuk ke dalam mobil dan menyuruh mereka untuk segera berangkat ke bandara.
“Pi, mi, Kenan juga berangkat ya ikut mereka ke bandara.” Pamit Kenan kepada kedua orang tuanya.
“Iya sayang, hati-hati ya.” ucap mami Khansa.
Kenan melirik papinya dengan sinis dan menggelengkan kepalanya.
“Apa? Kamu kurang apa? Kamu sudah mapan dan mampu menghidupi keluargamu dengan uangmu sendiri! Kalau Ken yang minta untuk menikah baru papi gantung, karena dia masih belum bisa menghasilkan uang sendiri!” jelas papi Kalandra.
“Iya iya iya papiku tercinta,, Kenan akan segera menikah oke?” ucap Kenan pasrah.
Setelah berpamitan, Kenan segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Mami Khansa memeluk tubuh suaminya untuk menghiburnya agar tidak sedih lagi.
“Mas, kamu ini baru di tinggal liburan aja nangis. Gimana kalau ntar anak kita menikah dan ikut suaminya?” tanya mami Khansa.
“Ya papi suruh tinggal sama aku aja!”
__ADS_1
“Lah aneh, kok egois kamu mas!”
Papi Kalandra tidak menanggapi ucapan istrinya dan langsung masuk ke dalam rumahnya, sedangkan mami Khansa yang melihat tingkah suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kamu habis nangis ya?” tanya Bernard kepada Key di dalam mobil.
“Om beruang tuh kalau udah tau ga usah tanya dong, bikin orang esmosi aja!” Ketus Key.
“Emosi Key bukan esmosi.” Ucap Bernard membenarkan ucapan Key.
“Aku tadi bilang gitu kok, om beruang aja yang salah dengar!” Key mencoba untuk memberikan alasan.
Bernard hanya diam tidak membalas ucapan Key karena dia tau pasti Key sangat sedih meninggalkan kedua orang tuanya.
“Sesedih itu ya meninggalkan kedua orang tua kamu?” tanya Bernard lagi.
“Iyalah! Ini pertama kalinya Key meninggalkan rumah sejauh dan selama ini.” jelas Key.
“Pantas saja!” batin Bernard.
“Jangan sedih ya, mereka akan memakanku jika kamu bersedih.” Ucap Bernard.
“Key ga sedih, yang penting om beruang nanti ajak Key jalan-jalan keliling Jepang ya..”
“Siap tuan putri!” tegas Bernard.
Key yang senang karena Bernard mau menuruti permintaannya itu akhirnya tersenyum dan membuat Bernard ikut tersenyum melihatnya.
“Kamu cantik kalau lagi tersenyum!” ceplos Bernard yang membuat Key melihat ke arahnya.
“Om beruang lagi sakit ya?” tanya Key sambil memegang kening Bernard.
“Ha? e,,engga kok!” ucap Bernard yang gugup karena tiba-tiba Key memegang keningnya dan membuat jantungnya berdebar.
“Duh lama-lama jantungku copot kalo gini terus!” batin Bernard sambil mengatur nafasnya.
“Tumben banget om beruang bilang Key cantik.”
“Dibilang cantik sala, di bilang jelek juga pasti salah. Emang cewek selalu benar ya!” batin Bernard.
“Om, kok kita ga sampe-sampe sih? Key kan mau cepet-cepet ketemu Lana!” ucap Key.
“Kamu tenang aja, temen kamu aman kok sama Jonathan!”
“Key bukan khawatir takut Lana kenapa-kenapa, tapi Key udah kangen sama Lana soalnya udah dua hari aku ga ketemu.” Rengek Key.
“Dua hari tidak bertemu saja kamu sudah kangen, apalagi bertahun-tahun! Oh iya, apa kamu tidak memiliki teman lain selain dia?” tanya Bernard.
“Dari dulu Key memang tidak terlalu suka berteman om, dulu aja Lana yang terus-terusan deketin Key padahal Key sering banget marah-marah sama Lana, tapi dia cuek aja terus lama-lama akhirnya Key mau deh temenan sama Lana.” Jelas Key.
“Emang mirip sekali dengan Kenan! dulu aku dan Belinda selalu sabar menerima setiap perkataan kasar dari mulut Kenan, dan akhirnya dia luluh juga.” Balas Bernard sambil tersenyum mengingat kejadian mereka saat kecil.
Key menoleh ke arah Bernard dan melihat senyum tulus yang mengembang di wajah laki-laki tampan itu.
“Pantas saja aku bisa cepat dekat dengan om beruang dan kak Belinda!” gumam Key yang masih bisa di dengar oleh Bernard.
“Ha? kenapa emangnya kamu kok bisa cepat dekat dengan aku dan Belinda?” tanya Bernard.
“Karena kalian memperlakukan orang dengan tulus, dan mungkin ketulusan itu juga yang membuat abang Kenan luluh dan mau berteman dengan kalian.” Ucap Key dengan tatapan yang masih tertuju ke jalanan di depannya.
__ADS_1
Bernard menoleh ke arah Key, dia tidak menyangka jika gadis kecil di sebelahnya memiliki pemikiran yang dewasa.
“Ah,, aku bisa jatuh cinta jika seperti ini terus. Kenapa dia suka berubah-ubah! Kadang dia lucu seperti anak kecil, dia juga bisa menjadi dewasa seperti sekarang ini. Sebenarnya kamu ini wanita yang bagaimana gadis kecil!” batin Bernard yang masih fokus menyetir.