
Semua orang sudah berkumpul di kamar Khansa, disana Kalandra melihat istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur.
“Sayang,, kamu kenapa?” tanya Kalandra kepada Khansa namun Khansa tidak menjawab apa-apa.
Anita yang sedari tadi sudah menahan kekesalannya akhirnya menarik Kalandra untuk keluar dari kamar Khansa.
“Nit, kamu apa-apaan sih!?” tanya Kalandra
Plakk!!
Anita menampar Kalandra dengan keras hingga membuat Kalandra tidak bisa berkata-kata. Edo yang baru saja keluar dari kamar Khansa terkejut melihat Anita yang menampar Kalandra dengan keras.
“Nit..” ucap Edo sambil menarik pundak Anita menjauh dari Kalandra.
“Kamu tau Ndra kenapa Khansa kayak gini hah!? Ini gara-gara kamu! Aku ga nyangka punya sepupu sebrengsek kamu! Aku ga nyangka kamu ngundang perempuan itu ke sini!” bentak Anita yang sedang dipegang oleh Edo.
“Apa? Aku ga ngundang dia nit, aku juga gatau kenapa dia bisa tau aku disini. Aku tadi mau kebawah buat nyiapin sarapan istimewa untuk Khansa, aku mau memberikan kejutan buat Khansa terus tiba-tiba aja aku ketemu dia, dia bilang kerja disini.”
“Heleh gausah bohong, kalian sama-sama mau saling menyalahkan kan!? Bentak Anita yang tidak mempercayai perkataan Kalandra.
“Kamu masuk dulu ya Nit. Aku yang akan ngomong sama Kalandra, ga baik bicara saat sedang emosi.” Ujar Edo yang menyuruh Anita untuk masuk ke dalam kamar.
Anita menuruti perkataan Edo dan masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Khansa.
“Do, sumpah aku ga pernah ngundang Hani kesini. Untuk apa aku mencari masalah? Kamu tau kan aku sangat mencintai Khansa?” ucap Kalandra meyakinkan Edo.
“Aku tau kamu mencintai Khansa, tapi untuk apa juga Hani berbohong? dia harusnya ga punya dendam sama kamu karena dulu juga dia yang ga menerima pernyataan cintamu."
“Aku juga tidak tau, aku juga sangat terkejut melihat dia tadi.”
“Kita harus menyelidiki ini semua Ndra. Kita ga bisa diem aja”
“Iya aku tau, aku akan memblokir nomernya mulai saat ini.”
“Lalu untuk rumah yang kau janjikan padanya?”
“Untuk janji aku akan tetap menepatinya, tapi carikan rumah yang jauh dari sekitarku dan keluargaku.”
Edo mengangguk tanda mengerti dengan perkataan Kalandra.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Khansa Nit?” tanya Ryan kepada Anita yang dari tadi memang tidak mengetahui permasalahan diantara mereka.
“Tadi Khansa bilang mau nyari Andra, kayaknya dia liat Kalandra sama cewe tadi makanya dia jadi stress terus bikin perutnya kram.”
“Cewe? Siapa?” tanya Ryan.
“Hana? Hani? Gatau lah pokoknya itu katanya cinta pertamanya Andra.”
__ADS_1
“Hani? Bagaimana bisa dia tau Andra disini?” tanya Ryan heran.
“Ntahlah. Udahlah aku gamau ngomong cewe itu lagi!”
Lalu tiba-tiba Khansa sadar dan memanggil nama suaminya. Kenan langsung memanggil papinya yang berada di luar.
“Sayang? Kamu ga papa?” tanya Kalandra kepada Khansa.
“Aku gapapa mas. Aku tadi liat mas ngobrol sama cewe hikss..” Khansa mulai menangis dan menceritakan apa yang dilihat olehnya tadi.
“Maaf ya sayang, mas ga ada niat buat bikin kamu sakit. Tadi itu Hani, ms juga kagetliat dia disini dia bilang kerja disini, tapi dia malah ngomong ke Anita dan Edo kalo mas yang nyuruh dia kesini.”
“Tenang aja sa, aku udah nampar suami kamu dengan kekuatan penuh!” tegas Anita.
“Makasih kak, aku gapunya kekuatan buat nampar mas Andra. Untung ada kakak yang ngewakilin aku hehe” ucap Khansa dengan tawa yang sedikit lemas.
“Mas, aku mau bertemu dengan kak Hani.” Ucap Khansa
“Baiklah mas akan mempertemukan kalian, besok kita ke café saat pertama kali mas bertemu dia lagi ya sayang..”
Kalandra memeluk dan menciumi kening istrinya berkali-kali.
“Papi kalo nakal lagi sama mami bakalan Kenan jewer telinganya.” ucap Kenan yang dari tadi tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang dewasa itu.
Tawa semua orang yang ada dikamar itu pecah seketika mendengar celotehan Kenan yang menurut mereka sangat lucu.
Di luar pintu ternyata ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka dengan wajah yang menunjukkan perasaan tidak suka.
__ADS_1
“*Sialan, bagaimana bisa mereka mempercayai Kalandra dengan cepat berbaikan dengan secepat itu*.” Batin orang itu.
Setelah masalah itu, mereka tetap dengan rencana awal mereka untuk sarapan lalu pulang dan menjalankan aktifitas masing-masing.
Kalandra memegang pundak istrinya untuk membantunya berjalan, sedangkan Kenan menggandeng tangan mami kesayangannya sampai ke meja makan.
“Terimakasih mas, terimakasih kesayangan mami..” ucap Khansa kepada Kalandra dan Kenan sambil mengecup kening Kenan.
“Aku juga mau dicium sayang..” rengek Kalandra.
“Engga, aku masih marah sama kamu mas.” Ucap Khansa sambil membuang wajahnya.
Tiba-tiba Kalandra menepuk tangannya memberi tanda kepada pelayan yang ada disana, seketika pelayan yang ada disana datang membawakan sebuah buket bunga mawar merah untuk Khansa.
“Aku tadi menyiapkan ini untukmu sayang, tapi malah ada penghalang yang membuat kamu marah sama aku. Maafin aku ya sayang..” ucap Kalandra.
Khansa terkejut melihat bunga mawar merah yang sangat indah di hadapannya, Khansa tersenyum dan mengambil buket buka itu.
“Aku akan selalu mempercayaimu, jadi jangan buat aku kecewa ya mas..” ucap Khansa dengan lembut.
“Terimakasih sayang, aku beruntung mendapatkan istri yang baik dan sabar seperti dirimu. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu sayang” ujar Kalandra lalu mencium punggung tangan Khansa dengan lebut.
Khansa hanya bisa menutup mulutnya sambil tertawa mendengar ucapan suaminya, Sedangkan semua orang yang ada di sana merinding mendengar ucapan Kalandra yang menurut mereka begitu menjijikkan.
“Ueekkk.. Astaga Ndra menjijikan sekali.” Ucap Anita dengan wajah yang terlihat jijik.
“Kamu belum ngerasain sih, kalo udah ngerasain di romantisin sama pasangan pasti loncat-loncatan terus guling-gulingan”
Anita terdiam sabil menoleh ke arah Edo, begitu pula dengan Edo yang menatap Anita lalu setelah itu mereka menunduk malu.
Khansa tersenyum melihat kedua pasangan yang ada di hadapannya terlihat malu-malu dan menundukkan wajahnya.
“Wah sepertinya setelah ini akan ada yang jadian deh mas,, setelah itu kita tinggal mencarikan pasangan untuk bujang yang satu lagi.” Ucap Khansa yang menatap Anita dan Edo lalu beraling menunjuk Ryan dengan dagunya.
“A,,apa? Aku belum mau menikah.” Ucap Ryan dengan gugup.
“Nunggu apa lagi sih yan? Kamu mau nyari yang kayak gimana sih?” tanya Kalandra.
“Aku mau nyari yang kayak Khansa. Kamu tau kan aku sebenarnya udah menyukai Khansa saat pertama kali melihatnya saat sedang menunggu taxi.” Ucap Ryan yang mengutarakan kejujurannya.
Kalandra dan lainnya terkejut mendengar perkataan Ryan yang sangat berani itu.
“Tenanglah, itu dulu saat aku belum mengetahui jika Khansa adalah istri Kalandra.” lanjut Ryan
Semua orang menghela nafas lega mendengarnya tapi Kalandra masih merasa kesal mendengar ucapan Ryan, ia takut jika suatu saat nanti Ryan akan merebut Khansa dari dirinya.
“Aku harus menjaga istriku sebaik mungkin.” Batin Kalandra.
Hai kakak-kakak pembaca setia novel MDHD….
Mohon maaf untuk hari ini author kemungkinan update hanya 1 bab dikarenakan kondisi kesehatan yang tiba-tiba drop.
__ADS_1
Author akan mengusahakan untuk update 1 bab lagi nanti malam jika memungkinkan~>~
Saranghaeee💙💙