MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
MONSTER


__ADS_3

Key keluar untuk memanggil Audrey ke dalam untuk menjenguk Andini. Audrey dan Key masuk ke dalam ruangan Andini bersama karena Key takut Audrey melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.


"Hikss,, hikss,, Andini maafkan aku hikss, aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.." ucap Audrey sambil menangis mendekat ke arah Andini.


Entah kenapa melihat Audrey menangis seperti itu andini sama sekali tidak merasa iba atau melihat ketulusan di matanya.


"Bisakah kamu meninggalkan aku dan Andini berdua?" Tanya Audrey.


Key menatap tajam ke arah Audrey lalu melihat ke arah Andini untuk meminta persetujuan dari Andini. Saat melihat Andini menganggukkan kepalanya akhirnya Key memutuskan untuk keluar dari ruangan Andini.


Setelah Key keluar dari ruangan Andini, Audrey segera menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Andini.



"Wah, ternyata menangis itu melelahkan! bukan begitu Andini?" Tanya Audrey dengan senyum sinisnya.


Andini terkejut mendengar ucapan Audrey, dia merasa aneh dengan perubahan sikap Audrey yang tiba-tiba.


Audrey berjalan mendekati Andini yang terbaring di atas tempat tidur dan berbisik kepadanya.


"Kau! Apa kau fikir aku akan meminta maaf kepadamu? Hah! Jangan konyol, aku adalah orang yang sangat bahagia saat mengetahui kalau anakmu sudah tiada!" ketus Audrey yang membuat Andini membulatkan kedua matanya.


"Audrey kamu!!" ucap Andini.


"Kenapa? Apa aku salah? Kamu dan Ken bersama karena kesalahan? Apa kamu fikir aku akan mempercayainya? Kamulah yang sudah menggodanya hingga dia menodaimu! Atau jangan-jangan anak itu bukan anak Ken?" ucap Audrey.


"Diam Audrey!!!" Teriak Andini.


"Hahaha, kenapa kamu berteriak? Apa aku melakukan sesuatu kepadamu?" Tanya Audrey.


"Keluar Audrey!!" teriak Andini lagi hingga membuat semua orang yang ada di luar mendengarnya.


Ken segera masuk ke dalam ruangan Andini dengan perasaan khawatir.


"Ada apa Andini?!" Tanya Ken yang baru saja masuk ke dalam.


Melihat Ken kembali masuk ke dalam ruangan membuat Audrey kembali berpura-pura menangis tersedu-sedu sambil menghampiri Andini.


"Hikss,, kenapa kamu berteriak padaku Andini? Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu hikss." ucap Audrey sambil memeluk tubuh Andini.


"Kamu lihat saja nanti, aku tidak akan lama mendekam di penjara! Aku akan segera keluar dan kembali mengganggu kehidupanmu, aku tidak akan pernah membiarkan kalian semua bahagia!" Bisik Audrey.


"Ah benarkah? Apa kamu fikir Ken akan memasukkanmu ke penjara dengan mudahnya? Kamu memang tidak mengenal keluarga papi Kalandra Audrey!" balas Andini hingga membuat Audrey mengerutkan keningnya.


"Apa lagi saat mereka mendengar semua perkataanmu barusan, apa kamu fikir aku sebodoh itu? Tentu saja tidak! Aku sudah menikmati bagaimana kejamnya kehidupan dan aku tidak ingin menjadi orang yang terjatuh karena monster sepertimu untuk kedua kalinya!" lanjut Andini.

__ADS_1


Audrey yang terkejut mendengar ucapan Andini ingin melepaskan pelukannya namun Andini justru bergantian memeluknya dengan erat.


"Kenapa? Apa kau takut? Kemana perginya kesombonganmu yang tadi?" Tanya Andini.


"Kau!" teriak Audrey sambil mendorong tubuh Andini dengan kencang.


"Ah!" teriak Andini membuat Ken yang melihatnya menjadi murka.


"Apa-apaan kamu Audrey! Beraninya mendorong tubuh Andini!" bentak Ken.


"Ken! Dia,, dia itu hanya berpura-pura lemah agar kamu memperhatikannya!" teriak Audrey.


"DIAM!!! PERGI DARI SINI AUDREY!!" bentak Ken hingga membuat Audrey terkejut.


"Ken..."


"Cukup Audrey! Jangan harap kamu akan hidup dengan tenang setelah ini! Jika kamu ingin kabur, kaburlah! Karena kemanapun kamu pergi aku pasti akan menemukanmu kembali!!" Tegas Ken.


Audrey yang sudah ketakutan hanya bisa berjalan menjauh dari Ken dan segera keluar dari ruangan Andini.


Tepat setelah Audrey melangkahkan kakinya keluar ruangan tiba-tiba...


PLAK!! Audrey mendapat tamparan yang sangat kencang dari seseorang yang ada di hadapannya, Audrey terkejut melihat orang yang sudah menamparnya itu.


"T-tante Khansa?" ucap Audrey yang sedang memegang pipi yang baru saja di tampar.


Kedua orang tua Audrey hanya diam melihat anaknya di perlakukan seperti itu oleh mami Khansa karena menurut mereka perbuatan Audrey memang benar-benar sangat keterlaluan.


"Tante, Audrey benar-benar tidak bermaksud seperti itu hikss,, maafkan Audrey tante.." ucap Audrey sambil memohon kepada mami Khansa.


Mami Khansa tidak mengucapkan apapun lagi, dia langsung masuk ke dalam ruangan Andini tanpa memperdulikan Audrey yang sedang memohon kepadanya.


"Sial! Ini semua karena Andini, semua orang sekarang lebih memperdulikan Andini!" batin Audrey.


"Andini sayang,, bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya mami Khansa yang begitu mengkhawatirkan keadaan calon menantunya.


"Mami, Andini sudah baik-baik saja kok, mami kenapa kemari? Andini jadi merasa bersalah karena sudah membuat mami khawatir." ucap Andini.


"Kamu ini bicara apa Andini! Kamu adalah anakku, tentu saja aku akan selalu mengkhawatirkan keadaanmu!" tegas mami Khansa.


"Mi,, maaf karena Andini tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandunganku." ucap Andini dengan perasaan bersalahnya.


"Sayang, kamu lah yang sangat merasakan kehilangan calon bayi itu, tidak apa-apa mami yakin kalau dia akan mendapatkan tempat yang lebih baik." ucap mami Khansa mencoba untuk menenangkan Andini.


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu tentang kejadian ini sayang.." lanjutnya.

__ADS_1


BRAK!! "Mami, kak Belinda pingsan!" ucap Key yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Apa!?"


"Kak Belinda juga datang mi?" Tanya Andini.


"Iya sayang, tapi tadi dia ingin memberikan mami waktu untuk menenangkanmu." ucap mami Khansa.


"Kalau begitu mami temani kak Belinda, dia lebih membutuhkan mami sekarang." ucap Andini.


"Baiklah, mami akan segera kembali setelah memastikan Belinda baik-baik saja, Ken kamu jaga Andini di sini ya, mami, Key dan Rey akan melihat keadaan Belinda." ucap mami Khansa.


"Baiklah mi, oh iya papi di mana mi?" Tanya Ken.


"Papi masih ada urusan, dia akan segera kemari setelah menyelesaikan urusannya." ucap mami Khansa yang segera keluar dari ruangan Andini.


Tinggal Andini dan Ken yang ada di dalam ruangan hingga membuat suasana di sana terasa dingin.


"Em,, Ken,, m-maaf karena aku sudah berbicara sembarangan kepadamu." ucap Andini memulai pembicaraan.


Ken menatap ke arah Andini sambil menghela nafas panjang, Ken tahu betul kalau Andini tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti tadi.


"Aku tau kamu sedang kesal, akulah yang harusnya meminta maaf kepadamu karena aku sudah membentakmu tadi." jawab Ken.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanya Ken.


Andini tahu betul kemana arah pembicaraan Ken, dia memang belum sempat memberitahu Ken tentang kandungannya.


"Maaf, aku juga baru mengetahui tentang hal itu kemarin, aku meminta pelayan di rumahmu membelikanku alat untuk memeriksa kehamilan, aku juga sangat terkejut saat itu sampai aku tidak tahu harus senang atau tidak." jelas Andini.


"Kenapa begitu?" Tanya Ken.


"Aku senang karena aku di beri kepercayaan untuk memiliki anak, tapi di sisi lain aku takut menerima kenyataan kalau anakku akan segera melihat dunia yang di penuhi oleh orang-orang yang jahat." ucap Andini.


Ken tahu apa yang di maksud oleh Andini, dia tahu betul bagaimana kejamnya dunia luar yang akan di hadapi oleh anak-anaknya nanti.


Ken memberanikan diri untuk mendekat ke arah Andini.


"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Ken.


Andini terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ken, dia melihat ke arah Ken lalu menganggukkan kepalanya.


Ken tersenyum lalu memeluk Andini dengan erat hingga membuat Andini merasa nyaman.


"Aku berjanji, aku tidak akan pernah membiarkan kejadian ini terjadi untuk kedua kalinya!" tegas Ken.

__ADS_1


Andini yang mendengar ucapan Ken merasa sangat bahagia sekali.


__ADS_2