
Cinta itu seperti warna terang di dalam hidup, yang akan selalu setia memberikan sinarnya agar kita dapat berjalan terus.
Khansa, Kalandra dan Kenan sudah berada di rumah sakit menunggu Lila dan Riko yang akan melakukan pemeriksaan bersama.
Tidak lama mereka menunggu, Lila dan Riko datang dan segera menghampiri mereka.
“Sasa!!” panggil Lila dengan hebohnya karena mereka sudah lama tidak bertemu.
“Lilaa.. yaampun aku kangen banget sama kamu..”
Khansa dan Lila saling berpelukan satu sama lain melepaskan rindu yang selama ini tertahan. Karena Riko ditugaskan di kota lain selama seminggu, jadi Lila tidak diperbolehkan untuk keluar rumah karena Riko mengkhawatirkan keadaa istrinya itu.
“Kamu apa kabar sa? Ponakan aku baik-baik aja kan di dalam sini?” tanya Lila sambil mengelus perut buncit Khansa.
“Alhamdulillah baik-baik saja lil, gimana keadaan ponakan aku di sini?” Khansa menanya kembali sambil mengelus perut Lila.
“Kenapa perutmu lebih besar dibandingkan dengan Lila sayang? Bukankan kalian hanya berbeda sebulan saja?” tanya Kalandra kepada Khansa.
“Astaga mas, gimana ga besar orang di dalam perutku ada dua kepala sedangkan di perut Lila hanya ada satu kepala.” Ucap Khansa sambil menggelengkan kepalanya.
Kalandra hanya mengangguk sambil membentuk huruf O dengan mulutnya.
Khansa mengajak Lila untuk pergi ke ruang kontrol, mereka masuk ke dalam ruangan secara bergantian.
Setelah mengetahui jika kandungan mereka baik-baik saja tanpa ada masalah mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.
“Kenan gimana sekolahnya sayang?” tanya Lila kepada Kenan.
“Baik-baik aja tante, Kenan dapet juara 1 dong tante, hebat kan?” ucap Kenan membanggakan dirinya sendiri.
“Benarkah? Wah keponakan tante pintar sekali..” puji Lila kepada Kenan sambil mengelus rambutnya.
“Dia seneng banget pas tau dapet juara satu lil, terus dia nagih mainan ke papinya soalnya papinya janjiin beli dia mainan terbaru kalo dia juara satu.” Jelas Khansa.
“Mi, papi sama om Riko kemana?” tanya Kenan.
“Loh sayang dari tadi kamu kemana aja, papi kamu sama om Riko lagi pesen makanan tuh.” Ucap Lila sambil menujuk ke arah Kalandra dan Riko yang sedang mengantri untuk memesan makanan.
“Gimana mau tau, orang dari tadi kamu main game mulu sih. Mami kan udah bilang ga baik main hp terus sayang nanti mata kamu rusak terus nanti ga bisa jadi dokter loh.” Ucap Khansa memperingati anaknya.
“Kenan mau jadi dokter?” tanya Lila yang dijawab anggukan oleh Kenan.
__ADS_1
“Kenapa Kenan mau jadi dokter sayang?” tanya Lila lagi.
“Kenan mau nyembuhin orang sakit tante, Kenan ga mau ada anak yang kehilangan maminya kayak Kenan dulu.” Ucap Kenan dengan tulus.
Khansa dan Lila yang mendengar ucapan Kenan itu hanya saling menatap kagum akan keinginan mulia seorang anak berumur 6 tahun.
“Mami jangan nangis, Kenan tetep seneng kok punya mami kayak mami.” Ucap Kenan yang melihat maminya menangis, ia mengira jika ucapannya menyakiti hati maminya itu.
“Tidak sayang, mami tau maksud kamu. Mami hanya senang karena kamu memiliki keinginan yang sangat baik. Semoga keinginanmu terkabul dan kamu akan selalu diberi kemudahan untuk menggaai cita-citamu itu.” Ucap Khansa sambil mencium kening putranya.
Kalandra dan Riko menghampiri mereka di mejanya, Kalandra panik melihat mata Khansa yang sembab.
“Sayang, kamu kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” tanya Kalandra.
“Tidak sayang, nanti saja aku ceritakan di rumah soalnya aku ga mau malah ada adegan nangis-nangisan di sini.” Ucap Khansa.
“Tapi kamu yakin ga apa-apa kan sayang?” tanya Kalandra kembali dan dibalas anggukan oleh Khansa.
Setelah memastikan jika Khansa baik-baik saja akhirnya mereka semua makan bersama sambil bercanda tawa ria, hingga tak terasa hari telah menjelang sore hari dan mereka sudah harus pulang ke rumah masing-masing karena Kenan sudah mulai tertidur di kursi.

Kalandra menggendong Kenan yang sedang tertidur di kursi, sedangkan Khansa membawa barang-barang yang sempat mereka beli lalu mengikuti Kalandra yang sedang menggendong Kenan.
Mereka pulang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
“Kita harus segera berkemas dan mempersiapkan keberangkatan kita ke Jepang sayang.” Ucap Kalandra.
“Ha? secepat ini mas? Aku belum mempersiapkan apapun.” Ucap Khansa.
“Tidak usah membawa banyak barang, bawalah hal-hal penting seperti obat-obatan dan cemilan. Aku juga sudah konsultasi dengan dokter kandunganmu, dia bilang untuk usia kandunganmu sekarang tidak masalah jika pergi jauh.” Ucap Kalandra.
“Hm, pantas saja tadi kamu menyuruhku untuk keluar ruangan lebih dulu. Jadi gara-gara ini toh.” Gumam Khansa.
Setelah sampai di rumah, Khansa dan Kalandra segera menidurkan Kenan di kamarnya terlebih dahulu dan segera beranjak ke kamarnya untuk mempersiapkan barang yang akan mereka bawa.
“Sayang, sebenarnya tadi kamu kenapa menangis?” tanya Kalandra.
“Yaampun jadi kamu masih penasaran sama itu?” tanya Khansa yang dibalas anggukan oleh Kalandra.
Khansa menceritakan semua yang dibicarakan oleh Kenan tadi dan membuat mata Kalandra berkaca-kaca karena keinginan mulianya.
__ADS_1
“Mas, kamu mau nangis ya?” tanya Khansa menatap suaminya sambil tersenyum.

“Engga, siapa yang mau nangis.” Ucap Kalandra mengelak.
Khansa hanya menahan tawanya dan memeluk tubuh suaminya itu.
“Mas, bahkan hati anak sekecil Kenan saja bisa memiliki keinginan yang tulus dan mulia. Bukankah kita yang sudah dewasa harusnya malu dengan anak sekecil Kenan?” ucap Khansa.
Kalandra melepaskan pelukan istrinya dan menatapnya.
“Apakah kamu masih berusaha untuk membujukku mengenai bi Rini?” tanya Kalandra dengan tatapan curiga.
Khansa hanya menaikkan kedua bahunya tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Sayang, kamu sekarang udah pinter ngerayu aku ya?” tanya Kalandra.
Khansa tetap tidak menjawab pertanyaan Kalandra dan segera berdiri memilah-milah baju yang akan dia bawa.
“Sayang, kamu mau sampe kapan ngalihin pembicaraan?”
“Duh suamiku sayang, kamu kepo amat sih. Aku ga ngomong apa-apa loh padahal.” Ucap Khansa.
“Kepo Bahasa apa lagi sih sa,,, astaga kayaknya aku di kerjain sama kamu deh.” Ujar Kalandra.
Khansa hanya tertawa sambil berjalan ke arah pintu.
“Kamu mau kemana lagi sayang? Kayaknya kamu ga bisa diem amat sih.” Protes Kalandra.
“Aku mau ke kamar Kenan mas mau beresin barang-barangnya juga. Kamu mau ikut? Kok kayak anak kecil sih kamu nempel terus.” Ucap Khansa menggoda suaminya.
“Tau ah sa, aku mau ngambek aja deh.” Protes Kalandra yang langsung tengkurap di atas kasur.
Khansa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah laku suaminya seperti anak kecil.
“Terserah kamu deh mas, aku mau beresin barang Kenan dulu biar ga ribet besok.” Ucap Khansa yang langsung meninggalkan Kalandra yang sedang ngambek sendirian di kamarnya.
“Loh sa, kok aku dibiarin? Khansa Olivia….” Ucap Kalandra dengan nada sedikit kencang.

Khansa yang mendengar teriakan suaminya hanya tersenyum geli.
__ADS_1
“*Yaampun kenapa suamiku lucu sekali kalo lagi ngambek gitu*.” Batin Khansa sambil tersenyum.