
Sungguh kuat dia menghadapi ini semua.
Menghadapi keaadaannya yg begitu nyata.
Merasakan penderitaannya sendirian.
Dan mengukur penderitaan diatas mimpi.
Kalandra, Khansa dan Kenan sudah berada di halaman rumah mereka. Kalandra berkali-kali membangunkan Kenan namun Kenan tidak terbangun, akhirnya Kalandra berniat untuk menggendong Kenan.
Kalandra ingin menggendong Kenan yang masih tertidur kedalam rumah tapi dengan sigap Khansa melarangnya.
“Tidak mas! Kamu baru saja pulih bagaimana bisa kamu menggendong Kenan.” ucap Khansa.
“Lalu siapa yang akan membawanya masuk? Kamu? Perutmu sudah semakin membesar tidak boleh menggendongnya.” Ketus Kalandra.
Khansa hanya melirik Kalandra dan menghampiri Kenan.
“Kenan sayang, kita sudah sampai di rumah bangun yuk.” Ucap Khansa dengan nada yang sangat lembut.
Kalandra heran karena dengan cepat Kenan langsung terbangun mendengar suara Khansa yang lembut.
Khansa yang melihat jika suaminya itu heran karena dia bisa dengan mudah membangunkan Kenan hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Khansa mendekati Kalandra dan memajukan kepalanya sehingga berada di sebelah kepala Kalandra.
“Mungkin kamu lupa mas, tapi kamu dan Kenan akan segera terbangun jika mendengar suara lembutku.” Bisik Khansa tepat di telinga Kalandra yang membuat Kalandra merinding.
Khansa tersenyum manis kepada Kalandra dan segera masuk ke dalam rumah bersama dengan Kenan.

Khansa melihat sekeliling rumahnya dan memejamkan matanya menikmati udara di dalam rumahnya, sedangkan Kenan langsung berlari ke halaman belakang untuk melihat keadaan kelincinya.
“Kenan mau kemana sa?” tanya Kalandra yang melihat Kenan berlari menuju halaman belakang.
“Biasa mas, dia udah kangen sama kelincinya.”
“Kelinci? Sejak kapan aku mengijinkan ada binatang di rumah ini?” tanya Kalandra heran.
Khansa tersenyum dan membalikkan badannya melihat ke arah suaminya itu.
__ADS_1
Khansa ingin mendekati Kalandra namun dihentikan oleh Kalandra karena dia masih terlalu gugup akan kejadian didepan rumah.
“Stop! jangan mendekat.” Tegas Kalandra.
“Ha? kenapa mas?” tanya Khansa heran.
“Udah p,,pokoknya jangan mendekat, beritau aku dari sana saja.”
Khansa yang mengetahui jika suaminya itu gugup tidak menghiraukan ucapan Kalandra dan tetap menghampirinya.
“Karena kamu sangat mencintaiku, kamu menghapus semua peraturan yang ada mas.” Khansa kembali berbisik kepada Kalandra.
Kalandra yang semakin gugup itu hanya bisa menelah ludahnya dan berlari menuju kamarnya.
“*Duh, kenapa jantungku berdetak se kencang ini*!” batin Kalandra memegangi dadanya sambil berlari menaiki tangga.
“Pfftt,, astaga kenapa aku jadi sejahil ini kepada mas Andra.” gumam Khansa sambil cekikikan.
“Kenan,, mandi dulu ganti bajunya baru lihat kelinci lagi ya sayang..” ajak Khansa.
“Iya mami.” Kenan dengan segera mengikuti perintah dari maminya itu.
Khansa mengantar Kenan dan ikut masuk ke dalam kamarnya, sebenarnya Khansa juga sedikit gugup jika harus pergi ke kamar yang sama dengan Kalandra.
Kamar Kalandra
Di dalam kamar Kalandra hanya bisa memegangi dadanya yang masih tidak karuan.
“Astaga bagaimana keadaan jantungku ini.. bagaimana dia bisa membuat jantungku berdebar.” Guman Kalandra.
Gruukk,,,
Tiba-tiba saja perut Kalandra berbunyi dan dia baru ingat jika dia memang belum makan apapun.
Kalandra berniat keluar dari kamar dan mencari makanan di dapur. Kalandra mengintip ke luar untuk melihat keberadaan Khansa.
“Aku harus menghindarinya, jika tidak jantungku bakalan copot beneran.” Gumam Kalandra.
“Apa yang copot mas?” tanya Khansa yang berada tepat di belakang Kalandra.
“AAAA!!” Kalandra berteriak sehingga mengagetkan Khansa.
“YaAllah mas Andra! Kamu mau bikin aku jantungan ya?”
__ADS_1
“Kamu yang bikin aku jantungan sa. Kamu ngapain ada di belakangku?”
“Oh iya lupa, ini kak Anita marah-marah karena mas kabur dari rumah sakit.” Ujar Khansa sambil memberikah hpnya kepada Kalandra.
Kalandra mengambil hp yang diberikan oleh Khansa dan berbicara dengan Anita.
“Halo, apaan nit?” tanya Kalandra.
“Kamu kemana Ndra!? Jangan kabur, kamu masih belum pulih sepenuhnya! Jangan mentang-mentang udah bisa jalan terus bisa pulang seenaknya!”
“Astaga nit, suaramu bikin telingaku jebol!” ucap Kalandra lalu mematikan telfonnya.
Kalandra langsung memberikan kembali hp ke Khansa yang heran dengan sikap suaminya.
“Mas kamu sebenernya kenapa sih? Dari tadi kamu aneh loh, kamu kayaknya mau ngehindarin aku juga.” Selidik Khansa.
Kalandra hanya menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Aku ga niat buat ngehindarin kamu, tapi gatau kenapa jantukku berdebar setiap ngeliat atau berbicara denganmu.” Ucap Kalandra memberanikan diri.
Khansa menunduk malu setelah mendengar ucapan suaminya itu , pipi Khansa memerah dan dia tidak bisa menahan senyumnya.
Setelah berbicara seperti itu, Kalandra juga langsung menunduk menahan malu.
Khansa dan Kalandra tidak sengaja bertatapan dan dengan segera mereka pergi ke arah yang berbeda.
Tidak jauh dari sana, Kenan melihat papi dan maminya yang saling menghindar dan merasa ada yang aneh dengan mereka.
Kalandra sudah berada di dapur dan melihat tidak ada siapa-siapa di dapur. Akhirnya Kalandra memuuskan untuk memanggil Khansa.
“Ada apa mas?” tanya Khansa.
“Bi Rini kemana? kenapa di sini tidak ada pelayan sama sekali?” tanya Kalandra.
“Mas, bi Rini dipecat oleh mama.”
“Kenapa!?”
“Apa mama tidak menceritakan mengenai bi Rini?” tanya Khansa heran.
Kalandra hanya menggelengkan kepalanya dan mengerutkan dahinya.
“Bi Rini membantu Robert untuk memberi informasi jadwal kegiatan kita mas, mama kesal dan memecat semua pelayan disini, hanya ada pelayan yang kemari untuk membersihkan rumah setelah itu langsung pulang.” Jelas Khansa.
“Apa? Mana mungkin bi Rini setega itu pada keluarga kita?” tanya Klandra tidak percaya.
“Aku tau kamu tidak akan menyangka, aku juga awalnya tidak mempercayainya tapi bi Rini mengungkapkan semuanya langsung kepadaku. Dan aku harap kamu tidak membencinya karena apa yang dia lakukan bukan karena keinginannya sendiri, dia di paksa melakukan hal itu mas.” Ucap Khansa.
Kalandra hanya diam, ekspresinya berubah menjadi sendu. Mungki Kalandra tidak menyangka jika orang yang sudah dipercayanya selama ini.
Khansa menghampiri Kalandra dan memberanikan diri untuk memeluk suaminya itu, ia mengelus punggung suaminya dengan sangat lembut sehingga menumbuhkan rasa nyaman pada diri Kalandra.
“Tenanglah mas, kita memang tidak pernah mengetahui bagaimana isi hati seseorang yang ada di sekitar kita.” Ucap Khansa.
“A, aku benar-benar tidak habis fikir sa.”
“Sudahlah, apa kamu ingin makan? Aku akan membuatkan makanan untukmu mas, duduklah.” Khansa menuntun Kalandra untuk duduk di kursi makan.
Kalandra melihat istrinya memasak dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Tiba-tiba saja Kalandra merasa pusing, di kepalanya tiba-tiba saja ada kejadian yang sama pernah di alaminya.
Melihat Kalandra yang sedang memegangi kepalanya, Khansa merasa khawatir dan segera menghampiri suaminya.
“Mas, kamu gapapa?” tanya Khansa yang mulai merasa panik.
“Tidak apa-apa, hanya merasa sedikit pusing dan sepertinya aku pernah mengalami kejadian seperti ini.” ucap Kalandra.
Khansa mengelus punggung suaminya dan menenangkannya.
“Tarik nafas mas, mungkin itu adalah sepotong ingatan yang sudah kamu lupakan.” Ucap Khansa.
“Aku harap kamu akan mengingat sedikit-sedikit kenangan yang pernah kita lakukan mas.” Batin Khansa yang masih mengelus punggung suaminya itu.
__ADS_1