MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
APES


__ADS_3

Kadang kamu harus menyerah, bukannya lelah mencoba tapi karena akhirnya kamu sadar bahwa ada hal yg tak bisa dipaksakan yaitu CINTA.




Hai ini, Kalandra, Khansa dan lainnya akan pulang ke Indonesia bersama. Mereka sudah menikmati liburan singkat mereka di Jepang.



“Mami,,” ucap Kenan yang baru saja keluar dari kamar Ryan dan menghampiri Khansa.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605691857024.jpg)



“Hai anak mami, mami kangen banget sama kamu loh..” rengek Khansa sambil memeluk tubuh Kenan.



“Mami jangan sedih lagi ya, soalnya sebentar lagi Kenan bakalan ganggu mami sama papi terus.” Ucap Kenan sambil tertawa memamerkan gigi putihnya.



“Iya sayang, mami siap kok di gangguin kamu.” Ucap Khansa mencium kening Kenan.



“Papi ga siap di gangguin kamu.” Ketus Kalandra.



Khansa dan Kenan langsung menoleh ke arah Kalandra dengan tatapan sinis.



“Wow, kalian kalo lagi ngeliatin aku kayak gitu jadi serem loh kayak induk singa dan anaknya.” Ejek Kalandra.



Ryan dan Rose tertawa mendengar candaan dari Kalandra.



Setelah semua orang sudah berkumpul, mereka dengan segera menuju bandara menggunakan mobil yang sudah mereka pesan sejak pertama mereka berada di Jepang.



Di dalam mobil, Kenan tidak mau dipisahkan oleh Khansa sama sekali. Kenan selalu memeluk Khansa dan sesekali mengelus perut maminya itu.



“Mami, kapan adek-adek Kenan keluar dari perut mami?” tanya Kenan.



“Sabar ya sayang, mungkin sekitar 4 bulan lagi mereka akan keluar dari perut mami dan bermain denganmu.”



“Nanti Kenan tidur sama mami dan papi ya mi..” pinta Kenan.



“Iya sayang, mami juga masih kangen banget sama kamu.”



Setelah percakapan singkat mereka, Kenan tertidur di pelukan maminya hingga mereka tiba di bandara. Khansa ingin membangunkan Kenan namun Kalandra melarangnya dan menggendong Kenan.



“Hati-hati sayang, tetap berada di dekatku nanti kamu hilang.” Ucap Kalandra sambil tersenyum ke arah Khansa.



Khansa hanya tertawa kecil mendengar ucapan suaminya yang menganggapnya anak kecil itu.



Di bandara, Khansa selalu berada di dekat Rose hingga mereka naik ke dalam pesawat.



“Kak, kemarin kak Ryan melamarku.” Bisik Rose kepada Khansa.



Khansa terkejut mendengar ucapan Rose, dia tidak menyangka jika Ryan akan secepat itu melamar Rose.



“Benarkah? Wah ternyata kak Ryan tidak melewatkan kesempatan ya.” ucap Khansa sambil menahan tawanya.



“Baguslah, tapi kalian menikah 4 bulan lagi ya. Setelah aku melahirkan, jadi aku bisa bernyanyi di acara pernikahanmu.” Canda Khansa.



“Hahaha, benarkah kak? Baiklah aku akan mengingat jika kamu akan bernyanyi di acara pernikahanku.” Balas Rose.


__ADS_1


Khansa dan Rose tertawa bersama dengan cukup keras hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian. Kalandra yang berjalan di belakang istrinya itu merasa tidak suka karena istrinya menjadi pusat perhatian dan langsung menghampirinya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605691857028.jpg)



“Sayang, kamu kayaknya pinter banget bikin semua orang merhatiin kamu.” Ucap Kalandra yang langsung memeluk pinggang Khansa dengan tangan kirinya.



Sedangkan Ryan menghampiri Rose dan menggandeng tangannya.



“Kamu ga sadar dari tadi banyak yang melihat ke arah kalian?” tanya Ryan.



“Tidak kak hehe, habis kalo udah sama kak sasa rasanya dunia milik berdua deh gabisa mikir orang lain.” Bisik Rose.



“Kayak orang pacaran aja dunia milik berdua.” Protes Ryan yang hanya di balas senyuman dengan Rose.



Mereka sudah berada di pesawat dan duduk di bangu mereka masing-masing.



“Kak, bukankah tuan Kalandra memiliki jet pribadi? Lalu kenapa dia menaiki pesawat biasa?” tanya Rose yang berada di sebelah Ryan.



“Khansa ingin menaiki pesawat biasa dan bisa berinteraksi dengan orang lain.” Jelas Ryan.



“Kak sasa memang berbeda dengan wanita lainnya, wanita lain sangat ingin menaiki jet pribadi sedangkan dia ingin menaiki pesawat biasa seperti ini.” Puji Rose.



“Dan itulah yang membuat Kalandra mencintainya.” Ucap Ryan.



Rose yang merasa ucapan Ryan benar hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu mereka beristirahat di dalam pesawat hingga tidak terasa mereka sudah sampai di Indonesia.



Edo dan Anita sudah berada di bandara untuk menjemput kedatangan Kalandra dan lainnya.




“Aku ga akan marah kok do capek marahin Kalandra ga akan di denger. Paling cuma aku gantung dia nanti.” Ucap Anita penuh dendam.



“*Astaga kenapa calon istriku kejam sekali*.” batin Edo.



Tidak lama kemudian Khansa memanggil Anita dan berlari memeluk Anita dengan erat.



“Yaampun jangan lari-lari sa, kamu bandel banget sih.” Anita memarahi Khansa yang selalu saja berlari seperti anak kecil.



“Hehehe, habisnya aku kangen sama kakak..”



“Mana suami kamu? Aku harus memberinya pelajaran.” Ketus Anita.



“Ha? Pelajaran? Kenapa kak?” tanya Khansa yang tidak mengetahui apapun.



Edo menarik lengan Khansa dan menempatkannya di sebelah Edo.



“Ada apa sih kak?” tanya Khansa kepada Edo.



“Udah kamu diem aja, sebentar lagi aka nada perang dunia ke 10.” Bisik Edo.



Khansa hanya mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud Edo.



Tidak lama kemudian, Anita melihat Kalandra yang sedang berjalan sambil menggendong Kenan yang sedang tertidur.


__ADS_1


“Do, tolong ambil Kenan dari gendongan Kalandra.” ucap Anita tanpa melihat ke arah Edo.



Dengan segera Edo mengambil Kenan dari gendongan Kalandra dan membawanya berada di dekat Khansa.



“*Sebenarnya ada apa ini*?” batin Khansa yang melihat Edo mengambil Kenan.



Anita segera menghampiri Kalandra dan menendang kaki Kalandra dengan cukup keras. Khansa dan Edo terkejut melihat kejadian itu, begitu pula dengan Ryan dan Rose yang baru saja menghampiri mereka.



Ryan membawa Rose untuk berdiri di sebelah Edo dan Khansa.



“Ada apa ini do?” bisik Ryan kepada Edo.



“Diamlah, anggap saja tontonan gratis.” Balas Edo.



Rose hanya melihat Khansa dan menggandeng tangannya.



“AW! Apa-apaan sih nit, jangan bikin malu deh ini di bandara.” Kalandra merintih kesakitan karena tendangan Anita di kakinya.



“Masih mentingin malu!? Kamu kayaknya butuh di gantung emang Ndra! Kamu ga tau kalo kamu masih butuh perawatan lebih lanjut? Kamu tau kalo statusmu masih sebagai pasien? Ha!?” bentak Anita.



Khansa merasa aneh dengan pertanyaan Anita, karena ia tidak tau jika Kalandra belum berkonsultasi kepada Anita.



“Loh, bukankah mas Andra sudah konsultasi dengan kak Anita?” tanya Khansa.



“Konsultasi apanya sa, bahkan aku tau jika kalian ke Jepang dari Edo kemarin.” Ucap Anita.



Khansa menatap suaminya dengan sinis, dia tidak habis fikir jika suaminya bahkan tidak mementingkan kesehatannya.



Kenan yang mendengar ada suara ribut-ribut menjadi terbangun dan melihat ke arah semua orang.



“Mami? Kenapa papi di marahin?” tanya Kenan yang melihat jika semua orang sedang menatap ke arah papinya.



Kenan turun dari gendongan Edo dan menghampiri maminya.



“Sudahlah, aku tidak ingin melihan Kenan melihat papinya di marahi. Di lanjut nanti saja di rumah ya kak Anita.” Bujuk Khansa.



Akhirnya Anita menyetujui permintaan Khansa dan mereka semua menuju ke rumah Kalandra.



Edo mengajak Kenan bermain di taman bermain sekitar komplek, sedangkan yang lainnya berada di ruang tamu untuk menegur Kalandra.



“Kak, memang akan berakibat fatal jika mas Andra tidak melakukan pemeriksaan?” tanya Khansa kepada Anita.



“Tentu saja, bayangkan saja orang yang sudah tertembak bahkan di bagian kepalanya bisa pulih hanya dengan hitungan bulan.” Ucap Anita.



“Kepala adalah bagian yang sangat fatal sa, si pasien dan orang-orang terdekatnya harus selalu memantau perkembangannya, apakah ada keluhan sakit kepala atau yang lainnya.” Lanjut Anita.



“Lalu kenapa kak Anita tidak memberitahuku?” tanya Khansa.



“Karena Andra berjanji padaku jika dia akan selalu mengikuti pemeriksaan rutin dan dia juga tidak ingin membuatmu mengkhawatirkannya.” Jelas Anita.



Khansa hanya menggelengkan kepalanya dan menatap suaminya yang sedang menunduk tanpa mengatakan sepatah katapun.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605691857031.jpg)

__ADS_1



“*Apes deh, siap-siap ga di kasih jatah nanti malam*.” Batin Kalandra.


__ADS_2