
Setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit, Lila merasa tidak percaya dan sangat senang karena ternyata usia kandungannya sudah 1 minggu. Khansa memberikan ucapan selama padanya begitu juga Kenan.
Lila tidak sabar ingin segera pulang dan berteriak sekencang-kencangnya didalam kamarnya mengeluarkan rasa senangnya yang saat ini sedang di pendamnya.
“pasti kamu mau teriak ya lil?” ucap Khansa yang sangat mengetahui sifat sahabatnya itu.
“kamu tau aja sih, aku pengen cepet-cepet pulang mau teriak, yaallah aku seneng banget sa” ucap Lila
“yaudah ayo kita pulang, Riko pasti seneng banget dapet kabar bahagia ini dari kamu Lil.”
“ayo kita pulang, aku juga ga sabar mau ngasih tau kabar ini ke Riko.”
Khansa, Kenan dan Lila memutuskan untuk pula ke rumah masing-masing.
Sesampainya dirumah, Lila langsung menghubungin Riko untuk memberitahu kabar tentang kehamilannya.
“halo sayang?” ucap Riko dari sebrang telfon.
“kamu sibuk ko? Kapan kamu pulang?” tanya Lila
“sibuk sayang, aku kan lama banget cutinya jadi kerjaan aku numpuk. Mungkin aku akan lembur di kantor.” Ucap Riko.
“baiklah aku akan menunggumu dirumah, cepatlah pulang.”
“ada apa sih? Kamu kok jadi manis banget gini?” tanya Riko yang tidak biasanya istrinya berbicara selembut itu.
“ih aku marah-marah salah, aku manis salah juga. Tauah..” Lila kesal dan mematikan telfonnya.
Setelah menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka bertiga, Ryan meminta Kalandra dan Edo untuk mengantarnya ke makam Amelia, ia ingin tau dimana tempat peristirahatan terakhir Amelia.
“apakan aku boleh sering kemari Ndra?” tanya Ryan kepada Kalandra
“tentu saja boleh, Amelia pasti sangat senang jika kau sering menjenguknya.” Ucap Kalandra
“Ah, akhirnya kita kembali seperti dulu lagi. Aku sangat rindu saat-saat bersama kalian.” Ucap Edo secara tiba-tiba, dan hanya di balas senyuman oleh Kalandra dan Ryan.
“oh iya yan, besok kamu bisa kerumahku untuk bertemu dengan Kenan.” ucap Kalandra.
“benarkah? Apa Kenan akan menerimaku?” tanya Ryan ragu
“tenang saja, aku yakin dia akan menerimamu cepat atau lambat.”
Mereka bertiga memutuskan untuk berkumpul dan melakukan hal yang biasa mereka lakukan seperti dulu saat remaja.
Kalandra, Edo dan Ryan berada di sebuah café tempat mereka makan dan minum dulu, disana juga tempat dimana mereka mengajak Amelia dan Hani ikut berkumpul.
“apa kalian ingat dulu kita sering kesini dengan Amelia dan Hani?” tanya Edo
“hahaha benar sekali, ohiya apa kabar Hani sekarang? Apa dia sudah menikah Ndra?” tanya Ryan
“entahlah, aku sudah lama sekali tidak berhubungan dengannya.” Ucap Kalandra
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada pelayan yang menghampiri mereka untuk mencatat pesanan mereka. Kalandra sangat terkejut melihat pelayan itu adalah Hani, cinta pertamanya saat berada di bangku SMA.
“Hani!?” ucap Kalandra
Wanita tersebut merasa namanya dipanggil langsung mengangkat kepalanya dan terkejut melihat ketiga pria yang sangat ia kenal.
“Andra!?” Hani sama terkejutnya melihat Kalandra berada di hadapannya.
“loh Hani? Wah kamu panjang umur sekali kami baru saja membicarakanmu.” Ucap Edo
“ha? k..kalian membicarakan aku apa?” tanya Hani
“tidak ada, Edo hanya mengarang cerita. Kamu kerja disini han?” tanya Ryan yang menyadari kecanggungan diantara Hani dan Kalandra.
“iya, aku kerja disini. Kalian mau pesan apa?” tanya Hani
“kami pesan minuman yang dulu sering kami pesan saja, kamu pasti ingat kan han?” ucap Ryan, Hani mengangguk dan ingin meningalkan mereka namun Kalandra menghentikan langkah Hani.
“Hani, bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Kalandra yang dibalas anggukan oleh Hani.
Kalandra memilih tempat duduk jauh dari kedua sahabatnya karena ia ingin berbicara empat mata dengan Hani. Sedangkan Hani hanya mengikutinya dari belakang.
“kemana saja kau selama ini? bagaimana kabarmu? Apa kau sudah menikah?” Kalandra menanyakan berbagai macam pertanyaan kepada Hani.
“a,,aku baik-baik saja Ndra, saat aku mengetahui jika kau akan menikah dengan Amelia aku sangat terkejut dan tidak ingin mengganggu hubungan pernikahan kalian jadi aku pergi ke luar kota, disana aku bertemu dengan seorang pria yang selalu ada disaat aku membutuhkannya, kami memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat saat itu namun hal yang membuatku hancur terjadi, saat aku pulang bekerja aku bertemu dengan preman dan mereka melakukan hal yang membuat hidupku hancur, calon suamiku tidak menginginkanku karena aku sudah tidak suci lagi, orang tuaku juga tidak menganggap aku anaknya lagi karena aku hamil di luar nikah, aku sangan hancur dan akhirnya aku kembali ke kota ini dan meminta bantuan temanku untuk mencarikanku pekerjaan agar aku bisa memenuhi kebutuhanku dan juga anak yang aku kandung.” Jelas Hani dengan mata yang berkaca-kaca
“mengapa kau tidak mengubungiku?” tanya Kalandra
“aku sangat malu untuk menghubungimu Ndra, aku tidak ingin merusak kebahagianmu dengan Amelia.”
“Amelia sudah meninggal 6 tahun yang lalu saat ia melahirkan dan meninggalkan seorang putra yang sangat aku sayangi. Aku juga sudah menikah lagi dengan wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi anakku.”
“benarkah? Aku turut berduka atas kepergian Amelia Ndra, dan aku mengucapkan selamat atas pernikahanmu.” Ucap Hani menundukkan kepalanya.
“ikutlah kerumahku, istriku pasti sangat senang karena memiliki teman dirumah, lagipula kau sedang mengandung dan sepertinya usia kandunganmu sama seperti usia kandungan istriku, anak kita bisa berteman saat mereka besar nanti.” Ucap Kalandra menawarkan bantuan untuk tinggal dirumahnya.
“t,,tidak usah Ndra, aku tidak ingin mengganggu keluargamu. Istrimu pasti akan keberatan karena ada wanita lain yang tinggal disana” Ucap Hani
__ADS_1
Sebenarnya Hani tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk tinggal dirumah Kalandra, tapi ia berusaha untuk menarik simpati Kalandra lebih dalam lagi.
“aku akan memberikan kartu namaku, kau bisa menghubungiku saat sedang membutuhkan bantuan, tidak perlu ragu karena kita adalah teman.” Ucap Kalandra memberikan kartu namanya kepada Hani lalu meninggalkannya dan kembali menghampiri teman-temannya.
Ryan dan Edo sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan antara Kalandra dan Hani.
“kamu ngomongin apa sama Hani Ndra? Jangan macem-macem kamu Ndra, inget Khansa dirumah.” Ucap Edo
“gila kamu do, ya ga macem-macem lah, Khansa tetap dihati.” Ucap Kalandra.
“emang kalian ngomongin apa sih Ndra kayaknya serius banget?” tanya Ryan
“aku hanya menanyakan kabarnya saja, dia menceritakan semua yang telah dialaminya selama ini.” ucap Klandra
Tiba-tiba hp Kalandra berdering, Kalandra mengambil hpnya yang ada di dalam saku lalu tersenyum melihat nama yang terpampang di hpnya.
“halo sayang,,?” ucap Kalandra
“…..”
“aku? Aku lagi di café bareng Ryan dan Edo”
“…..”
“iya, kesalahpahaman diantara aku dan Ryan sudah terselesaikan.”
“…..”
“iya, aku akan segera pulang sayang, kamu mau titip apa? Apa anak kita menginginkan sesuatu?”
“……”
“apa? Mangga disebelah rumah ibu? Sayang, rumah ibu itu ga dekat loh, lagipula aku tidak tau apakah pohon mangganya berbuah.”
“…..”
“baiklah baik, aku akan menghubungi Leo dulu buat nanya apakah pohon tetangganya sudah berbuah, dah sayang aku sayang kamu..”
Kalandra menutup telfonnya dan menghela nafas.
“pasti istrimu lagi ngidam ya Ndra?” tanya Ryan
“iyanih yan, dia minta mangga disebelah rumah ibunya.”
“*bagaimana dulu saat Amelia ngidam? Apakah dia juga meminta hal aneh? Harusnya aku yang berada disampingnya saat itu*.” ucap Ryan di dalam hatinya dengan perasaan menyesal.
Hai kakak kakak sekalian, terimakasih Karena masih setia membaca novel author yaa,, author Akan berusaha membuat cerita yang menarik setiap hari, Mohon dukungannya Dan jangan lupa Vote author ya🥰
author sayang kaliann....
nih bonus buat kalian, fotonya trio wek-wek saat jaman SMA ceritanya....
__ADS_1