MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SAKIT YANG KAMU RASAKAN TAK SETARA DENGAN KEBAHAGIAAN YANG AKAN DI DAPATKAN


__ADS_3

Senyumlah, tinggalkan sedihmu. Bahagialah, lupakan takutmu. Sakit yang kamu rasakan, tak setara dengan bahagia yang akan kamu dapatkan.



***Rumah Sakit***



“Apa kamu sudah memberi tau Khansa?” tanya Edo kepada Rose yang sedari tadi hanya memutar hp ditangannya.



“B,,belum pak, saya takut untuk memberitahu kabar buruk ini.” ucap Rose.



“Saya akan langsung ke rumah kak sasa untuk memberitau hal ini, kak sasa akan sangat terpukul karena kabar ini, jika aku disana, aku akan langsung menenangkannya.” Lanjut Rose



“Baiklah, aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu.” Ucap Edo yang langsung menyuruh salah satu bodyguard untuk mengantar Rose ke rumah Kalandra.



Sepanjang perjalanan Rose merasa takut dan khawatir.



“*Bagaimana jika kak sasa tidak bisa menerima semua ini*?” batin Rose.



Karena terlalu hanyut dalam lamunanya, Rose tidak sadar jika dia sudah berada di rumah Khansa.



Rose turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah Kalandra.



“A,,assalamualaikum..” ucap Rose.



“Waalaikumsalam.” Ucap Khansa sambil membalikkan badannya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604578495707.jpg)



“Rose! Yaampun kamu baik-baik saja?” ucap Khansa yang langsung berlari ke arah Rose.



“Aku baik-baik saja kak.” Ucap Rose sambil tersenyum getir.



Khansa menoleh kebelakang Rose sedang mencari seseorang.



“R..Rose? kenapa kamu datang sendiri kesini? Dimana yang lain?” tanya Khansa.



Mama Ryan yang sama penasarannya ikut mendekati Rose dan menunggu jawaban dari Rose.



“Mmm,, itu..”



“Itu apa? Dimana anak dan cucuku?” ucap mama Ryan.



“Kenan sudah selamat dan kak Ryan juga baik-baik saja.”


__ADS_1


“Alhamdulillah..” ucap Khansa dan mama Ryan bersamaan.



“Lalu kenapa kamu hanya sendiri kemari? Dimana anakku dan suamiku?” tanya Khansa lagi.



Deg!!


Pertanyaan Khansa membuat jantung Rose berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia bingung harus mulai menceritakannya dari mana.



“Kak, bisakah aku masuk dan minum segelas air terlebih dahulu?” ucap Rose yang sedari tadi memang merasa haus.



“Oh iya, ayo masuklah. Aku akan membawakanmu air.” Ucap Khansa yang mempersilahkan Rose untuk duduk dan minum terlebih dahulu.



Setelah meminum air, Rose menatap Khansa dan menarik nafas dalam-dalam.



“Kak, duduklah aku ingin berbicara dengan kak sasa.” Ucap Rose.



Khansa duduk di sebelah Rose, Rose memegang kedua tangan Khansa dan menatap Khansa dengan tatapan yang sedih.



“Kak, tadi saat melakukan penyelamatan Kenan ada sesuatu terjadi. Pak Andra,,, dia...” Rose memutus ucapannya karena tidak sanggup untuk melanjutkannya.



“Ada apa Rose! Katakana ada apa dengan suamiku!!”



“Pak Andra tertembak di bagian kepalanya dan sekarang sedang melakukan operasi di rumah sakit.”




Bi Rini menjatuhkan gelas kosong yang baru saja ia ambil dari meja tamu karena terkejut mendengar ucapan Rose.



Khansa terkejut, dia tidak bisa berkata apa-apa dia sangat syok mendengar perkataan Rose.



“AH!! Perutku!!” teriak Khansa.



Mama Ryan dan Rose panik melihat Khansa yang kesakitan, mereka segera membawa Khansa ke rumah sakit yang sama dengan Kalandra.



Setelah ditangani oleh dokter kandungannya, dokternya mengatakan bahwa Khansa mengalami kram di perutnya karena terlalu syok dan memerlukan banyak istirahat.



“*Yaampun bagaimana bisa jadi begini, terlalu banyak ujian yang dialami oleh mereka*.” Batin mama Ryan.



Operasi Kalandra masih belum selesai, semua orang menunggu dengan perasaan khawatir. Kenan masih belum berhenti menangis, Edo, Leo dan Ryan sudah berusaha untuk menenangkannya tapi tetap tidak berhasil.


“Kenan, berhentilah menangis. Papimu akan baik-baik saja, percaya sama om Leo.” Ucap Leo.


“Hikss,, ini gara-gara Kenan, harusnya papi ga menyelamatkan Kenan, harusnya biarin aja Kenan diculik hikss..” Kenan menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Tidak Kenan, ini bukan salah Kenan. om Ryan yang salah karena tidak melindungi Kenan dan papi Kenan.” ucap Ryan.


Kenan hanya bisa menangis karena menyalahkan dirinya.


Tidak lama kemudian Anita keluar dari ruang operasi dan menghampiri teman-temannya.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Andra?” tanya Edo.


“Operasi berjalan dengan lancar, tapi Andra koma. Aku ga tau kapan dia akan sadar, kita harus menunggunya sambil berdoa.” Ucap Anita.


Drrtt..drrtt..


Hp Anita berbunyi, dia melihat ke layar hpnya dan langsung mengangkatnya.


“Halo Rose?”


“Kak, kak sasa ada di rumah sakit ini juga, dia tidak sadarkan diri dan perutnya kram karena terkejut mendengar kabar tentang pak Andra.” Ucap Rose.


“Apa!? Baiklah aku akan segera kesana.”


Anita mematikan telfonnya dan melihat ke arah Kenan.


“Kenan sayang, mami kamu sekarang lagi ada di rumah sakit ini dan dia butuh kekuatan dari Kenan. Tante Anita minta Kenan jangan menangis lagi ya agar mami tidak semakin khawatir.” Ucap Anita kepada keponakannya itu.


Kenan mengangguk dan menghapus air matanya.


“Kalian ikutlah denganku, Kalandra juga masih belum bisa di jenguk.”


Ryan, Leo dan Edo mengikuti Anita untuk melihat keadaan Khansa.


“Yaampun kak sasa bagaimana bisa seperti ini! aku harus menelfon ayah dan ibu.” ucap Leo yang terkejut karena melihat kakaknya tidak sadarkan diri.


“Ryan! Apakah kamu tidak apa-apa?” ucap mama Ryan sambil memutar balik tubuh Ryan.


“Ryan tidak apa-apa ma.”


“Syukurlah..” mama Ryan menghela nafas panjang karena anaknya tidak apa-apa.


“Mami!! Hikss, kenapa mami juga tidur. Jangan tinggalin Kenan mi hikss..” Kenan menangis dan memeluk tubuh Khansa dari samping.


Semua orang yang berada di sana sangat sedih melihat Kenan menangis sampai nafasnya tidak beraturan. Anita menenangkan Kenan dan memeluknya.


“sepertinya kita juga harus menelfon orang tua Kalandra.” ucap Edo kepada Ryan dan Anita.


Ryan dan Anita mengangguk dan menyetujui saran dari Edo.


“Siapa yang akan memberitau kabar ini kepada mereka?” tanya Ryan.


“Biar aku saja yang menelfonnya.” Ucap Anita.


Anita sangat mengetahui sifat tantenya itu jadi dialah yang akan berbicara dengan tantenya dan memberitau tentang keadaan Kalandra.


Khansa membuka matanya dengan perlahan, Kenan yang melihat maminya terbangun segera memanggil Anita untuk melihat keadaan maminya.


“Tante! Mami bangun, cepat periksa keadaan mami.” Ucap Kenan.


Dengan segera Anita masuk ke dalam ruangan Khansa dan melihat keadaannya.


“Sa? Kamu sudah sadar? kamu baik-baik saja kan? Apa kamu ingin minum air?” tanya Anita.


“Kak Anita, dimana mas Andra kak?” tanya Khansa yang masih terlihat lemah.


“Em,, Andra dia,, dia masih belum sadar sa.”


“Hikss,, hikss bagaimana ini kak, apakah dia akan meninggalkanku dan aketiga anakku?” ucap Khansa sambil menangis.


“Jangan menangis sa, kita harus berdoa agar Kalandra bisa segera sadar ari komanya.”


“Apakah aku bisa melihat kondisi mas Andra kak?”


“Tentu saja boleh, tapi sebelum itu lihatlah siapa yang dari tadi mengkhawatirkanmu.”


Anita menoleh ke arah Kenan yang sedang bersembunyi di belakangnya.


“Yaampun anak mami!!” teriak Khansa.


“Mami..”


Khansa memeluk Kenan dengan sangat erat, dia begitu merindukan anak kesayangannya itu.


“Sayang, mami sangat merindukanmu. Apakah kamu baik-baik saja? apa ada yang terluka? Apakan mereka menyakitimu? Apakah mereka memberi kamu makan sayang? Kenapa kamu terlihat kurus sekarang sayang.” Ucap Khansa sambil mencium wajah Kenan bertubi-tubi.


“Mami, Kenan baik-baik saja mi, tapi papi mi papi hikss..” Kenan mulai menangis kembali mengingat papinya yang tidak sadarkan diri karena dirinya.


“Ini semua karena Kenan, seharusnya Kenan tetap di gudang itu hikss..” lanjut Kenan.


“Tidak sayang! Kamu tidak salah, papi menyelamatkanmu karena dia sangat menyayangimu, jangan menyalahkan dirimu jika papi mengetahui hal ini pasti dia akan sedih.” Ucap Khansa menenangkan anaknya.


Khansa memeluk Kenan dengan erat dan mengelus punggung anaknya itu dengan lembut.

__ADS_1


“Aku harus kuat demi Kenan, aku masih memiliki Kenan yang membutuh kekuatan. Cepatlah sadar mas, aku dan Kenan sangat merindukanmu.” Batin Khansa.


__ADS_2