
Rey yang mendapat amanah dari Kenan untuk menjemput Alya segera melajukan mobilnya menuju sekolah Alya.
"Hai Alya.." sapa Rey saat dia melihat Alya baru keluar dari gerbang sekolah.
"Hai om Rey.." balas Alya dengan senyumannya.
"Om? Uncle Al uncle." tegas Rey.
"Iya iya deh uncle, hehehe.." Alya memamerkan gigi putihnya kepada Rey.
"Jangan tersenyum, uncle ga mau kalau sampai teman-temanmu menyukaimu nanti!" Bisik Rey.
"Ih! daddy bilang masih kecil ga boleh pacaran uncle.."
"Hehehe, sudah ayo kita pulang." ajak Rey.
"Daddy ga jemput Alya?" Tanya Alya dengan nada sedihnya.
"Daddy sedang membantu mommymu karena baby El sedang rewel." jelas Rey.
Namun Elea masih saja memasang wajah sedih, Rey yang mengetahui hal itu langsung berjongkok membuat dirinya sejajar dengan Alya.
"Kenapa sedih sayang? Kan daddy lagi ngurus adiknya Alya.." ucap Rey.
"Daddy kemarin juga bilang begitu.."
"Hai sayang!" teriak Kenan yang baru saja sampai di sekolah anaknya.
"Daddy!!" teriak Alya sambil berlari ke arah daddynya.
Kenan segera memeluk anaknya dan menggendong tubuhnya, dia menciumi wajah anaknya berkali-kali.
"Ih daddy jangan cium Alya nanti Alya di ledekin sama temen-temen Alya.." Protes Alya.
"Kenapa memangnya?"
"Mereka akan mengejek aku anak manja dad.."
"Kamu memang anak manja bukan?"
Alya hanya menatap daddynya dengan tatapan tajam.
"Kenapa abang datang? Katanya repot sama El." ucap Rey.
"Iya, tapi Belinda bilang dia bisa mengatasinya jadi aku menjemput Alya deh." jelas Kenan.
"Kalau begitu aku kembali ke perusahaan dulu ya bang." pamit Rey.
"Ga mau ikut ke rumah? Ayo makan siang di sana dulu baru kembali ke perusahaan." ajak Kenan.
"Engga deh, aku janjian makan sama rekan kerjaku." ucap Rey.
"Rekan kerja? Cih! Paling juga sama Karina!" ejek Kenan.
"Yah mau gimana lagi bang, dia saja yang enak di ajak ngobrol."
"Bilang saja kalau dia hanya pelarianmu karena Elsa tidak ada!"
"Abang.."
"Oh iya, Elsa kan belum pulang kenapa kamu tidak bertemu dengannya?" Tanya Kenan.
"Entahlah, pesanku bahkan tidak pernah di balas sesaat dia pindah ke Paris bang."
__ADS_1
"Kamu tidak mau bertanya padanya?"
"Sudahlah bang, dia sudah memiliki kekasih dan sepertinya hubungan mereka serius, aku hanya ingin menunggunya aku akan menjadi rumah untuknya pulang." ucap Rey yang berubah menjadi serius.
"Apa kamu butuh teman untuk bercerita? Kita bisa mampir ke cafe sebentar." Kenan tau kalau adiknya itu ingin sekali bercerita tentang masalahnya, jadi dia menawarkan dirinya untuk menjadi pendengar.
"Tidak usah bang, kapan-kapan saja deh aku akan main ke rumahmu." ucap Rey.
"Baiklah kalau begitu, maaf ya sudah merepotkanmu aku juga lupa menghubungimu karena terburu-buru tadi." ucap Kenan.
"Tidak masalah bang, aku senang kalau harus menjemput Alya."
Setelah berpamitan, mereka berdua pergi secara terpisah.
Alya sangat bersemangat karena hari itu daddynya menjemputnya lagi setelah seminggu tidak pernah menjemputnya.
"Kenapa anak daddy senyum-senyum sendiri begitu?" Tanya Kenan.
"Tidak apa-apa, Alya senang daddy menjemput Alya." ucapnya.
"Apa Alya mau berkencan dengan daddy hari ini?" Tanya Kenan.
"No! Alya ingin cepat-cepat bertemu dengan baby El dad.."
"Baiklah kita akan langsung pulang dan bertemu dengan baby El."
Di sisi lain, Rey yang berada di dalam mobilnya sengaja melewati apartment milik Elsa dengan harapan bisa bertemu dengannya tanpa sengaja.
Rey memang berhasil melihat Elsa, namun bukannya Elsa yang sedang tersenyum, melainkan Elsa yang sedang memakai kaca mata hitam sedang di tarik secara paksa oleh Sandy.
Rey murka melihat Sandy memperlakukan Elsa seperti itu, dia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan langsung keluar dari mobilnya untuk menghampiri Elsa dan Sandy.
Dengan cepat Rey menarik tangan Elsa hingga terlepas dari genggaman Sandy hingga membuat keduanya terkejut.
"Apa begini caramu memperlakukan wanita!" teriak Rey.
"Huh! Kenapa? Kamu mau ikut campur hubunganku?" ucap Sandy sambil melirik tajam ke arah Elsa.
Elsa yang melihat ekspresi wajah Sandy segera berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Rey.
"Kenapa kamu berusaha melepaskan genggamanku Elsa!? Apa kamu di ancam olehnya hingga kamu setakut ini!?" Tanya Rey dengan nada membentak.
"Kak aku mohon lepaskan tanganku." ucap Elsa.
"Kenapa!? Kamu juga kenapa memakai kaca mata hitam di musim hujan hah!" ucap Rey sambil membuka kaca mata yang ada di wajah Elsa.
Betapa terkejutnya Rey saat melihat memar di sekitar mata Elsa.
"Els! Bagaimana bisa! Bagaimana bisa kamu jadk seperti ini!" teriak Rey yang melepaskan genggamannya.
Setelah melepaskan genggamannya, Rey langsung memukul wajah Sandy dengan sangat keras.
"Kau! Beraninya memukul wajahku!" teriak Sandy.
Buk!!! Rey kembali memukul wajah Sandy tanpa mengatakan apapun.
"Kamu lihat bagaimana aku akan membalas semua yang sudah kamu lakukan kepada Elsa!" bentak Rey.
Rey langsung menarik tangan Elsa untuk masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak, aku mohon jangan begini.." ucap Elsa memohon kepada Rey.
"Apa kamu selalu di perlakukan seperti ini dengannya?!" Tanya Rey.
__ADS_1
"Kak aku mohon."
"JAWAB AKU ELSA!" Teriak Rey.
"T-tidak, hanya sesekali kalau aku melakukan kesalahan." jawab Elsa.
"Gila! apa om Ryan dan tante Rose tau tentang hal ini?"
"Tentu saja tidak! Mereka hanya tau kalau aku memiliki hubungan yang baik-baik saja dengan kak Sandy."
"Gila! Kamu benar-benar sudah gila Elsa!! Bagaimana kamu bisa bertahan selama ini!"
"D-dia,, dia mengancamku kak.."
"Apa yang dia tau sampai kamu ketakutan seperti ini hah!"
"A-aku,, aku..."
"Aku apa Elsa! Jangan membuatku menjadi semakin kesal!" bentak Rey kembali.
"Maaf, aku belum bisa mengatakannya kepadamu kak."
Rey yang frustasi hanya bisa memukul stir mobilnya dengan keras hingga membuat Elsa terkejut.
"Kak, kita mau kemana?" Tanya Elsa.
"DIAM!"
Mendengar bentakan dari Rey membuat Elsa terdiam dan tidak mengucapkan sepatah katapun lagi.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Rey menghentikan mobilnya di depan rumah sakit tempat Kenan bekerja.
"Kak! Kenapa kemari? Bagaimana kalau abang tau? hikss,, aku mohon kak kembalikan aku ke apartmentku.." ucap Elsa dengan tangis yang sudah menetes di pipinya.
"Jangan menangis! Abang sedang tidak bekerja jadi kamu aman! Aku ingin mengambil visum untuk menuntut laki-laki brengsek itu!"
"Kak, aku baik-baik saja.."
"Bahkan papa dan mamamu sudah tergila-gila dengan laki-laki itu sampai dia tidak pernah memeriksa keadaanmu!"
Elsa terus saja memohon untuk tidak menuntut Sandy hingga membuat Rey kesal.
"Apa kamu tidak bisa diam! Berisik sekali!"
Rey memeriksakan keadaan Elsa dan meminta visum untuk menuntut Sandy atas kekerasan yang dia lakukan kepada Elsa.
"Apa separah itu dok?" Tanya Rey.
"Ini sudah parah karena saya yakin kalau memar ini bukan hanya di pukul sekali saja." ucap dokter tersebut.
"Dengar!? Kalau kamu masih bertahan dengan laki-laki brengsek itu, kamu akan mati perlahan Elsa!"
"Tenanglah tuan, jika anda membutuhkan saksi saya beesedia untuk menjadi saksinya!" ucap dokter tersebut.
"Terimakasih banyak dok, saya harap dokter bisa menjaga rahasia tentang hal ini ya.." ucap Rey yang di balas anggukan oleh dokter tersebut.
Setelah itu, Rey membawa Elsa ke apartment pribadinya dan menyuruhnya untuk tinggal di sana.
"Kenapa kamu membawaku ke apartmentmu kak?" Tanya Elsa.
"Tinggalah di sini sampai aku berhasil memenjarakan Sandy!"
"Lalu kak Rey tinggal di mana kak? biarkan aku tinggal di apartmentku sendiri."
__ADS_1
"Aku bisa tinggal di rumah orang tuaku! Laki-laki brengsek itu akan mendatangimu dan menerormu jika kamu tinggal di apartmentmu! Lebih baik kamu tinggal di sini atau aku akan memberi tahu tentang hal ini kepada yang lain." ancam Rey.
Mendengar ancaman dari Rey membuat Elsa ketakutan dan akhirnya mengalah untuk tinggal di apartment milik Rey.