MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SENANG ATAU SEDIH?


__ADS_3

Papi Kalandra, mami Khansa dan Belinda sedang berada di ruang tamu untuk berbincang-bincang, sedangkan Kenan sudah berangkat ke perusahaan untuk bekerja.


"Mi, kemana yang lain?" Tanya Belinda.


"Ken sedang bekerja, Key dan Andini sedang pergi ke butik, tapi sepertinya ada sesuatu karena Ken menelfon mami tadi, dia sepertinya sangat mengkhawatirkan keadaan Andini." ucap mami Khansa.


"Ada apa emang mi? Ken tidak pernah khawatir seperti itu kan?"


"Entahlah, mami juga jadi sedikit khawatir."


"Tenang saja, mungkin Ken sudah mulai memiliki perasaan kepada Andini itulah kenapa dia merasa khawatir." sambung papi Kalandra.


Di tengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba hp papi Kalandra berdering, papi Kalandra segera melihat hpnya dan mengangkatnya.


"Halo Key?"


Key menjelaskan semuanya kepada papinya, dia menceritakan semuanya secara rinci tentang kejadian Andini.


"Apa!? Berani sekali dia melakukan hal itu kepada keluarga kita! Apa dia sudah bosan hidup?" Tanya papi Kalandra yang sangat geram dengan perlakuan Audrey kepada calon menantunya.


Setelah selesai menelfon, mami Khansa dan Belinda yang dari tadi penasaran menunggu penjelasan dari papi Kalandra.


"Ada apa mas?" Tanya mami Khansa.


"Key bilang, kalau Andini hamil.."


"Alhamdulillah.." ucap mami Khansa dan Belinda secara bersamaan.


"Tapi kenapa kamu kelihatan marah mas?" Tanya mami Khansa.


"Tapi bayinya tidak bisa di selamatkan, Andini keguguran karena Audrey menculiknya dan mendorong Andini dengan keras hingga Andini pendarahan dan janinnya tidak bisa di selamatkan." jelas papi Kalandra.


Mami Khansa dan Belinda terkejut mendengar penjelasan dari papi Kalandra. Bahkan mami Khansa pun sangat marah dengan perbuatan Audrey yang selama ini dia kenal sebagai gadis yang baik.


"Bagaimana bisa dia sekejam itu! Apa salah Andini padanya?" ucap mami Khansa.


"Dia sudah terlalu terobsesi dengan Ken mi jadi dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Ken kembali." ucap Belinda.


"Sebaiknya kalian berdua segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Andini." ucap papi Kalandra.


"Loh, kamu mas? Kamu ga ikut ke rumah sakit?" Tanya mami Khansa.


"Aku masih ingin melakukan sesuatu hal sebelum ke rumah sakit, kalian berdua pergilah dulu." ucap papi Kalandra.


"Jangan melakukan apapun yang berbahaya mas.." ucap mami Khansa mengingatkan.

__ADS_1


"Tidak akan sayang, tenang saja aku tidak akan melakukan apapun kok janji.." ucap papi Kalandra.


Dengan sedikit ada kecurigaan, akhirnya mami Khansa dan Belinda segera berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Andini.


Setelah melihat kepergian istri dan menantunya, papi Kalandra segera menghubungi seseorang dari telfonnya.


"Halo Edo.." ucap papi Kalandra yang ternyata menghubungi Edo yang tidak lain adalah sahabat sekaligus mantan asisten pribadinya.


"Hai Ndra, ada apa? tumben sekali kamu menghubungiku." Ucap Edo dari sebrang telfon.


"Hmm, aku ingin meminta bantuanmu."


"Bantuan apa?"


"Kamu tau bukan perusahaan yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan Ken bukan?" Tanya papi Kalandra.


"Perusahaan tuan Aldi yang dulu bekerja sama dengan kita itu kan?" Tanya Edo meyakinkan.


"Iya."


"Emangnya ada apa dengan perusahaan itu?" Tanya Edo.


"Aku ingin nama perusahaan itu hilang tanpa tersisa sedikitpun!"


"Apa? Ada apa sebenarnya? Kamu tidak pernah menyuruhku untuk membuat sebuah perusahaan bangkrut Ndra, pasti ada sesuatu bukan?" Tanya Edo.


"Baiklah Ndra, aku akan mencoba untuk membuat perusahaan mereka hancur seketika, kamu tau bukan kalau aku sudah lama tidak melakukan hal seperti ini." ucap Edo.


"Aku tau kemampuanmu masih belum hilang Edo, aku juga akan meminta Leo untuk membantumu." ucap papi Kalandra.


Setelah mendengar persetujuan dari Edo, papi Kalandra segera mematikan telfonnya dan bergegas untuk ke rumah sakit menyusul istrinya.


"Maaf Aldi, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini, tapi anakmu lah yang memaksaku melakukan hal ini." batin papi Kalandra yang sudah berada di dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit mami Khansa dan Belinda segera berlari menuju ruangan Andini. Di sana Aldi dan istrinya melihat ke arah mami Khansa dengan perasaan bersalah.


Mami Khansa tidak memperdulikan mereka berdua, dia hanya terus berjalan menuju ke ruangan calon menantunya.


"Mami masuk saja dulu, Belinda tau kalau Andini lebih membutuhkan mami saat ini." ucap Belinda.


"Baiklah, kamu tunggu di sini sama Key dan Rey ya." ucap mami Khansa yang di balas anggukan oleh Belinda.


Mami Khansa berada di depan pintu ruangan Andini dan di situ juga mami Khansa melihat Audrey yang baru saja keluar dari ruangan Andini dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Mami Khansa sangat marah melihat wajah polos Audrey yang ternyata sifatnya sangat bertolak belakang dengan wajahnya.

__ADS_1


PLAK!! Mami Khansa menampar pipi Audrey dengan kencang hingga membuat tangan mami Khansa memerah.


Untuk pertama kalinya mami Khansa menampar anak orang lain, terlebih Audrey adalah anak dari cinta pertamanya namun mami Khansa tidak perduli akan hal itu.


Audrey memohon maaf kepada mami Khansa namun nihil, mami Khansa tidak menggubris ucapannya dan hanya berjalan masuk ke dalam ruangan untuk menghampiri Andini.


Audrey yang kesal akan hal itu langsung berlari dari ruangan Andini dan ingin pergi dari rumah sakit namun papi Kalandra yang sudah berada di pintu rumah sakit segera menyuruh orang-orang bertubuh besar untuk menangkap Audrey.


"Apa-apaan ini!!" teriak Audrey.


"Jangan berisik! Ikut saja bersama kami dengan tenang." ucap laki-laki bertubuh besar itu.


Papi Kalandra segera menghampiri Audrey dengan wajah yang tidak bersahabat, sedangkan Audrey yang melihat papi Kalandra seperti itu merasa sangat ketakutan.


"O-om,, Kenapa orang-orang ini menangkapku?" Tanya Audrey yang sudah ketakutan.


"Key bilang kamu akan menerima hukuman apapun dari Ken bukan? Ini adalah hukuman dariku, setelah itu kita lihat hukuman apa yang akan di berikan Ken kepadamu." ucap papi Kalandra.


Wajah Audrey mendadak menjadi pias saat mendengar ucapan papi Kalandra.


"Tidak! Tidak mungkin Ken sekejam itu!" Batin Audrey di dalam hatinya.


Papi Kalandra memberi isyarat kepada kedua orang suruhannya untuk membawa Audrey ke dalam mobil dan pergi dari rumah sakit, sedangkan papi Kalandra berjalan mencari ruangan Andini.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya papi Kalandra yang baru saja melihat istrinya berlari dengan wajah yang panik.


"Belinda pingsan mas, aku bisa minta tolong kamu hubungi Kenan mas? Kenan harus tau tentang hal ini." ucap mami Khansa.


"Baiklah aku akan menelfon Kenan, aku juga akan ikut kamu melihat keadaan Belinda, aku yakin Ken bisa menjaga Andini sendirian." ucap papi Kalandra yang di balas anggukan kepala oleh mami Khansa.


Akhirnya papi Kalandra ikut bersama mami Khansa melihat keadaan Belinda yang sudah di bawa Rey agar segera di periksa oleh dokter.


"Bagaimana? Apa sudah ada hasilnya?" Tanya mami Khansa yang baru saja tiba di depan ruangan pemeriksaan.


"Belum mi, sebenarnya ada apa ya? Apa kak Belinda sedang sakit?" Tanya Key.


"Sepertinya tadi dia baik-baik saja kok." jawab mami Khansa.


Tidak lama kemudian dokter yang menangani Belinda keluar dari ruang pemeriksaan dan mencari keluarga Belinda.


"Siapa suami pasien?" Tanya dokter tersebut.


"Dia menantu saya dok, anak saya sedang berada di perusahaan sebentar lagi akan segera kemari, sebenarnya apa yang terjadi kepada menantu saya? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?" Tanya mami Khansa.


"Selamat karena tuan dan nyonya sebentar lagi akan mendapatkan seorang cucu!" ucap dokter tersebut.

__ADS_1


Semua orang di sana terkejut mendengar ucapan dokter tersebut dan meneteskan air mata bahagia.


"Yaallah, kenapa jadi seperti ini, di saat calon menantuku kehilangan calon bayinya, menantuku yang lain mendapatkan seorang bayi,, apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini? Apa aku harus senang atau sedih?" batin mami Khansa.


__ADS_2