MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
COBAAN BERTUBI-TUBI


__ADS_3

Seseorang terlihat kuat, tak berarti dia tak pernah bersedih. Dia bersikap seperti tak ada yang salah, tapi mungkin hatinya terluka.



Orang tua Kalandra sudah datang sehari setelah diberi kabar tentang keadaan Kalandra oleh Anita, mama Alisha sangat panik dan khawatir dengan keadaan anaknya tapi dia mencoba ikhlas menerima ujian yang dialami keluarganya. Dia merasa Khansa sangat membutuhkan dukungan dan semangat dari orang-orang di sekitarnya.



Sudah seminggu Kalandra tidak sadarkan diri, Khansa selalu setia menemani suaminya terkandang hingga dia tidak tidur sama sekali.



Semua orang yang berada disana secara bergantian datang untuk menemani Khasa dan sering kali menasehati Khansa namun tidak di dengar oleh Khansa.



“Sayang, kamu pulang dan istirahatlah dengan nyaman di rumah. Kamu udah seminggu tidur di sofa yang kecil itu, pasti tidak nyaman untukmu.” Ucap mama Alisha.


“Yaampun ma sofa itu sangat nyaman dan besar, bahkan ukurannya hampir sama dengan ukuran tempat tidur sasa di rumah.” Ucap Khansa.



“Ya tapi kamu butuh istirahat dengan nyaman di rumah sa, kasihan anak yang ada di perutmu. Mereka juga akan merasakan apa yang maminya rasakan.”



“Biarkan Khansa di sini ya ma, Khansa gamau kalo nanti mas Andra bangun dia ga liat Khansa.”



“Sa, kamu dengar apa yang di katakan dokter kan? Jangan terlalu berharap jika Kalandra akan mengingat semuanya.” Mama Alisha tidak ingin jika Khansa malah akan semakin tersakiti jika mengetahui suaminya tidak mengingatnya.



“Walaupun mas Andra tidak mengingatku, aku akan selalu berada di sampingnya dan berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan ingatannya.” Ucap Khansa sambil melihat ke arah Kalandra yang masih menutup matanya.



“Baiklah, mama akan pulang dulu untuk mengambil baju ganti untukmu.”



Khansa mengangguk mengiyakan ucapan mama mertuanya itu. “Terimakasih ma...” Ucap Khansa.



Mama Alisha keluar dari ruangan Kaladra meninggalkan Khansa sendiri di ruangan Kalandra.



Khansa menghampiri Kalandra dan menggenggam tangannya yang sedang di infus.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604669164369.jpg)



“Mas, kata dokter jika orang sedang koma dia tetap masih bisa mendengar ucapan orang disekitarnya dengan baik. Selama ini aku selalu menceritakan hal-hal kecil kepadamu tentangku dan Kenan, aku harap kamu tidak akan bosan mendengar ocehanku ya mas..


Apa kamu tau jika aku sangat menyayangimu? Mungkin saat kamu sadar nanti kamu akan melupakanku, tapi aku tidak akan pernah berhenti berusaha untuk mengingatkanmu tentang kenangan kita, cepatlah sadar dan berjuang bersama untuk mengingat semua kenangan kita.”



Khansa selalu berusaha untuk menceritakan kenangannya bersama dengan Kalandra dengan harapan agar Kalandra tidak melupakannya.



Tok..tok..tok..

__ADS_1



“Assalamualaikum..”



“Waalaikumsalam.. kak Ryan?”



“Hai sa, aku habis jemput Kenan tadi terus dia bilang mau langsung ketemu sama papi dan maminya.” Ucap Ryan sambil menggandeng Kenan.



“Hai sayang bagaimana sekolahnya hari ini? maafkan mami ya tidak pernah menjemputmu.” Ucap Khansa sambil memeluk tubuh mungil anaknya.



“Sekolah Kenan lancar mi, papa Ryan nungguin Kenan dari masuk sampe Kenan pulang.”



“Papa?” Tanya Khansa heran sambil menatap ke arah Ryan untuk meminta penjelasan.


“Nanti aja aku jelasin semuanya, sekarang aku mau ke perusahaan dulu. Dah Kenan,, besok papa akan mengantarmu lagi ya.” Ucap Ryan sambil melambaikan tangannya kepada Kenan.



“Terimakasih ya kak, maaf karena sudah merepotkanmu.” Ucap Khansa



“Terima kasih pa, sampai jumpa besok.” Ucap Kenan lalu membalas lambaian tangan Ryan.



Ryan tersenyum dan menutup pintu perlahan.




Khansa menatap anaknya itu.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604669164364.jpg)



“Benarkah? Jadi Kenan tidak marah sama papa Ryan lagi?”



Kenan menggelengkan kepalanya.



“Baguslah, ga baik kalo terlalu lama marah sama orang ya sayang..”



Kenan menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan maminya.



“Papi, papi cepat bangun ya. Kenan sama papa Ryan sudah baikan loh, papi pasti seneng deh kalo tau kami sudah baikan.” Ucap Kenan kepada Kalandra yang masih memejamkan matanya.


__ADS_1


Khansa tersenyum bahagia melihat anaknya sudah mulai ceria setelah trauma yang di alaminya itu.



“*Lihatlah mas, bahkan baru seminggu kamu tidak sadarkan diri tapi sudah ada banyak hal baik yang sudah terjadi. Cepatlah bangun dan kembali bersama kami*.” Batin Khansa melihat ke arah suaminya.



Dua hari setelah kejadian di culiknya Kenan, Khansa dan Kenan berada di rumahnya untuk menyiapkan keperluan mereka di rumah sakit. Tiba-tiba saja lampu di komplek mereka mati karena ada perbaikan.


“AAAAA!!!!!” teriak Kenan yang berada di kamarnya.


Khansa yang terkejut mendengar teriakan anaknya itu dengan segera menghampirinya.


Betapa kagetnya Khansa melihat anaknya sedang duduk di pojok kamar tidurnya dengan tangan memeluk lututnya.


“Kenan sayang! Kamu kenapa sayang?” Khansa yang panik dengan segera memeluk tubuh putranya itu.


“Ada apa sayang?” tanya Khansa lagi.


“Kenan takut mi, gelap hikss,, hikss,,”


“Oke, kita akan keluar dari sini. Kamu tenang ya, ada mami di sini semuanya akan baik-baik saja.”


Khansa menuntun Kenan keluar dari kamarnya dan keluar rumah, di luar rumah Kenan sudah merasa lebih baik setelah melihat cahaya terang dari lampu jalan yang memang tidak mati.


Khansa melihat ke arah Kenan dengan tatapan sendu.


“Apa jangan-jangan Kenan menjai trauma karena kejaian penculikan itu?” batin Khansa yang masih melihat Kenan.


Dengan segera Khansa mengambil hpnya dan menelfon Anita.


“Halo kak Anita?”


“Ada apa sa?”


“Kenan kak, dia tiba-tiba histeris saat lampu mati. Aku sudah membawanya ke luar rumah dan dia sudah sedikit lebih tenang karena ada lampu jalan yang tidak mati.”


“Ada kemungkinan dia mengalami trauma, segeralah ke rumah sakit aku akan menghubungi psikolog terbaik untuk membantu Kenan menghadapi traumanya.” Ucap Anita.


“Baiklah kak, aku akan membawa Kenan ke rumah sakit segera.”


Khansa segera membawa Kenan ke rumah sakit dan bertemu dengan Anita. Khansa langsung keluar dari mobil setelah melihat Anita menunggu mereka di depan pintu rumah sakit.


“Gimana Kenan sudah baik-baik saja?” tanya Anita.


“Sudah lebih baik kak, tadi aku panik banget dia tiba-tiba teriak. Biasanya dia ga kayak gitu kak, apa berbahaya kak?”


“Tenanglah, aku akan mencoba berbicara dengan Kenan.”


Khansa mengangguk lalu melihat Anita menghampiri Kenan yang masih ada di dalam mobil.


“Kenan, tenanglah disini sudah terang.” Ucap Anita.


Kenan melihat ke arah tantenya dan melihat ke sekelilingnya.


“Lihat kan semua akan baik-baik saja sayang, tante tidak akan membiarkanmu terluka.”


Anita mengulurkan tangannya, Kenan menggenggam tangan tantenya dengan erat.


Khansa melihat Kenan sudah keluar dari mobil lalu melihat Anita, Anita mengangguk menandakan semua baik-baik saja.


Khansa mengikuti mereka sampai di depan ruangan psikolog anak yang dimaksud Anita.


“Kak, apa Kenan akan baik-baik saja?” tanya Khansa sebelum masuk ke dalam ruangan.


“Tenanglah, dia akan baik-baik saja sa.” Anita mencoba menenangkan Khansa.


Anita melihat Khansa dan Kenan masuk ke dalam ruangan, sedangkan Anita menunggu mereka di luar ruangan.

__ADS_1


“Kasihan sekali kamu sa, kamu diberikan ujian bertubi-tubi seperti ini. Aku harap kamu kuat menghadapi semua cobaan ini.” batin Anita.


__ADS_2