
Malam itu, semua orang sudah pulang dan keadaan rumah Kalandra sangat sepi. Khansa juga menyuruh Kenan untuk pulang ke rumah Ryan hanya untuk malam itu saja.
Awalnya Kenan tidak mau dan sedih karena harus berpisah kembali dengan papi dan maminya, namun setelah di beri pengertian oleh Ryan akhirnya Kenan menyetujui permintaan Khansa.
Khansa sedang menghubungi Kenan untuk berbicara dengannya.
“Kenan sayang, maafin mami ya kita harus berpisah lagi.” Ucap Khansa menyesal.
“Iya mami tidak apa-apa, kata papa Ryan mami mau ngehukum papi karena papi nakal ya? pukul aja mi kalo papi nakal biar ga nakal lagi.” Ucap Kenan.
Khansa tersenyum mendengar ucapan anaknya itu.
“Iya sayang, nanti mama pukul. Kamu tidur ya jangan main hp terus loh, dah sayang mami sayang Kenan.” ucap Khansa yang langsung mematikan telfonnya.
Sedari tadi Kalandra menatap ke arah istrinya yang sedang berbicara dengan anaknya tanpa berkata apapun.
“Kenapa? Kamu ga berani ngomong iya? Udah salah makanya ga berani ngomong?” tanya Khansa kepada Kalandra.
Kalandra hanya diam tanpa berbicara apa pun.
“Kamu sebenernya mau apa sih mas? Kamu seneng banget sakit bukan? Kamu seneng kalo aku nangis-nangis gara-gara mengkhawatirkanmu?” tanya Khansa.
Kalandra tetap tidak menjawab pertanyaan apapun dan tetap menunduk merasa bersalah.
“Coba bilang sama aku, kebohongan apa lagi yang kamu sembunyikan padaku?” tanya Khansa.
“Jawab mas, jangan diem aja.”
“Kalo kamu kenapa-kenapa gimana? Apa yang harus aku lakukan ha?”
“Aku bahkan tidak mengetahui tentang kondisimu lalu apa yang bisa aku lakukan jika kamu merasa sakit saat kita di Jepang?”
“Jawab mas, jangan diem aja.” Ucap Khansa sedikit bernada tinggi.
“Gimana mau jawab kalo dia ngomong terus.” Batin Kalandra sambil menghela nafasnya.
“Kenapa kamu menghela nafas?” tanya Khansa.
“Diamlah sayang diam, bagaimana aku menjawab jika kamu terus memberiku banyak pertanyaan?” tanya Kalandra dengan lembut.
Khansa menenangkan diri dan duduk di sebelah suaminya.
“Sayang, pertama aku tidak ingin mengkhawatirkan kamu. Kedua aku ingin sekali menepati janji kepadamu dan Kenan. Aku tidak ingin mengecewakan Kenan sayang.” Jelas Kalandra.
“Sebagai istri, hal wajar jika dia mengkhawatirkan suaminya mas. Apa kamu tidak mempercayaiku itulah sebabnya kamu tidak memberitahuku tentang kondisi kesehatanmu?” tanya Khansa dengan lembut berusaha untuk mengendalikan emosinya.
“Tidak sayang, aku sangat mempercayaimu. Aku sangat sangat mempercayaimu. Jangan bilang kayak gitu, aku hanya tidak ingin menjadi beban untukmu sayang.”
“Apa akan ada kebohongan lainnya mas?” tanya Khansa.
“Tidak aku berjanji aku tidak akan membohongimu lagi.” Ucap Kalandra sambil menggenggam tangan Khansa.
“Sudahlah tidak udah berjanji jika akan mengulanginya mas.” Ucap Khansa sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.
“Jangan gitu sayang, kamu lebih serem kalo kayak gini. Mending kamu mukul aku deh dari pada diem kayak gini.” Rengek Kalandra.
“Sudahlah mas, aku tidak ingin berdebat denganmu. Hari ini aku akan tidur di kamar Kenan, kamu tidurlah di kamar.” Ucap Khansa yang beranjak dari tempat duduknya.
“Sayang, jangan kayak gitu lah, kamu ga kasian sama aku?” tanya Kalandra.
“Kamu aja ga kasihan sama aku mas.” Ucap Khansa.
Kalandra beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Khansa lalu memeluknya dengan sangat erat.
“Tidak sayang, jangan seperti ini.. Jadi kamu nyuruh Kenan tidur di tempat Ryan karena ini?” tanya Kalandra.
“Hm, aku tidak ingin dia mendengar kita bertengkar dan aku tidak ingin dia tau jika aku tidak tidur bersamamu.” Jelas Khansa.
Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya malam itu Khansa mengalah karena diam-diam Kaladra masuk ke dalam kamar dan memeluk Khansa dengan sangat erat.
Pagi harinya Khansa bangun dari tidurnya dan melihat suaminya masih tertidur lelap di sebelahnya. Ia beranjak dari tempat tidurnya secara perlahan agar tidak membangunkan suaminya.
Khansa menuju ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Khansa menghubungi rumah Ryan untuk menyuruhnya mengantar Kenan ke rumahnya.
“Halo kak Ryan?”
“Halo sa ada apa pagi-pagi menelfon?”
“Kak, Kenan bawa pulang dong. Aku kangen.” Ucap Khansa.
__ADS_1
“Apakah masalahmu dan Andra sudah teratasi?” tanya Ryan.
“Ya begitulah kak, aku tidak ingin memperpanjang masalah.” Ucap Khansa.
“Baiklah, aku akan segera mengantar Kenan ke rumah kalian saat dia terbangun.” Ucap Ryan.
Mendengar ucapan Ryan, Khansa segera mematikan telfonnya dan membuat pudding kesukaan Kenan sebagai ucapan Maaf untuk Kenan.
Kalandra baru saja terbangun dan meraba kasur di sebelahnya, Kalandra segera duduk dan menoleh karena mengetahui istrinya tidak ada di kamar.
Kalandra mengambil hpnya yang berada di meja sebelah tempat tidurnya dan mencoba untuk menghubungi seseorang.
“Halo do?” ucap Kalandra.
“Halo Ndra.”
“Bagaimana dengan permintaanku?” tanya Kalandra.
“Sudah siap, sudah berada di halaman rumahmu.” Ucap Edo.
Setelah selesai menelfon Edo Kalandra mematikan telfonnya dan ingin menghampiri istrinya.
Kalandra tau jika istrinya itu pasti sedang berada di dapur, akhirnya Kalandra pergi ke dapur dan menghampiri istrinya yang baru saja selesai menelfon Ryan.
Kalandra memeluk Khansa dari belakang dan membuat Khansa terkejut.
“Apa sih mas, aku habis nelfon kak Ryan nyuruh dia nganter Kenan ke sini.” Ucap Khansa yang masih sibuk dengan pudding buatannya.
“Apa kamu masih lama dengan pudding itu?” tanya Kalandra.
“Sebentar lagi kok mas, ada apa?”
“Ikut denganku sebentar.” Ajak Kalandra.
“Kemana sih mas? Aku masih bikin pudding.”
Kalandra menaruh peralatan yang dipengang istrinya dan menarik istrinya untuk mengikutinya ke depan rumah.
“Ada apa sih mas?” tanya Khansa.
Kalandra tidak menanggapi ucapan Khansa dan tetap membawanya ke halaman depan rumahnya.
Setibanya di halaman depan, Khansa terkejut melihat ada sebuah mobil mewah yang berwarna putih yang di hias dengan pita merah yang sangat mewah.

__ADS_1
“Yaampun ini mobil siapa mas?” tanya Khansa.
“Mobil kamu sayang, ini adalah hadiah ulang tahunku untukmu.” Ucap Kalandra.
Khansa menatap Kalandra dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Khansa tidak percaya dengan hadiah yang di siapkan oleh suaminya.

“M,,mas? Ini hadiah untukku?” tanya Khansa.
“Hm sayang, ini untukmu. Maaf ya hadiahnya terlambat.” Ucap Kalandra sambil mencium ujung kepala Khansa.
“Terimakasih banyak mas hikss..” ucap Khansa yang menangis tiba-tiba.
Kalandra merasa aneh karena istrinya menangis secara tiba-tiba.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Kalandra.
“Aku sedih mas, kamu ngasih aku sebuah mobil mewah tapi aku tidak bisa menyetir mas. Apakah mobil mewah ini hanya untuk di pajang di garasi kita?” tanya Khansa sambil menatap suaminya.
Kalandra menepuk keningnya karena ia juga baru sadar jika istrinya belum bisa menyetir mobil.
“Tenanglah sayang, aku adalah guru terbaik untuk mengajarimu menyetir.” Ucap Kalandra menenangkan istrinya.
“Oh iya aku masih memiliki hadiah lain untukmu sayang.” Lanjut Kalandra.
“Apa itu mas?” tanya Khansa yang merasa penasaran.
Tidak lama kemudian, ada seseorang yang muncul dari balik mobil dan membuat Khansa terkejut sekaligus senang.
“Mas?” Khansa menatap suaminya dan bertanya-tanya.
Kalandra hanya mengangguk menjawab pertanyaan Khasa.
Khansa segera menghampiri orang itu dan memeluknya dengan erat.
“Bi Rini..” sapa Khansa yang langsung memeluk bi Rini.
Bi Rini tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih karena Khansa masih mau memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya.
“Terimakasih nyonya muda karena sudah memberi bi Rini kesempatan untuk menebus kesalahan bibi. Bi Rini janji kalau bi Rini tidak akan melakukan kesalahan yang sama, dan bi Rini juga akan mengabdi kepada keluarga tuan Kalandra.” ucap bi Rini.
“Masuklah bi, istirahatlah lebih dulu. Selamat datang kembali di rumah bi.” Ucap Khansa dengan senyum manisnya.
Khansa langsung menghampiri suaminya dan meminta penjelasan tentang kedatangan bi Rini.

__ADS_1
“Aku memutuskan untuk memberi bi Rini kesempata kedua sayang.” Ucap Kalandra yang tersenyum dan mengelus rambut Khansa dengan lembut.