
Masa lalu adalah pembelajaran tuk lebih dewasa dalam menyikapi masalah yg mungkin sama dengan yang kita alami dimasa depan.
***Indonesia***
Edo sedang berada di perusahaan untuk menghandle semua pekerjaan Kalandra, tiba-tiba ia tersenyum karena mendapatkan telfon dari Anita.
“Halo sayang..” ucap Edo dengan nada manjanya.
“Halo do, kamu ga liat Andra di kantor? Dia ada jadwal pemeriksaan hari ini.” ucap Anita.
Seketika Edo merasa aneh karena Anita menanyakan keberadaan Kalandra sedangkan Kalandra dan keluarganya sedang berada di Jepang.
“Loh kamu ga tau nit? Mereka semua lagi di Jepang.” Ucap Edo.
“APA!? Jepang? Untuk apa mereka ke Jepang?” tanya Anita dengan nada yang sedikit tinggi.
“Kenan sedang libur sekolah, jadi Kalandra mengajaknya untuk berlibur ke Jepang. Emang dia ga ngasih tau kamu?” tanya Edo.
“Engga sama sekali, dia tuh emang bandel banget sih, pusing aku jadinya.” Protes Anita.
“Dari pada pusing mikirin Kalandra, mending kita makan siang di luar yuk.” Ajak Edo.
“Baiklah, aku juga belum makan.” Ucap Anita.
“Oke, lima menit dari sekarang aku jemput kamu, bersiaplah.” Ucap Edo.
Edo mematikan telfonnya dan bersiap untuk menjemput Anita di rumah sakit.
***Rumah Sakit***
Di rumah sakit, Anita sudah siap dan sedang menunggu Edo untuk menjemputnya sambil melihat jam yang ada di tangannya.
“Lama amat sih Edo, perutku udah nyanyi-nyanyi daritadi.” Gumam Anita yang sudah merasa sangat lapar.
Tin..tin..
Anita melihat ke arah suara klakson mobil dan melihat Edo berada di dalam mobil itu. Dengan segera Anita masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Edo.
“Kamu lama banget sih do.” Protes Anita.
“Maaf sayang, di jalan macet jadi telat jemput kamu.” Ucap Edo.
“Sudahlah, aku lagi kesel banget sama Kalandra. Aku sumpahin dia keselek pas lagi makan biar tau rasa!” ketus Anita.
__ADS_1
Jepang
Uhukk,,uhukk..
Kalandra tersedak makanan yang dia makan sesuai dengan sumpahan Anita.
“Wah kayaknya ada yang nyumpahin aku ini.” ucap Kalandra.
“Ha? apa hubungannya keselek sama di sumpahin orang mas?” tanya Khansa.
“Ya ada lah pokoknya sayang.”
Kalandra dan Khansa sedang menikmati waktunya di pinggir sungai, sedangkan Kenan pergi bersama Ryan dan Rose.
Kalandra ingin memiliki waktu berdua dengan istri tercintanya itu tanpa ada gangguan dari siapapun.
Khansa berdiri di tepi sungai dan menikmati udara segar yang ada di sana dengan memejamkan matanya. Kalandra yang melihat istrinya sedang menikmati udara itu segera mengambil hpnya dan memotret Khansa.
“Cantik sekali.” Batin Kalandra sambil tersenyum melihat foto yang baru dia ambil.
“Mas, kamu bisa aku tuntut loh kalo diem-diem ngambil foto aku.” Ucap Khansa yang masih memejamkan matanya.
Kalandra terkejut karena istrinya mengetahui jika dirinya mengambil foto secara diam-diam.
“A,aku tidak mengambil fotomu, kamu aja kepedean tuh yee.” Kalandra mengelak perkataan Khansa.
“Benarkah? Coba mana aku lihat?” ucap Khansa yang ingin mengambil hp suaminya.
Khansa berusaha untuk mengambil hp suaminya dan ingin melompat agar sampai ke tangan Kalandra, tetapi Kalandra malah memeluknya dengan erat.
“Jangan loncat-loncat sayang, nanti anak kita pusing.” Bisik Kalandra dengan lembut dan membuat pipi Khansa memerah.
“Oh iya sayang, kamu kok bisa sih ngerjain Ryan gitu tadi, sampe beneran panik banget dia.” Ucap Kalandra.
“Hihihi lucu kan mas? Lagian mereka tuh kelamaan tau mas, sama-sama suka tapi jaim banget. Biarin tau rasa tuh kak Ryan.” Ucap Khansa sambil cekikikan.
“Dasar kamu tuh kadang ngeselin juga ya.” ejek Kalandra sambil mengacak rambut Khansa.
“Oh ya? wah berarti Ryan kalah start dong.”
Khansa hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
“Oh iya mas, masalah keinginan Kenan untuk menjadi dokter, apa kamu akan mengijinkannya?” tanya Khansa.
“Aku akan mendukung semua cita-cita anak-anakku selama itu adalah hal yang baik dan pekerjaannya halal sayang.”
“Tapi bukankah kamu akan menjadikan Kenan penerus perusahaanmu?” tanya Khansa.
“Jika memang Kenan ingin menjadi dokter ya biarkan dia menjadi dokter dan membuat rumah sakitnya sendiri seperti keluarga Anita, sedangkan perusahaanku akan aku teruskan kepada anak-anak kita yang lain sayang. Toh perusahaanku ada banyak, aku bahkan bisa memberi ketiga anakku masing-masing dua perusahaan.” Ucap Kalandra yang memamerkan kekayaannya.
“Yaampun, betapa kayanya suamiku ini memiliki perusahaan dimana-mana.” Puji Khansa yang dibalas senyuman oleh Kalandra.
“Aku hanya khawatir jika Ryan tidak mengijinkannya. Perusahaannya juga membutuhkan penerus bukan?”
“Tenanglah mas, kak Ryan pasti akan mengerti dengan pilihan anaknya. Toh sekarang Kenan masih sangat kecil untuk memilih cita-citanya. Dulu waktu kecil aku juga ingin menjadi dokter.”
“Bukankah kamu sekarang sudah menjadi dokter?” tanya Kalandra yang membuat Khansa bingung.
“Ha? aku dokter apaan mas?”
“Dokter cintanya aku.” Ucap Kalandra sambil cekikikan dan membuat Khansa merinding karena menurutnya suaminya terlalu lebay.”
“Mas tolong jangan ngomong kayak gitu lagi deh, aku jadi geli dengernya hiii..” ucap Khansa sambil menggosok-gosok lengannya sendiri.
Kalandra hanya tertawa puas karena berhasil mengerjai istrinya dan membuatnya merinding karena kata-katanya.
Ryan, Rose dan Kenan sedang berada di taman bermain. Kenan bermain dengan anak-anak yang ada di sekitar sana, sedangkan Ryan dan Rose duduk di bangku sambil memperhatikan Kenan yang sedang bermain.
“Kamu serius ga pulang besok Rose?” tanya Ryan yang masih mengingat kejadian tadi pagi.
__ADS_1
“Tidak kak, aku tidak pulang besok kok, kak sasa Cuma ngerjain kamu tadi.” jelas Rose.
“Kurang asem emang Khansa, berani ngerjain aku liat aja nanti aku balas dia.” Ucap Ryan.
“Tapi ada ucapan kak sasa yang bener kok tadi kak.”
“Maksud kamu? Yang mana yang bener Rose?” tanya Ryan penasaran.
Rose tidak menjawab pertanyaan Ryan dan hanya menatap lurus melihat Kenan yang sedang bermain.
“Jangan-jangan.. tentang perjodohan itu benar?” tanya Ryan kembali.
Rose menatap Ryan cukup lama dan mengangguk pelan.
“Setelah pulang dari sini, aku akan dikenalkan dengan anak teman bapakku kak.” Ucap Rose menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu mau bertemu dengan lelaki itu Rose?” tanya Ryan.
“Aku tidak punya pilihan lain kak, aku kan memang tidak memiliki pacar sedangkan ibuku selalu menginginkan aku segera menikah agar ada yang menjagaku.”
“Ada aku Rose, kenapa kamu tidak bilang padaku?”
“Mengapa aku harus bilang padamu kak? Memangnya apa hubungan kita?” tanya Rose menatap Ryan.
“Kita?..” ucapan Ryan menggantung di sana.
“Bahkan kamu sendiri juga tidak yakin dengan perasaanmu padaku kak.” Ucap Rose sedikit kecewa.
“Aku yakin, sangat yakin dengan perasaanku Rose!”
“Lalu?”
Ryan beranjak dari kursinya dan berjongkok di hadapan Rose.
“Aku akan menikahimu Rose, maukah kamu menikah denganku? Mungkin lamaran ini tidak romantis. Hari ini aku hanya meyakinkanmu jika aku ingn menjadikanmu istriku. Aku akan menyiapkan lamaran romantis saat waktunya tiba.” Ucap Ryan.
Rose hanya diam dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rose meneteskan air matanya karena ia sangat senang dengan pernyataan cinta Ryan.
“Jawab dong Rose, masa aku digantung gini.” Protes Ryan.
“Iya kak, aku mau mau mau.” Ucap Rose dengan antusias.
__ADS_1
Ryan segera berdiri dan memeluk Rose dengan sangat erat, sedangkan Kenan yang melihat kejadian itu dari jauh hanya tersenyum senang melihat kebahagaiaan papanya.