
Elsa merasa canggung saat berada di dalam apartment milik Rey, dia tidak tau harus melakukan apa.
"Em,, kak Rey,, kakak tinggal di sini juga?" Tanya Elsa sambil menundukkan kepalanya.
"Aku kan sudah bilang kalau aku akan tidur di rumah orang tuaku nanti!" ketus Rey.
"L-lalu kenapa kak Rey masih di sini?"
"Kamu mengusirku!?"
"T-tidak bukannya mengusir kak, aku hanya bertanya saja."
"Aku hanya masih tidak menyangka kamu bisa menahan rasa sakit yang dia berikan."
Elsa hanya diam mendengar ucapan Rey, dia tidak berani menjawab ucapannya.
"Apa kamu masih belum mau menceritakan masalahmu kepadaku?" Tanya Rey yang mulai melunak.
Elsa yang mengetahui kalau Rey sudah mulai tenang akhirnya berani melihat ke arahnya, wajah laki-laki yang selalu dia rindukan, laki-laki yang sampai saat ini masih terlukis di dalam hatinya.
"Aku.."
"Tidak apa, ceritakan padaku, aku akan menyelesaikan masalahmu tanpa memberitahu siapapun." ucap Rey.
"Sebenarnya, dia mengancamku kak."
"Dengan cara apa dia mengancammu?"
"Dengan ini.." Elsa memberikan hpnya yang berisi foto dirinya yang sedang tertidur di tutupi dengan selimut hingga ke lehernya.
"Maksud dari foto ini apa?"
"Hikss,, hiksss,, sepertinya aku sudah tidak suci lagi kak hiksss,,, saat itu aku tidak tau kenapa bisa tertidur dengan sangat pulas saat sedang bersamanya.."
Elsa mulai menangis menceritakan semuanya kepada Rey.
Rey paham apa yang ingin Elsa bicarakan jadi dia tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Hikss,, dia bilang kalau dia memiliki foto yang lebih parah dari ini, hikss,, kalau aku meninggalkannya, dia akan menyebarkan foto itu hikss.."
"Apa kamu yakin? Maksudnya, kenapa dia melakukan ini padamu?"
"Aku juga tidak tau kak.."
"Dia hanya mengancammu Elsa, dia tidak benar-benar melakukannya, kamu masih suci." ucap Rey.
"Tidak kak, wajahnya serius saat mengatakan hal itu padaku."
Rey tampak berfikir sejenak dan segera berdiri dari tempat duduknya, Rey menggenggam tangan Elsa untuk pergi lagi.
"Kak, mau kemana lagi? Kita bahkan baru saja sampai di sini kak." ucap Elsa yang kebingungan saat Rey menggandeng tangannya.
"Ke rumah sakit! Aku akan membuktikan kalau kamu masih suci!"
"Tidak kak!" teriak Elsa sambil melepaskan tangannya.
"Kenapa? Ayo aku akan buktikan kalau kamu masih suci Elsa!"
"STOP!! Bisakah kak Rey menghargai keputusanku!? Menceritakan semuanya kepadamu saja sudah sangat memalukan bagiku!" teriak Elsa.
Rey terkejut saat mendengar Elsa berteriak, baru pertama kali Elsa berteriak di hadapannya dan itu benar-benar suatu pukulan bagi Rey.
__ADS_1
"Maaf karena sudah memaksamu." ucap Rey sambil melepaskan tangan Elsa.
Drtt,, drrtt,,
Tiba-tiba saja Rey mendapatkan telfon dari Karina, Rey segera mengangkatnya.
"Halo Karina?" ucap Rey.
Mendengar Rey memanggil nama Karina membuat Elsa langsung membalikkan badannya.
"Maaf Karina, hari ini aku punya urusan lain dan tidak bisa makan siang bersamamu." ucap Rey yang langsung mematikan telfonnya.
"Kalau kak Rey punya urusan pergi saja, aku tidak apa-apa di sini sendirian." ucap Elsa yang sebenarnya cemburu terhadap Karina.
"Aku memang memiliki urusan, tapi denganmu!" ketus Rey.
Elsa menatap aneh ke arah Rey, apa yang di maksud dengan ucapan Rey? batinnya.
"Urusan apa lagi?" Tanya Elsa.
"Sudahlah lebih baik kamu mandi di kamar sebelah, aku akan mengambilkan bajuku untukmu sementara pakailah itu." ucap Rey.
Elsa hanya mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar yang berada di sebelah kamar Rey, sedangkan Rey masuk ke dalam kamarnya untuk mengambilkan pakaian untuk Elsa.
"Duh,, kenapa semua pakaianku besar begini?" gumam Rey sambil memilah-milah pakaian yang ada di lemari.
Akhirnya Rey mengambilkan kaos oblong miliknya yang berwarna hitam, setelah menunggu beberapa menit Rey langsung mengetuk pintu kamar sebelah.
"Els, aku bawakan pakaian untukmu." teriak Rey.
"Apa dia masih belum selesai mandi ya?" gumam Rey yang kembali memanggil Elsa.
Dengan cepat Rey memberikan pakaiannya lalu segera pergi ke dapur untuk memasak makan siang.
Elsa yang sudah selesai segera membuka pintu kamarnya, dia berjalan ke dapur karena mencium bau enak dari dapur.
"Kak,, kamu memasak?" Tanya Elsa.
Rey yang mendengar suara Elsa segera membalikkan badannya untuk melihat ke arah Elsa, Rey terkejut dan hanya bisa menelan salvilanya melihat Elsa dengan pakaiannya yang terlihat kebesaran di tubuhnya.
Kaos berwarna hitam milik Rey yang kebesaran sangat sexy saat di pakai Elsa, dan membuat kulit putihnya menjadi semakin terlihat indah.
"Kak Rey? Kakak ga dengerin Elsa?" Tanya Elsa.
"Ah, aku sedang memasak makan siang untuk kita." ucap Rey yang kembali fokus dengan masakannya.
Elsa berjalan mendekati Rey saat Rey ingin bergeser hingga tidak sengaja lengannya menyentuh gunung kembar milik Elsa.
Seketika Rey mematung karena terkejut saat lengannya menyentuh gunung kembar milik Elsa itu.
"Sial! Dia tidak memakai dalaman!" batin Rey di dalam hatinya.
"Kak! Kenapa dari tadi diam saja sih?" Tanya Elsa membuyarkan lamunan Rey.
"Ah iya, ini udah matang semua kamu duduklah sana!" ketus Rey.
"Huh, selalu saja kasar!" gumam Elsa yang masih bisa di dengar oleh Rey.
"Apa kamu bilang!?"
"Eh t-tidak kak hehe, kak Rey baik banget masakin buat aku.
__ADS_1
Rey menatap wajah Elsa dengan tajam, namun dirinya seketika langsung iba saat melihat memar di wajahnya.
Semua makanan sudah di siapkan di atas meja, namun sebelum makan Rey mengambil hpnya untuk menghubungi seseorang.
"Kak, kak Rey ga makan?" Tanya Elsa.
"Makanlah duluan, aku harus menghubungi seseorang."
Rey tetap berada di kursi makannya sambil menunggu telfonnya di angkat.
"Karina, aku mengirimkan pesan untukmu! Segera baca dan bawakan apa yang aku perintahkan ke apartmentku." ucap Rey yang langsung mematikan telfonnya.
Elsa yang mengetahui kalau Rey menghubungi Karina langsung memasang wajah masamnya.
"Kak Rey sudah berkencan dengan kak Karina ya?" Tanya Elsa tiba-tiba.
"Hah!? Berkencan? Apa kamu sudah tidak waras?" Tanya Rey.
"Sepertinya kak Karina tidak membaca pesanmu kamu langsung menelfonnya."
"Dia hanyalah sekretarisku tidak lebih! Sudahlah lebih baik kamu makan saja, kalau makan tidak boleh bicara!"
Mereka berdua akhirnya memakan makan siang mereka dengan tenang hingga ketukan pintu apartment membuyarkan keheningan di antara mereka.
"Itu pasti Karina, sembunyilah sebentar aku akan menemuinya." ucap Rey yang langsung beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.
"Dia segitu takutnya kalau kak Karina melihatku ada di sini, tapi dia bilang kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa?" batin Elsa.
"Hai Rey! Kenapa kamu menyuruhku membeli keperluan wanita? Jangan-jangan kamu sekarang mengoleksi pakaian wanita ya!" ucap Karina.
"Sstt,, bisakah kamu kecilkan suaramu!? Kamu fikir aku apaan!"
"Apakah ada wanita di dalam apartmentmu?! Kamu bertingkah mencurigakan Rey!" selidik Karina.
"Sudahlah lebih baik kamu pergi, terimakasih karena sudah membelikan apa yang aku perintahkan!"
"Kamu tidak mau menyuruhku masuk?"
"No!" tegas Rey yang langsung menutup pintu apartmentnya rapat-rapat.
Rey langsung menghampiri Elsa yang masih berada di meja makan lalu menaruh paper bag yang tadi di bawakan oleh Karina di hadapannya.
"Apa ini kak?" Tanya Elsa.
"Untukmu! Bukalah!"
Elsa membuka paper bag tersebut dan terkejut melihat barang-barang wanita di dalamnya.
"Ini untukku?"
"Lalu? Untukku!?" ketus Rey.
"Huh! Biasa aja kali kak!"
"Sudah aku belikan bukannya terimakasih!"
"Iya iya terimakasih kak Rey.." ucap Elsa dengan senyum yang mengembang di wajahnya membuat Rey ikut tersenyum.
Rey sadar kalau dirinya sudah tersenyum kepada Elsa, dia seketika merasa canggung dan langsung pergi meninggalkan Elsa yang masih sibuk dengan pakaian yang ada di dalam paper bagnya.
"Sial! Jantungku tidak bisa di ajak kompromi!" gumam Rey sambil memegangi dadanya.
__ADS_1