Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 19


__ADS_3

Suasana ruang makan kediaman Jeslyn dan Nathan hari ini hening. Jeslyn yang biasanya cerewet menjadi pendiam. Jeslyn terus memperhatikan Nathan yang terlihat biasa saja seakan kemarin tidak terjadi apa-apa.


"Kok bisa ini orang santai begitu, gue aja mikir sampek hampir pecah ni kepala."


Jeslyn tiba-tiba berdiri, tapi Nathan tetap diam tidak perduli. Dia tetap melanjutkan makan paginya itu.


"Coku gue mau ngomong empat mata sama lo,"


Nathan tetap diam menikmati hidangan di piringnya.


"Coku .... ikut gue, kenapa lo masih diem disitu aja?!"


Braaakk... Nathan menggebrak meja makan dengan keras sampai membuat satu sendok jatuh ke lantai. Inem dan Asih langsung mengintip mereka dari dapur.


"Mbak in kenapa lagi ituh mereka?"


"Nggak tahu kita intip aja dulu. Semoga enggak bertengkar."


"Coku... Lo itu apa-apaan sih?!"


"Mau ngajak ngomong boleh aja, tapi gue nggak suka ada orang yang ganggu sarapan gue." Ucap Nathan dengan wajah datar ciri khasnya.


Jeslyn menelan salivanya, dia merasa takut memandang wajah Nathan saat ini. Seperti serigala yang sedang berhadapan dengan musuhnya.


"Kaa lau gitu lo lanjutin makan dulu aja, sorry gue ganggu." Ucap Jeslyn dengan nada rendah tidak seperti awal tadi yang membentak-bentak.


Nathan mengambil tisu dan mengusap-usap mulutnya tanda sudah selesai makan.


"Selera gue udah hilang, ayo kalau mau ngomong."


Mereka meninggalkan ruang makan menuju teras dekat kolam renang. Asih dan Inem yang kepo terus mengikuti mereka.


"Mau ngomong apa? Gue nggak punya banyak waktu." Ucap Nathan


"Coku lo kan udah tahu kalau gue ini pacar Dafa, tapi kok lo biasa aja." Ucap Jeslyn


"Trus gue harus gimana?" Tanya Nathan ketus.


"Ya masak lo nggak mikirin apa gitu, Kalau Dafa bongkar ke papa Mahesa gimana? Trus kamu tahu sendiri kan dia mau apa,"


"Hmm semua ini tergantung sama lo. Elo nikah sama gue kan secara terpaksa. Sekarang Dafa pacar lo itu udah kembali. Kalau lo mau nikah sama dia dengan senang hati gue akan lepasin lo." Ucap Nathan yang kemudian pergi meninggalkan Jeslyn tanpa mendengar dulu penjelasannya.


"Kok gue sakit ya denger perkataan coku. Gue sangat menghargai pernikahan ini. Tapi kenapa dia semudah itu bilang mau nglepas gue, gue bukan bola dalam permainan yang bisa dilempar kesana-kemari."


.


.

__ADS_1


Hari ini Mahesa memperkenalkan Dafa kepada semua karyawannya di kantor. Dafa dengan percaya diri berkata kalau nantinya dia akan menjadi CEO disana menggantikan kakaknya. Nathan yang berdiri di sebelahnya hanya diam saja. Para karyawan berbisik-bisik setelah mendengar itu. Mereka tidak yakin kalau adik dari CEO mereka yang sekarang kinerjanya lebih bagus. Mereka jadi berasumsi kalau sedang ada perang antar saudara memperebutkan kedudukan.


Selesai acara perkenalan mereka semua diminta untuk kembali ke pekerjaan masing-masing. Dafa sudah mendapatkan ruangan sendiri, namun tetap tidak sebesar ruangan kerja milik Nathan dan juga ayahnya.


"Ruangan apaan nih kaya staf biasa, papa emang pilih kasih sama aku." Ucap Dafa


Tokk... tokk... tokk.. "Permisi pak, saya diminta pak mahesa untuk meminta tanda tangan."


Dafa langsung saja menandatangani semua berkas yang dibawa oleh staff itu.


"Terimakasih pak saya permisi,"


Setelah staff itu pergi Dafa hanya diam saja tidak melakukan hal apa-apa. Dia hanya duduk bersandar di kursi empuk itu.


"Ternyata enak juga jadi orang kantoran, Kerjaannya cuma tanda tangan doang. Mending gue sekarang kerumah jeslyn, gue bakal yakinin dia buat balikan sama gue." Dafa meninggalkan kantor begitu saja tanpa pamit dengan papanya.


.


.


"Jimy kamu bimbing anak saya sampai dia mengerti tentang semua pekerjaan yang harus dia lakukan untuk perusahaan ini." Ucap Mahesa pada seorang pemuda yang usianya sama dengan Nathan, dia ini salah satu karyawan terbaik disana.


"Baik pak, saya pasti akan membimbingnya sesuai perintah bapak." Jawab Jimmy,


Namun saat mereka masuk ke dalam ruangan Dafa, dia sudah tidak ada disana. Mahesa bertanya kepada staff-staff disana. Tapi tidak ada yang tahu dimana keberadaan Dafa.


"Astaga pergi kemana anak itu, katanya mau jadi CEO. Baru sehari training udah kabur-kaburan." Omel Mahesa kesal dengan anak keduanya itu.


"Kenapa pah? Ada masalah ya?" Tanya Nathan


"Ini adikmu udah nggak ada di kantor. Padahal belum satu jam dia masuk keruangannya. Mau jadi apa perusahaan kita nanti kalau dia yang ajdi CEOnya." Jawab Mahesa.


"Jimmy kamu kembali ke tempatmu, Nanti saya panggil kalau Dafa kembali." Ucap Mahesa


"Baik pak,"


.


.


Di ruang tengah rumahnya, jeslyn tengah berbaring. Dia memakai earphone ditelinganya. Jeslyn ingin menenangkan diri dengan cara mendengarkan musik. Asih dan Inem tak berani mengganggunya.


Meskipun terdiam memejamkan mata, Jeslyn tidak sedang tertidur. Dalam pikirannya terus berputar-putar perkataan Nathan pagi tadi.


"Coku bener sih, gue emang terpaksa nikah sama dia. Tapi gue juga nggak mau cerai gitu aja. Trus menikah dengan Dafa. Lebih baik aku enggak dengan dua-duanya. Kalau harus cerai aku juga nggak akan kembali dengan Dafa lagi."


Jeslyn yang menutup mata dan mendengarkan musik secara keras membuatnya tidak menyadari kehadiran Dafa. Saat ini Dafa sudah berjongkok disebelah Jeslyn berbaring. Dengan lancangnya Dafa ingin langsung mencium bibirnya. Asih yang melihat itu langsung berteriak keras melebihi suara musik yang Jeslyn dengarkan. Seketika matanya terbuka. Jeslyn langsung mendorong Dafa hingga tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Kenapa dia ada disini Asih?!" Teriak Jeslyn yang saat ini sudah berdiri.


"Saya nggak tahu mbak dia tau-tau udah di deket mbak, makanya saya teriak." Ucap Asih, dia pergi ke dapur tapi masih memantau Jeslyn. Dia juga mengajak Inem kalau-kalau Dafa menyakiti majikan mereka.


"Pergi dari rumahku sekarang juga!" Usir Jeslyn pada Dafa.


"Santai dong beb, aku kan kangen kamu." Dafa mencoba memeluk Jeslyn. Tapi dia berhasil menghalaunya.


"Beb apasih yang kamu harapin dari pernikahan yang cuma status ini? Cerai aja sama bang Nathan trus nikah sama aku. Kamu pasti bahagia sama aku. " Ucap Dafa dengan PD tingkat tinggi.


"Haha bahagia lo bilang? Gue nggak akan pernah mau balik sama lo. Kalaupun nantinya gue cerai sama Nathan, gue nggak akan nikah sama lo. Inget itu!" Ucap Jeslyn dengan tegas.


Melihat pemandangan adu mulut yang semakin panas. Inem menelfon Nathan, karena dirumah tak ada laki-laki saat ini. Satpam dirumah sedang cuti karena sakit.


Kebetulan pekerjaan Nathan lengang hari ini. Dia langsung pulang setelah menerima telfon dari Inem. Tapi sialnya jalanan cukup macet. Dalam pikirannya bagaimana kalau sampai Dafa melakukan hal yang nekat pada Jeslyn. Nathan cukup kesal dengan jalanan siang itu.


Benar saja, Dafa ingin melakukan hal yang nekat karena Jeslyn terus saja menolaknya. Tapi pertama-tama dia pergi kearah dapur.


"Heh heh mau ngapain lo?" Teriak Jeslyn.


Dafa mendorong dua pembantu Jeslyn yang tadinya mengintip. Dafa mengunci pintu dapur agar mereka tidak bisa keluar dan mengganggunya.


"Sekarang cuma ada kita berdua. Aku akan nglakuin sesuatu biar kamu nggak bisa lepas dari aku." Ucap Dafa dengan senyum yang menurut Jeslyn menakutkan. Jeslyn berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Namun saat akan mengunci pintu Dafa sudah berhasil masuk menyusulnya.


"Sayang kamu itu memang ditakdirkan menjadi milik aku." Ucap Dafa sambil mengunci pintu kamar itu. Jeslyn ingin berlari ke kamar mandi tapi Dafa mencengkeramnya dan mendorongnya hingga terjatuh di kasur.


"Dafa inget gue ini istri abang lo sekarang, Lo mau apa?!"


"Tenang sayang aku akan kasih kamu kenikmatan yang bang Nathan belum pernah kasih. Dengan begitu pasti kamu akan mencintaiku lagi." Ucap Dafa sambil membuka kancing bajunya sendiri.


"Jangan gila lo daf!" Ucap Jeslyn sambil terus menjauh dari Dafa. Jeslyn menendangnya sampai jatuh. Kemudian dia berlari ke arah pintu namun, sayangnya kuncinya ada ditangan Dafa. Dafa hanya tersenyum dia memeluk Jeslyn dari belakang.


"Lepasin gue! Tolong.... Asih... Inem..." Teriak Jeslyn,


Nathan sudah sampai dirumah, namun keadaan rumah sepi, kemudian dia mendengar suara teriakan minta tolong dari lantai dua.


"Jes kamu di dalem?" Ucap Nathan sambil menggedor pintu.


"Coku to..long.."


Di dalam kamar Dafa terus berusaha membawa Jeslyn ke kasur. Dia bahkan merobak lengan baju Jeslyn sampai ke dada memperlihatkan **********. Sementara Nathan berusaha mendobrak pintu, Namun percuma pintu itu terlalu kuat untuk didobrak.


"Ahaha nggak ada yang akan bisa ganggu kita sayang,"


Sudah tak ada suara dobrakan pintu. Jeslyn sudah pasrah. Tenaganya pun sudah habis untuk melawan Dafa sejak tadi. Air mata Jeslyn tak terbendung lagi.


"Ya Allah, aku mohon selamatkan aku dari laki-laki bejat ini. Aku memang mencintainya tapi ini dosa, ini bukan haknya."

__ADS_1


__ADS_2