
Nathan memasuki rumahnya dengan raut wajah datar, ciri khasnya. Apalagi suasana hatinya sedang tidak baik akibat ulah Sandra. Nathan langsung naik keatas menuju kamarnya.
"Selamat malam coku," Ucap Jeslyn diiringi senyum manisnya, dia berdiri menyambut Nathan. Ya, Jeslyn berada di dalam kamar Nathan saat ini.
"Kamu ngapain di dalam kamarku?"
"Kenapa nanyanya gitu? Lupa ya aku kan istri kamu bebas dong aku mau masuk kesini."
Nathan masih terdiam di depan pintu kamarnya. Dia menatap sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depannya saat ini. Jeslyn mengenakan dress selutut model press body berwarna abu-abu. Rambutnya dia biarkan terurai. Jeslyn berhasil membuat Nathan terpesona. Melihat Nathan yang diam saja. Jeslyn menariknya untuk masuk kedalam. Dia melepaskan Jas dan juga dasi yang dikenakan suaminya itu. Sesudahnya Jeslyn mengamati wajah suaminya yang terlihat kusut.
"Coku tumben wajahmu kelihatan kusut banget, kaya nggak bersemangat gitu lagi. Ada masalah di kantor ya?"
"Emm enggak kok, cuma lagi capek aja. Aku mandi dulu kalau gitu."
Namun Jeslyn menahannya, dia malah memeluk Nathan dengan erat. Nathan terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Tumben sekali dia mau memeluk dirinya.
"Katanya kalau suami lagi capek, kekuatannya akan kembali kalau dipeluk istrinya." Ucap Jeslyn
Nathan merasakan kenyamanan pelukan Jeslyn. Dia membalas pelukan istrinya itu. Mood Nathan seketika membaik.
Asih dan Inem melihat adegan itu, kebetulan pintu kamar Nathan memang tidak tertutup. Mereka tersenyum bahagia melihat kedua majikannya akur. Mereka melangkah perlahan untuk pergi dari sana. Mereka tak mau mengganggu.
"Hemm yaudah mandi dulu sana. Kamu bau asem. Aku tunggu di meja makan. Aku udah masak spesial buat kamu." Ucap Jeslyn sambil tersenyum manis kepada suaminya.
.
.
Mereka sudah duduk berhadapan di meja makan. Jeslyn merasa deg-deg an saat Nathan mulai mencicipi makanan yang dia masak.
"Hmm.. ini kamu yang masak?"
"Iya coku, kenapa nggak enak ya?"
"Ini enak banget, wah bisa ganti profesi nih kamu ngalahin chef terkenal di tv-tv."
"Ah coku jangan berlebihan gitu deh,"
Nathan sangat lahap menghabiskan makanan dipiringnya. Jeslyn merasa senang Nathan menyukai masakannya. Rasa capek saat memasak tadi terbayarkan dengan melihat lahapnya Nathan makan.
Saat ini Nathan masih sibuk di ruang kerjanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 21:30 wib, Jeslyn yang ingin mengambil camilan mengintipnya. Nathan terlihat sangat serius sekali. Jeslyn tak mau mengganggunya, dia lekas pergi untuk meneruskan niatnya mengambil camilan.
Jeslyn duduk di balkon teras lantai dua. Dia belum merasa ngantuk. Dari sana dia bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit.
__ADS_1
Flasback
"*Beb liat deh ada bintang jatuh, make a wish yuk.." Ucap Dafa
"Kamu bikin permintaan apa beb?" Tanya Dafa
"Semoga kamu makin cinta sama aku dan nggak akan bisa jauh dari aku." Jawab Jeslyn
"Aku tuh emang nggak bisa jauh dari kamu beb."
"Kamu permintaannya apa?" Jeslyn ganti bertanya
"Sama kaya kamu." Jawab Dafa
"Ah masa sih sama? Bohong kamu ya, hayo apa permintaannya?"
"Enggak bohong baby, aku gelitikin nih.."
"Ahh aw geli udah daf.. Ahahah*.."
...][...
"Hah, gue keinget masa sama dafa lagi."
Gue harus bisa lupain dia, dia udah permainin perasaan gue. Dan saat ini gue udah terlanjur masuk kedalam kehidupan Nathan. Gue nggak boleh nyakitin dia." Gumam Jeslyn
Jam di hpnya menunjukkan pukul 23:05 wib. Matanya sudah mulai mengantuk. Jelsyn pun memutuskan untuk masuk kedalam. menuju kamarnya. Saat hendak masuk kekamar, Nathan yang baru saja datang menyapanya.
"Jess kok belum tidur?"
"Eh coku, ini mau tidur kok. Tadi belum ngantuk jadi nyemil dulu di teras balkon." Jawab Jeslyn
"Oh udah sampek camilannya?"
"Udah, banyak banget kamu beliinnya. Makasih loh. padahal sefavoritnya aku sama itu cemilan, belum pernah beli sebanyak itu."
"Iya sama-sama. Sengaja beli banyak biar kamu nggak perlu lagi rebutan sama anak kecil." Ucap Nathan menyinggung kembali kejadian waktu mereka di mall.
"Hehehe bener juga ya, Yaudah aku masuk dulu ya coku," Ucap Jeslyn, dia sudah membuka pintu dan akan masuk kedalam.
"Iya, selamat tidur cebor," Ucap Nathan
"Iya selamat tidur juga Coku," Balas Jeslyn dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Eh tunggu, tumben banget nggak marah dipanggil cebor?"
"Kamu aja nggak marah aku panggil coku, anggap aja itu jadi panggilan khusus kita berdua. Biasanya kan suami istri itu panggilannya sayang mama papa, Kita agak beda dikit lah. Yaudah dada coku,"
Jeslyn menutup pintu kamarnya. Sementara Nathan masih berdiri disana. "Haha coku dan cebor, lucu juga sih." Gumamnya
...****************...
Di Belanda gladys menatap gelisah pada kalender karena dia sudah telat datang bulan. Gladys takut kalau dia hamil. Kalau sampai itu terjadi, sang ayah pasti akan marah besar padanya.
"Aku udah telat 10 hari, apa yang harus aku lakukan. Nggak mungkin aku hamil. Bukankah Dafa selalu memakai pengaman saat kita berhubungan?"
Flasback
"*Sayang pil kontrasepsiku habis," Ucap Gladys
"Aku akan pakai pengaman sayang, tenang aja." Ucap Dafa, namun saat membuka kotak kecil yang ada di laci, isinya kosong.
"Habis juga ya, Kalau gitu lain kali aja deh sayang. Hari ini jangan." Ucap Gladys sambil membenahi kancing bajunya yang sudah terbuka akibat ulah Dafa.
"Tidak bisa sayang, kita tetap akan melakukannya sekarang." Ucap Dafa, tangannya mencegah Gladys mengancingkan bajunya kembali.
"Tapi...."
"Husst.. aku tidak akan membuatmu hamil, satu kali saja aku mohon,"
Gladys terdiam, dia merasa ragu. Namun Dafa yang sudah tidak tahan langsung saja melancarkan aksinya. Gladys hanya bisa pasrah, dia menikmati apapun yang Dafa lakukan padanya.
Namun karena terbawa oleh kenikmatan itu, Dafa lupa. Dia melakukan pelepasannya di dalam rongga kehangatan milik Gladys. Gladys seketika mendorong kuat tubuh Dafa hingga jatuh ke sebelahnya.
"Sayang kenapa kamu keluar di dalam? Kamu kan nggak pakai pengaman. Pilku juga habis."
"Udahalah tenang aja cuma dikit kok, sekali doang kamu nggak akan hamil." Jawab Dafa dengan Nafas yang masih terengah-engah*.
...~~~...
"Astaga, Ya waktu itu... Aku ingat semuanya. Dua hari sebelum Dafa pulang ke indonesia." Ucap Gladys, dia semakin panik setelah mengingat itu. Mungkinkah dia benar hamil. Memang rasanya seminggu ini perutnya terasa kencang dan dia sering mual ketika mencium bau bawang saat memasak.
Gladys memberanikan diri untuk membeli tespack. Dia membeli tespack dengan tiga merk yang berbeda. Setelah itu dia pulang kerumah. Ayah dan Ibu angkatnya, masih berada di restoran, dirumah tidak ada siapa-siapa. Dia merasa aman. Gladys langsung masuk ke kamar mandi dan melakukan test itu. Sebenarnya lebih akurat jika dilakukan pagi hari. Tapi dia sudah tidak sabar untuk menunggu besok.
Dia mencelupkan ketiga alat test kehamilan itu kedalam wadah kecil yang sudah dia isi dengan urinnya.
"Semoga negatif, semoga negatif," Gladys harap harap cemas. Perlahan dia mengambil ketiga tespack itu. Dia membuka matanya perlahan berharap garisnya hanya 1.
__ADS_1
Semuanya tak sesuai harapannya, ketiga tespack itu menunjukkan garis dua.
"Oh my Good! I'm pregnant..."