Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 57


__ADS_3

Setelah berhasil keluar dari dalam hutan, Nathan langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Jeslyn merasakan sakit yang hebat pada perutnya. Mungkin karena dirinya beberapa kali terjatuh saat berlarian tadi. Sandra ikut di mobil mereka. Sementara polisi masih terus mencari keberadaan Dafa di dalam hutan. Sandra duduk di sebelah Jeslyn, dia terus menenangkan wanita yang sedang panik karena merasakan sakit. Apalagi kini disela kedua kakinya mengalir darah segar.


"Astaga Nathan lebih cepat, istrimu pendarahan." Ucap Sandra yang sekarang menjadi ikut panik. Nathan menambah kecepatannya. Dia pun merasa khawatir dengan keadaan sang istri.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Jeslyn langsung dibawa masuk ke ruang igd. Tak lama kemudian dokter yang memeriksanya keluar. Dokter mengajak Nathan untuk ikut kedalam ruangannya.


Janin dalam kandungan Jeslyn melemah dan tidak lagi bisa diselamatkan. Itulah yang dikatakan dokter tadi. Nathan langsung menitikkan air matanya. Dia telah kehilangan calon anaknya. Tapi kemudian kesedihan itu berubah menjadi kemarahan.


"Dafa!" Teriak Nathan dengan mengepalkan kedua tangannya. Dia berjalan dengan gontai ingin kembali ke lokasi kejadian mencari Dafa. Dia merasa tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Dafa kali ini.


"Nathan kamu mau kemana? Istrimu sudah sadar. Dia mencarimu." Ucap Sandra


"Ya aku akan menemuinya." Ucap Nathan, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah sakit. Dia harus menguatkan istrinya.


Jeslyn langsung menangis ketika melihat suaminya datang. Dia sudah tahu janinnya tak terselamatkan. Nathan langsung mendekati sang istri. Dia membelai rambutnya dan mencium keningnya.


"Maafkan aku, aku sudah gagal menjaga calon anak kita." Ucap Jeslyn


"Tidak, kamu tidak gagal sayang. Aku yang lalai menjagamu. Sudah jangan bersedih. Anak kita sudah kembali ke surga." Ucap Nathan sembari mengusap air mata sang istri. Jeslyn pun mencoba mengiklhaskan apa yang sudah terjadi. Kemudian dia teringat tentang Gladys.


"Coku, Dimana Gladys sekarang? Tadi dia sempat berusaha menyelamatkan aku. Tapi aku nggak tahu kelanjutannya karena aku pingsan. Dia baik-baik saja kan?" Tanya Jeslyn


"Hmm.. Aku belum tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tadi dia dilarikan ke rumah sakit karena ditusuk dengan pisau oleh Dafa." Jawab Nathan


"Apa? Ini semua karena dia ingin menyelamatkan aku. Semoga dia dan bayinya baik-baik saja." Ucap Jeslyn merasa sedih.


Drrrtt....Drttt..


"Halo iya pah, Jeslyn sudah bersamaku. Kita ada di rumah sakit harapan Kasih. Kita ada diruangan vip 09." Ucap Nathan pada papanya lewat sambungan ponsel. Tak lama kemudian papanya datang bersama kedua orang tua Jeslyn.

__ADS_1


Kinan langsung berlari memeluk putrinya yang masih terlihat lemah.


"Sayang syukurlah kamu selamat. Mama senang bisa melihat kamu kembali." Ucap Kinan


"Iya mah, tapi calon anakku tidak selamat mah." Ucap Jeslyn yang langsung kembali menangis. Padahal baru saja dia berhenti menangis. Kinan dan semuanya ikut bersedih. Tapi mereka semua menguatkan Jeslyn.


Saat suasana sedang haru, Nathan mendapatkan telfon dari kepolisian. Dafa sudah berhasil ditangkap dan saat ini dia diamankan di kantor polisi.


"Dafa sudah ditangkap polisi." Ucap Nathan memberitahu semua yang ada disana.


"Bagus, biar dia mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan. Dia sudah membuat Gladys celaka. Dia tega membunuh calon anaknya sendiri." Ucap Mahesa merasa geram.


"Jadi Gladys juga kehilangan calon bayinya, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Jeslyn merasa prihatin. Gladys sampai seperti ini karena mencoba menyelamatkan dirinya.


"Dia sedang dioperasi. Kita doakan saja yang terbaik untuknya." Jawab Kinan


Sandra mencoba tenang saat dalam perjalanan. Dia gugup sampai berkeringat, padahal mobil Nathan ac-nya dingin.


"Ya tuhan apakah aku akan dipenjara juga nantinya?" Tanya Sandra di dalam benaknya.


Sampai juga mereka di kantor polisi. Sandra melangkah ragu di belakang Nathan dan Mahesa. Kegugupannya disadari oleh Nathan.


"Sandra kamu nggak papa kan?" Tanya Nathan


"Aa iya aku baik-baik saja, aku enggak papa." Jawab Sandra seraya mengatur eskpresi agar Nathan tidak curiga.


Mereka langsung dipertemukan dengan Dafa. Disana Dafa terlihat tenang tidak memberontak. Namun diwajahnya tidak menunjukkan rasa penyesalan. Dia masih tetap punya rasa dendam pada sang kakak. Dafa tersenyum menyeringai menatap kedatangan mereka.


Nathan sudah tidak bisa mengontrol emosinya melihat Dafa. Dia melayangkan pukulan demi pukulan hingga membuat wajah sang memar bahkan berdarah. Kalau saja tidak dilerai oleh polisi, mungkin Dafa akan dibunuh olehnya.

__ADS_1


"Manusia biadab! Karena perbuatanmu aku kehilangan calon anakku." Ucap Nathan penuh emosi. Dafa malah tertawa sembari mengusap bibirnya yang berdarah. Nathan malah semakin geram melihat ekspresi itu, dia ingin kembali memukulnya tapi segera dipegangi oleh Mahesa.


"Cukup tenangkan dirimu." Ucap Mahesa pada Nathan.


"Hei abangku tersayang, kalau kau mau penjarakan aku, penjarakan dia juga." Ucap Dafa seraya menunjuk kearah Sandra yang sedari tadi terdiam. Sandra langsung gemetar, karena semua yang ada disana menatapnya.


"Dia yang telah membunuh Asya, kekasihmu. Dia sengaja melepas alat bantu pernafasannya saat itu." Ucap Dafa, tapi respon Nathan biasa saja. Dia tidak terkejut. Hanya Mahesa yang cukup terkejut mendengar itu. Sementara Sandra malah bingung harus apa. Dia tidak bisa berkutik sekarang.


"Kenapa masih diam saja? Penjarakan dia juga. Dia lebih jahat dariku. Kalau dia tidak dipenjara aku juga harus keluar dari sini." Ucap Dafa


"Tidak kau harus menjalani hukumanmu. Aku sudah tahu semuanya sejak dulu. Kematian Asya bukan salah Sandra." Ucap Nathan membuat Sandra terkejut. Jelas-jelas dia yang melepaskan alat bantu pernafasan Asya saat itu. Tapi kenapa Nathan berbicara seakan membelanya.


"Aku sudah cek cctv rumah sakit waktu itu. Asya memang sudah meninggal dua menit sebelum Sandra melakukan kejahatannya." Ucap Nathan menjelaskan.


"Oh jadi aku tidak membunuhnya, pantas saja waktu itu dia sama sekali tidak bergerak. Aku hanya fokus memutus selangnya tidak melihat kalau dia sudah meninggal." Batin Sandra merasa sedikit lega. Karena ternyata selama ini dia tidak bersalah atas kematian sahabatnya.


"Tapi tindakanmu itu tetap saja tidak bisa dibenarkan. Kalau saja waktu itu Asya masih bernafas, dia juga pasti akan berakhir sama." Ucap Nathan dengan tatapan tajam pada Sandra.


"Maafkan aku Nathan." Ucap Sandra yang kemudian pergi meninggalkan tempat. Dia merasa tidak bisa lagi bertatapan dengan Nathan.


"Hei kenapa kau biarkan dia pergi? Kalau begitu bebaskan aku dari sini." Ucap Dafa


"Tidak bisa dan tidak akan. Selain istri dan calon anakku, kau juga menyakiti wanita yang sedang mengandung anakmu. Karena ulahmu Gladys harus berjuang antara hidup dan mati sekarang." Ucap Nathan dengan geram.


"Aku tidak peduli. Bebaskan aku sekarang!" Teriak Dafa


"Sebelum kamu menyadari dosa dan kesalahan yang kamu perbuat, Jangan harap kamu bisa bebas dari sini. Semoga disini kamu bisa belajar." Ucap Mahesa sebelum akhirnya meninggalkan tempat, begitu juga dengan Nathan.


"Aargggh.. Aku tidak mau mendekam disini." Ucap Dafa dalam hati, dia mulai gundah. Dia merasa stres membayangkan akan hidup terkurung disana dalam waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2