
Jeslyn masih berada dirumah orang tuanya. Papanya baru saja sadar dari pingsan. Tapi saat sudah berhasil ditenangkan, malah ada dua debt collector yang datang untuk menyita seluruh aset milik Hilman. Karena Hilman tidak bisa mengembalikan pinjamannya di bank. Minggu lalu jatuh temponya, tapi karena semua dana perusahaan ditarik oleh Dafa membuatnya tidak bisa membayarnya. Belum lagi dia harus membayarkan upah karyawan. Habis sudah harta milik Hilman dalam sekejap juga karena Dafa.
"Pak apa tidak bisa kasih keringanan waktu lagi?" pangkas Kinan berharap masih dapat keringanan.
"Mohon maaf tidak bisa bu, hari ini juga rumah ini akan disita karena ini yang menjadi jaminannya."
Kinan menahan airmatanya, Dia mencoba kuat menghadapi cobaan ini. Sementara Jeslyn sudah menangis terisak sembari memeluk papanya. Mau tidak mau mereka pun mengemasi baju dan barang mereka. Isi rumah itu juga disita, jadi mereka hanya membawa baju dan sedikit uang yang masih tersisa.
"Papa dan mama sementara tinggal dirumahku saja." Ucap Jeslyn yang belum mengetahui kalau rumahnya sudah disita juga karena ulah Dafa.
Jeslyn memasukkan barang-barang orang tuanya kedalam mobilnya. Dua mobil papa mamanya juga ikut disita. Dengan berat hati mereka meninggalkan rumah itu.
Ketika sampai dirumahnya Jeslyn melihat Asih dan Inem keluar dengan membawa koper yang besar-besar. Dia juga melihat Nathan yang membawa koper besar juga.
"Loh loh ada apa ini?" Tanya Jeslyn yang bingung melihat situasinya.
"Rumah ini disita, Aku di tuduh korupsi di perusahaan papaku. Aku nggak pernah ngelakuin itu." Jawab Nathan, dia benar-benar merasa stress.
"Rumah mama papaku juga disita karena Dafa membuat perusahaan papaku bangkrut." Ucap Jeslyn bersedih.
"Asih Inem, untuk sementara ini saya nggak bisa mempekerjakan kalian. Ini uang pesangon kalian. Kalau semuanya sudah kembali normal, kalian bisa kembali kerja disini. Saya cuma minta doanya."
"Iya pak, mbak jess barang-barangnya sudah saya bereskan di koper itu. Kita doakan semoga masalahnya cepat selesai, kita nyaman kerja sama pak Nathan dan mbak Jeslyn." Ucap Inem mewakili Asih. Jeslyn hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Jeslyn terduduk lemas, dia tidak menyangka Dafa bisa bertindak sekejam ini. Nathan duduk di sebelah Jeslyn. Dia memegang tangan Jelsyn.
__ADS_1
"Maaf ya karena aku kamu kena imbasnya juga." Ucap Nathan
"Nggak papa, ini bukan salah kamu. Dafa emang keterlaluan. Aku udah tahu semuanya, dia kan yang memegang perusaahaan sekarang. Dia yang membuat semua kekacauan ini." Ucap Jeslyn.
"Jeslyn.. papa kamu..." Teriak Kinan dari dalam mobil. Jantung Hilman kumat lagi, Mereka segera membawanya kerumah sakit.
***
Mahesa dinyatakan koma saat sampai dirumah sakit. Alat-alat pun terpasang di tubuhnya mulai dari selang oksigen hingga kabel-kabel yang tertancap di dadanya.
"Jess papa... hiks.. hikss.." Tangis Kinan pecah, Jeslyn pun memeluknya sembari menenangkannya.
"Permisi mbak, ini administrasi atas nama bapak Hilman. Mohon segera diurus agar cepat dipindahkan ke kamar perawatan." Ucap Suster
"Mah duduk disini dulu ya, aku urus administrasi papa."
"Biar aku aja yang bayar. Meskipun beberapa rekeningku dibekukan, aku masih ada satu rekening lagi. Ya isinya nggak banyak sih, tapi lebih banyak dari itu." Ucap Nathan
"Emm makasih ya, tapi nggak perlu yang vip. Kamar perawatan yang biasa aja. Yang penting papa dapat penanganan dokter."
Selesai mengurus administrasi, Mereka kembali menemui Kinan. Hilman pun dipindahkan dari IGD ke kamar ICU. Setelah itu Jeslyn dan Nathan berpamitan pada mamanya. Mereka akan mencari rumah kontrakan untuk sementara waktu ini.
Setelah berkeliling hampir satu jam, mereka menemukan rumah yang bagus dan harga sewanya juga cocok. Setelah deal, Nathan membawa masuk semua koper.
"Coku aku harus temuin Dafa, Dia nggak bisa seenaknya begini. Apalagi sama kamu abang kandungnya sendiri. Gara-gara dia juga papaku masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Aku temenin kamu ya,"
"Enggak, nanti yang ada kamu malah berantem sama dia. Tenang aja aku nggak akan kenapa-kenapa."
Jeslyn langsung pergi dengan mobilnya menuju kantor Dafa. Dia ingin mencaci makinya habis-habisan. Tanpa memperdulikan satpam. Jeslyn masuk kedalam kantor. Dia menaiki lift menuju lantai dua. Dengan langkah gontai dan penuh amarah, Jeslyn menuju ruangan Dafa.
Di dalam ruangannya, Dafa melihat cctv yang ditampilkan di layar hpnya. Dafa merasa senang akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Hai beb, lama nggak ketemu. Aku kangen banget sama kamu." Dafa langsung hendak memeluk Jeslyn yang ada didepannya. Tapi dia langsung jatuh tersungkur karena didorong oleh Jeslyn.
"Apa maksud kamu sita semua aset Nathan? Nggak mungkin ya dia korupsi disini. Ini pasti akal-akalan kamu kan," Ucap Jeslyn tanpa basa-basi lagi.
"Ahaahaa, jadi kamu kesini cuma mau ngomongin itu,"
"Bukan cuma itu, gara-gara kamu papaku sampai koma dirumah sakit. Kamu udah bikin perusaahan papaku bangkrut. Kembalikan semuanya normal kembali!" Teriak Jeslyn dengan emosi, Suaranya sampai terdengar dari luar ruangan.
"Kalau begitu kamu harus kembali sama aku." Ucap Dafa dengan enteng.
"Enggak bisa. Sampai kapanpun aku nggak akan berpisah dengan Nathan. Ini semua salah kamu sendiri kenapa dari awal nggak pernah terbuka tentang hubungan kita kepada keluargamu. Aku udah nggak cinta sama kamu." Ucap Jeslyn
"Ahaha bohong. Nggak mungkin kamu nggak cinta sama aku." Ucap Dafa yang mulai menggila lagi, dia mendekat kearah Jelsyn.
"Stop jangan mendekat. Jangan berani sentuh aku. Oke terserah apa yang mau kamu lakukan sekarang. Aku tegaskan sekali lagi, aku nggak akan pernah mau kembali sama kamu. Apalagi dengan sikapmu yang jahat seperti ini!"
"Jangan kamu kira dengan membuat Nathan jatuh miskin trus aku akan kembali bersamamu. Tidak, kamu salah. Aku memang sudah terbiasa hidup mewah. Tapi kali ini apapun keadaannya aku akan tetap mendampingi suamiku." Ucapan Jeslyn membuat tamparan keras untuk Dafa, Apalagi dengan lantang Jeslyn menyebut Nathan sebagai suaminya yang tidak akan dia tinggalkan dalam keadaan apapun.
__ADS_1
"Nikmati semua yang kau dapat, jika ini membuatmu bahagia." Ucap Jeslyn dengan tatapan yang tajam. Sudah selesai meluapkan amarahnya. Dia pergi meninggalkan Dafa.
"Aku tidak membutuhkan semua harta ini. Yang aku butuhkan itu kamu Jeslyn! Kamu sudah menyakiti hatiku, lihat saja apa yang akan kulakukan padamu hingga kau akan berlutut tunduk padaku." Ucap Dafa saat Jeslyn sudah pergi jauh.