
Gadis cantik dengan setelan celana dengan blezer abu muda duduk di dalam ruangan Nathan. Gadis itu tidak lain tidak bukan adalah Liona. Sudah satu bulan ini Nathan sangat menghindarinya. Saat ada pengecekan di proyek pun, Nathan mewakilkannya pada staf kepercayaannya. Dengan alasan apapun Liona sama sekali tidak bisa menemui Nathan. Sampai akhirnya dia nekat datang jam enam pagi ke kantor Nathan.
Liona melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam delapan pagi, seharusnya Nathan akan segera tiba. Dia pun mentouch up riasannya.
Saat pintu terbuka ekspresi Liona terlihat sangat semringah. Di berdiri dan bersiap menyambut pujaan hatinya. Namun Nathan tidak datang sendiri, pria itu terlihat bergandengan tangan dengan istrinya.
"Kamu kok ikut datang kemari sih," Ucap Liona menatap tidak suka pada Jeslyn.
"Harusnya saya dong yang tanya ngapain kamu ada di sini? Saya istri dari pemilik perusahaan ini dan saya kemari bersama suami saya. Jelas kan, nah kamu ngapain?" Balas Jeslyn dengan tetap menggandeng mesra tangan Nathan.
"Masalah proyek kita sudah saya serahkan pada Samuel. Apakah masih ada masalah?" Tanya Nathan secara profesional membahas pekerjaan.
"Saya kemari bukan untuk itu. Saya merindukan pak Nathan. Dulu awalnya saya mendekati pak Nathan karena ingin merasa menang dari kak Sandra. Tapi makin lama saya jadi benar-benar cinta. Saya mohon beri saya kesempatan." Ucap Liona tanpa memikirkan perasaan Jeslyn sebagai istri Nathan. Liona mendekat ingin memegang Nathan, tapi segera di hadang oleh Jeslyn.
"Kamu memang sudah tidak waras. Nggak tahu malu pula. Sadar dong, sadar! Nathan ini suamiku. Dulu kakaknya, sekarang adiknya. Aduh, capek deh aku ngadepinnya. Padahal masih banyak loh pria single mapan di luar sana. Kenapa harus suamiku!" Ucap Jeslyn merasa jengah. Nathan yang tidak ingin istrinya terlalu emosi segera menuntunnya untuk duduk. Karena emosi yang tinggi bisa mempengaruhi kondisi ibu hamil seperti Jeslyn.
"Tenang ya sayang, biar aku saja yang menghadapi dia." Ucap Nathan pada Jeslyn.
Saat Nathan ingin kembali menanggapinya, Liona malah dengan lancang ingin memeluknya. Dengan segera Nathan menghindar. Jeslyn yang melihat itu sudah sangat tidak tahan. Dia berdiri dan menjambak Liona dengan keras. Hingga membuat gadis penggoda suaminya itu kesakitan.
"Aaaa, lepaskan.. Sakit, lepaskan!"
"Tidak akan ku lepaskan! Kamu pikir aku tidak sakit mendengarmu ingin merebut suamiku!" Seru Jeslyn, sementara Nathan hanya diam saja. Jika dia menyuruh istrinya berhenti, pasti akan menimbulkan masalah. Dikiranya dia membela Liona.
__ADS_1
"Lepaskan aku, rambutku bisa rusak kamu tarik seperti ini. Perawatanku mahal!" Teriak Liona, dia sama sekali tidak ada inisiatif untuk meminta maaf. Jeslyn malah semakin keras menarik rambut Liona. Sampai pada kedatangan Sandra yang membuatnya melepaskan Liona. Bukan melepaskan dengan pelan, tapi dengan kasar hingga membuat Liona tersungkur. Hal itu sangat membuat Jeslyn puas.
"Jika kamu akan bertanya mengapa aku menjambak adikmu ini, jawabannya adalah dia mengikuti jejakmu dulu." Ucap Jeslyn dengan lantang memberitahu Sandra.
"Maafkan aku, aku sudah memperingatkannya." Ucap Sandra yang merasa sangat malu akobat kelakuan adiknya itu.
"Kak kenapa malah minta maaf sih, kok nggak membelaku! Aku ini di jambak hampir gundul sama wanita menyebalkan ini!" Seru Liona sembari memangi rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Diam kau! Kau tidak pantas menyebut Jeslyn seperti itu. Sudah ku peringatkan jangan ganggu rumah tangga orang lain. Kau tidak lihat Jeslyn sedang hamil? Apa kau buta mata dan hati sehingga ingin merebut Nathan dari Jeslyn?" Bentak Sandra pada Liona.
"Kak aku hanya memperjuangkan orang yang kusuka. Apa salahku?" Liona masih belum merasa bersalah.
Plakk...
Tamparan keras dari Sandra mendarat di pipi Liona. Sandra merasa sangat geram. Sudah di beri pengertian seperti itu tapi Liona tetap saja tidak merasa bersalah.
"Itu agar kau sadar dengan apa yang kau lakukan saat ini. Jangan turuti sifat egoismu itu. Sebentar lagi Nathan dan Jeslyn akan di karuniai anak, lalu kau tega ingin merusak hubungan mereka? Sekali lagi, bayangkan jika kamu ada di posisi Jeslyn. Pasti jengah kan menghadapi manusia sepertimu." Ucap Sandra panjang lebar menasehati adiknya yang keras kepala. Sedangkan Nathan dan Jeslyn hanya diam saja menyimak.
"Nathan, Jeslyn maaf jika adikku membuat keributan di sini. Aku janji hal ini tidak akan pernah terulang lagi. Sekali lagi maaf, kita pamit." Ucap Sandra sembari menarik Liona untuk keluar dari sana.
Jeslyn menghela nafas kasar, dia berharap hal seperti ini tidak akan pernah di temui lagi. Cukup terkahir Liona saja. Jangan sampai ada wanita lain lagi yang menginginkan suaminya.
"Hei juniornya Mommy, kamu tahu nggak masa Daddymu itu jadi rebutan wanita-wanita sampai Mommy kewalahan menghadapinya." Ucap Jeslyn sembari mengusap perutnya yang sudah sedikit membesar.
__ADS_1
"Ya itu karena Daddymu ini sangat tampan dan berkharisma." Sahut Nathan ikut mengobrol dengan bayi yang ada di kandungan Jeslyn.
"Idih,, berkharisma katamu? Sejak kapan coku si cowok kaku berubah menjadi cojiri si cowok pemuji diri sendiri." Ucap Jeslyn diiringi tawa renyahnya.
"Sejak kapan ya nggak tahu, ahaha." Nathan pun ikut tertawa.
"Hmm,, jadi ngerusak moodku aja deh pagi-pagi udah diajakin perang sama tuh cewek singa." Ucap Jeslyn
"Aku ada sesuatu yang pasti bisa membuat moodmu kembali." Ucap Nathan dengan senyum percaya diri. Dia beranjak dari sofa tempatnya duduk bersama Jeslyn. Dia mengambil sesuatu di laci meja kerjanya.
"Taraaa..." Seru Nathan sembari menunjukkan dua tiket pesawat yang ada di tangannya. Dengan segera Jeslyn meminta tiket itu. Terbaca lah tujuan tiket itu.
"Tiket pesawat ke paris? Kita akan kesana sayang?" Tanya Jeslyn dengan tatapan tidak percaya bercampur senang.
"Iya, lusa kita akan berangkat ke paris sesuai keinginanmu." Jawab Nathan dengan semringah.
"Yay,,, Kita baby moon ke paris. Jagoan Mommy kita akan mengunjungi menara eiffel." Ucap Jeslyn dengan teramat bahagia seraya mengusap perutnya.
"Aku sudah konsultasi dengan dokter sebelum memesan tiket ini. Katanya sih nggak papa buat perjalanan jauh. Tapi besok kita harus chek up lagi sebelum berangkat." Ucap Nathan
"Iya besok kita chek up ke dokter. Aaaa... Aku senang sekali sayang." Jeslyn memeluk erat suaminya.
"Emm,, Dokter bilang kita kan sudah diperbolehkan untuk itu lagi. Jadi, boleh dong hari ini aku buka puasa." Bisik Nathan di telinga sang istri yang berada di pelukannya. Refleks Jeslyn langsung melepaskan pelukannya. Tapi itu bukan tanda penolakan, Jeslyn melepaskan pelukannya karena ingin menutup pintu.
__ADS_1
"Ayuk sekarang aja, pintunya udah aku kunci." Ucap Jeslyn dengan senyum yang merekah. Dengan senang hati Nathan mengiyakan. Padahal maksudnya itu dirumah nanti malam. Eh malah di kasih sekarang, tapi Nathan tidak bisa menolaknya karena dia sudah lama berpuasa.
Akhirnya jadwal meeting pagi Nathan tergantikan oleh permainan kuda-kudaan yang sangat menguras tenaga di pagi hari yang cerah itu.