
Nathan sedang mengambil nomor antrian dan mengurus administrasi pendaftaran untuk periksa di klinik itu. Sementara Jeslyn yang duduk di kursi tunggu terus melihat-lihat sekitar.
"Wah kayanya coku salah berhenti di klinik deh, isinya orang periksa hamil semua." Gumam Jeslyn
Tiba-tiba ada orang yang mau melahirkan lewat di depannya. Ibu hamil itu dipapah suaminya. Terlihat pemandangan yang membuat Jeslyn bergidik ketakutan. Karena ibu hamil itu merengek kesakitan. Dia jadi terbayang akan dirinya sendiri. Membayangkan jika dirinya tengah hamil dan dipapah seperti itu oleh Nathan. Karena melamun, Jeslyn sampai tidak sadar kalau Nathan sudah duduk di sebelahnya. Nathan menatap istrinya yang tatapannya fokus kearah ruang bersalin.
"Kamu pengen ngerasain kaya gitu juga?"
"Haa? Apa coku?"
"Ya itu," Ucap Nathan menunjuk kearah ruang bersalin.
"Hahaha ngomong apaan sih kamu." Ucap Jeslyn mengukir senyum tipis namu dengan cepat kembali ke ekspresi datar.
Kemudian kini saatnya giliran mereka masuk. Namun yang harusnya masuk pintu 1, mereka malah masuk pintu 2 tempat periksa ibu hamil. Saat itu suster jaga sibuk bercakap dengan pasien lain sampai mengiyakan saja ketika Nathan bertanya kalau itu benar ruangannya untuk periksa istrinya.
"Silahkan duduk. Cek tekanan darah dulu ya mbak."
Jeslyn menuruti saja. Nathan duduk di kursi yang sudah disediakan. Setelah di cek darah, Jeslyn disuruh menimbang berat badan. Kemudian dia diminta untuk berbaring di brankar.
"Menikah sudah berapa lama mbak?"
"Mau jalan tiga bulan bu dokter." Jawab Jeslyn
"Ini baru yang pertama kalinya ya, nggak ada keluhan apa-apa kan?"
"Enggak ada bu Dokter saya sehat." Jawab Jeslyn dengan semangat.
"Wah syukurlah kalau gitu. Dukungan suami itu penting banget di masa-masa seperti ini."
"Maksudnya gimana ya bu Dokter?" Tanya Jeslyn sambil menatap kebingungan. Dia juga menatap kearah Nathan.
"Iya di masa kehamilan seperti ini apalagi trimester pertama yang masih sangat rawan, peran suami itu penting." Jawab Dokter sambil mulai menyingkap baju Jeslyn untuk melihat perutnya. Namun Jeslyn langsung terduduk dan segera turun dari brankar.
"Loh mbak pemeriksaannya belum selesai," Ucap Dokter
__ADS_1
"Bu Dokter kayaknya salah deh, saya kesini bukan buat periksa hamil." Ucap Jeslyn
"Loh ini mbak Dinar ardana kan? Yang hamil 8 minggu." Jeslyn menggelengkan kepalanya, kemudian ada wanita yang masuk kedalam.
"Bu dokter saya Dinar ardana. Maaf tadi saya ke toilet dulu." Ucapnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Jeslyn menarik Nathan keluar dari sana. Dia menariknya hingga keluar dari klinik.
"Kok kita malah keluar sih, kamu kan belum diperiksa,"
"Stop coku, aku ini nggak papa. Nggak usah periksa-periksaan. Ngapain juga kamu bawa aku masuk keruangan periksa hamil ha??"
"Ya kata suster kan tadi disitu tempat periksanya."
"Udah ah coku gue udah bt banget pokoknya mau ke mall sekarang titik. Nggak lo bayarin juga nggak papa." Ucap Jeslyn dengan kesal
"Kok lo gue lagi?"
"Hah... sorry kelepasan. Ayok anter aku ke mall." Jeslyn merengek. Akhirnya Nathan menurutinya.
.
.
"Masih ada yang mau dibeli lagi cebor?"
"Ihh coku, ditempat umum kaya gini jangan manggil gitu dong." Protes Jeslyn sambil terus berjalan melihat sekeliling mall, siapa tahu ada sesuatu lagi yang ingin dia beli.
"Kamu sendiri manggi aku kaya gitu. Kalau nggak mau dipanggil cebor, trus apa dong? Panggil sayang gitu?"
Jeslyn menghentikan langkahnya. Dia yang sedari tadi berjalan di depan Nathan langsung menoleh kearah suaminya itu.
"Coba aja kalau berani," Ucap Jeslyn dengan menyudutkan bibirnya. Kemudian dia kembali berjalan.
Nathan terdiam hanya mengikuti langkah kemanapun istrinya itu pergi. Dia diam bukannya tidak berani, namun hanya menunggu waktu yang tepat nanti.
__ADS_1
Jeslyn masuk kedalam lift diikuti Nathan. Belanjaannya yang banyak itu membuat tangan Nathan lama-lama merasa pegal juga. Namun Nathan sama sekali tidak mengeluh. Mereka turun ke lantai dasar untuk menuju ke supermarket. Jeslyn ingin membeli camilan dan juga beberapa kebutuhan di rumah yang habis. Meskipun terlihat manja tapi sedikit-sedikit Jeslyn juga menjalankan tugasnya sebagai Nyonya Nathan. Dia selalu mengecek semua bahan di dapur. Terutama makanan yang biasa suaminya makan dan minum.
Jeslyn mendorong troli berkeliling ke setiap sudut mencari sesuatu yang dibutuhkan. Dia mengambil kopi kesukaan Nathan. Juga oatmeal yang biasa Nathan makan. Tak lupa juga buah-buahan dan beberapa camilannya. Jeslyn juga membeli camilan untuk kedua ARTnya.
"Hemm kayanya cukup deh coku,"
"Syukurlah," Ucap Nathan dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa? Capek? Ahaha baru gini aja capek. Cemen coku." Ledek Jeslyn
Mereka menuju kasir dan langsung membayar semua belanjaan itu. Setelah itu mereka berjalan menuju parkiran mobil dengan belanjaan yang bisa dikatakan akan memenuhi mobil sport Nathan. Namun baru saja selesai memasukkan semuanya ke dalam mobil, Jeslyn berlari masuk kedalam lagi. Ada satu camilan yang dia lupakan.
"Coku kamu disini dulu ya, tunggu bentar aja. Ada yang kelewatan."
Nathan bersandar pada mobilnya dan menyilangkan tangan ke perutnya, melihat istrinya berlari seperti anak kecil mencari ibunya.
Sudah setengah jam Nathan menunggu, namun Jeslyn tak juga kembali. Akhirnya Nathan menyusulnya masuk ke dalam. Dia mencari di seluruh sudut lantai dasar mall itu. Akhirnya dia menemukan istrinya tengah berdebat dengan seorang anak kecil hanya karena berebut snack.
"Astaga apa yang kamu lakukan? Bisik Nathan
"Coku ini masalah kefavoritan lidah dan perutku. Aku sudah mengambilnya lebih dulu. Tapi dia merebutnya." Bisik Jeslyn dengan melirik kearah anak itu.
"Sudahlah kamu ngalah aja jangan bikin malu." Ucap Nathan, namun Jeslyn malah melotot dan cemberut menatapnya.
Nathan jadi bingung harus apa, dia mencoba menarik paksa Jeslyn pergi dari sana. Namun tidak berhasil Jeslyn tetap ingin snack yang ada ditangan anak kecil itu. Kemudian Nathan mencoba bertanya kepada karyawan disana. Tapi stocknya habis di gudang, hanya ada di display.
Dengan terpaksa Nathan mencoba mendekati anak kecil itu dan membujuknya untuk mau menyerahkan snack itu.
"Adek ganteng, boleh nggak snack ini buat kakak?" Anak itu menggelengkan kepala, "Dek kasian loh kakak itu sedang hamil, dia nyidam pengen ini. Boleh ya? Nanti diganti deh sama yang lain apapun itu kakak yang bayarin."
Anak kecil itu tetap tidak mau, dia malah menangis keras membuat ibunya datang. Nathan yang tadinya berlutut langsung berdiri. Dia panik melihat ekspresi ibu anak itu yang terlihat marah.
"Hei siapa kalian? bikin anak saya nangis."
"Ma kakak ini jahat ma."
__ADS_1
"Kalian mau culik anak saya ya, penculik.." Teriak ibu itu.
Jeslyn pun panik dia menarik Nathan untuk pergi dari sana. Terlihat raut wajah Nathan sangat tegang apalagi sekarang mereka tengah dikejar olwh security. Namun akhirnya mereka berhasil lolos dan pergi meninggalkan mall.