Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 23


__ADS_3

Sorot lampu panggung runway mengiringi para model yang sedang berlenggak-lenggok di atasnya. Jeslyn menjadi salah satunya. Dia sedang mengikuti acara catwalk yang diadakan oleh salah satu brand busana ternama, Maisha fashion.


Diantara banyaknya penonton, terlihat Nathan menatap penuh makna kearah Jeslyn. Dia bertepuk tangan penuh semangat melihat aksi istrinya diatas runway.


"Coku alay banget sih kaya nggak pernah liat gue aja. Apa-apaan itu, senyumnya. Ah coku bikin gue nggak fokus aja." Ucap Jeslyn dalam benaknya.


Dafa juga ikut hadir di acara itu dia datang bersama Herlin. Herlin menatap sinis kearah Jeslyn. Dia kesal karena tidak terpilih untuk mengikuti acara catwalk ini.


Saat melewati barisan tempat duduk Herlin, Jeslyn sengaja mengibaskan selendang yang tersampir di kedua tangannya. Dia melakukan itu sebagai cibiran untuk Herlin karena dia tidak mengikuti acara bergengsi ini.


"Awas aja lo cewek singa, beraninya lo cibir gue."


Acara catwalk selesai. Di belakang panggung, owner yang mengadakan acara itu menawarkan kerjasama kepada Jeslyn untuk menjadi brand ambassadornya. Jeslyn tidak menolaknya. Dia langsung menandatangani perjanjian kontrak kerjanya. Disana juga ada Radit yang sudah lebih dulu diajak bicara oleh owner Maisha fashion, karena Jelsyn dibawah naungan agencynya.


"Jess gue udah transfer fee lo ya + tips dari owner Maisha."


"Oke bang thankyou."


Jeslyn langsung kegirangan karena feenya hari ini lumayan besar. Dia langsung berganti pakaian dan menghapus make upnya yang tebal. Diluar ruang ganti Herlin sudah menunggunya.


"Heh ngapain lo disini? Ini itu tempat khusus untuk model yang diundang ikut catwalk disini." Ucap Jeslyn


"Nggak usah diperjelas kali, ya gue memang nggak ikut acara ini. Tapi itu nggak akan mengubah kalau gue jauh lebih baik dari lo,"


"Haha serah deh, minggir gue mau pulang." Jeslyn malas sekali berdebat dengan Herlin, dia ingin cepat-cepat pergi ke mall untuk shopping.


"Tunggu gue punya kabar penting banget buat lo,"


"Apaan?" Jeslyn penasaran


"Akhirnya Dafa mau deket sama gue. Kayanya bentar lagi kita jadian deh." Ucap Herlin antusias namun memanaskan hati Jeslyn.


Jeslyn langsung terdiam mendengar itu. Dulu dia sangat takut Dafa direbut oleh Herlin. Sekarang kejadian itu menjadi nyata. Masih ada rasa sedikit sakit dalam hatinya, tapi Jeslyn sudah tidak peduli lagi.


"Kenapa lo diem? Ahahaha cemburu ya lo pasti. Jangan maruk deh jes, lo kan udah dapetin kakaknya. Jadi Dafa itu harus lo relain buat gue. Nantinya gue akan jadi adik lo." Ucap Herlin.


"Dih adik? Nggak sudi gue punya adik kaya lo. Terserah lo deh mau gimana-gimana sama Dafa. Gue pergi dulu karena suami gue tercinta udah nunggu. Dadaa cewek yang halunya ketinggian!" Cibir Jeslyn melenggang pergi meninggalkan Herlin.


Namun saat baru keluar ruangan, Jeslyn langsung dihadang oleh Dafa. Dia tiba-tiba ingin memeluk Jeslyn. Tapi secepat mungkin Jeslyn menghindarinya.

__ADS_1


"Heh jangan macam-macam ya," Ucap Jeslyn dengan tatapan sinisnya.


"Kenapa sih Jes, aku kan cuma mau peluk tanda keberhasilan kamu menyelasaikan acara ini. Dulu kita kan selalu pelukan selesai acara." Ucap Dafa


"Hellow, lo itu amnesia apa gimana sih? Itu kan dulu."


"Jess aku masih tetep cinta sama kamu. Aku nggak akan pernah bisa lupain semua tentang kita." Ucap Dafa memasang ekspresi memelas.


"Haha jangan pasang muka kaya gitu didepan gue. Gue udah capek banget daf, gue lagi nggak mau berdebat." Jeslyn melenggang pergi meninggalkan Dafa, tapi Dafa menyusulnya dan memegang erat lengan tangannya.


"Daf apaan sih lepasin gue,"


"Enggak aku nggak akan lepasin kamu. Sebelum kamu mengakui kalau sebenarnya kamu juga masih cinta sama aku."


Jeslyn meringis kesakitan karena Dafa mencengkeram tangannya dengan sangat kuat. Dia berusaha melepaskan diri.


"Aw sakit Dafa, lepasin gue! Lo jangan kaya anak kecil deh."


"Kalau kamu nggak mau bilang masih cinta sama aku, aku akan nekat bawa kamu pergi. Ikut aku sekarang!" Dafa memaksa Jelsyn mengikutinya.


Beruntung sekali Nathan datang tepat waktu. Dia melepaskan paksa tangan Dafa dari lengan Jeslyn. Melihat istrinya meringis sakit dan lengannya membekas merah lebam, Emosi Nathan memuncak. Dia mendorong keras Dafa hingga tersungkur ke lantai. Herlin berlari menghampirinya.


"Asataga Dafa lo nggak papa kan, sini gue bantu." Ucap Herlin


Jeslyn bersembunyi di balik Nathan, dia merasa takut. Dafa benar-benar menjadi kasar menurutnya.


"Gue tegasin sekali lagi, dalam masalah kantor kita boleh bersaing memperebutkan kedudukan. Dan gue akan dengan senang hati kalau memang harus turun dari jabatan. Tapi untuk ini lo nggak bisa semena-mena, Dia ini istriku dan akan tetap menjadi istriku." Ucap Nathan. Dafa menatapnya dengan sinis.


"Nggak ada yang boleh merebut dia dari gue, karena dia bukan bola dalam permainan yang bisa lo rebut kapan aja dari tangan gue. Dia juga punya perasaan, jadi jangan egois cuma mikirin perasaan lo sendiri." Imbuh Nathan dengan Tegas kemudian menggandeng tangan Jeslyn untuk pergi dari sana.


"Sial.. Brengsek!!" Teriak Dafa merasa kesal


"Lo denger itu tadi kan lin, Gue dibilang ngrebut. Jelas-jelas dia yang ngrebut Jelsyn dari gue. Gue nggak terima!" Ucap Dafa penuh amarah.


"Sabar ya daf sabar, mungkin lebih baik lo lupain Jelsyn. Dia kan udah sama Abang lo. Saatnya lo buka hati buat gue. Cinta gue lebih besar dari Jeslyn Daf, gue janji bakal bantu lo buat lupain Jeslyn." Ucap Herlin sambil merangkul dan mengelus pundak Dafa.


"Lin lo udah nggak waras ya, Sampai kapanpun gue nggak akan mau sama lo. Ini semua juga gara-gara elo. Salah ternyata gue anggap lo sebagai temen."


Dafa pergi meninggalkan Herlin sendirian disana dengan wajah kesal campur sedih. Berniat menghiburnya malah kena semprot amarahnya.

__ADS_1


...****************...


Di dalam mobil Jeslyn memegangi lengannya yang memar.


"Sakit ya? Kita ke rumah sakit ya kalau gitu." Ucap Nathan.


"Enggak jangan jangan. Antar aku ke mall aja. Hari ini aku dapat fee banyak banget. Temenin aku belanja nanti aku traktir deh." Ucap Jeslyn berekspresi ceria, rasa sakitnya tidak terasa lagi karena dia sedang membayangkan shopping ria hari ini.


"Tapi itu lenganmu memar, Kita kerumah sakit dulu baru ke mall." Ucap Nathan


"Coku pliss deh tanganku ini nggak papa. Ayolah langsung ke mall aja ya, Aku sudah membayangkan bau-bau baju baru, tas baru, sepatu baru aaa.." Ucap Jeslyn sangat antusias ingin segera pergi ke surga dunianya, yaitu belanja sepuas hatinya.


Tapi Nathan tidak mau mendengarkan keinginan istrinya, dia berhenti di depan sebuah klinik.


"Loh loh coku kok kesini sih, aku tuh mau shopping." Protes Jeslyn


"Udah deh nurut aja ayo turun,"


"Enggak mau coku, aku itu maunya ke mall bukan kesini." Ucap Jeslyn


"Kita turun dulu periksa setelah itu aku anterin ke mall."


Jeslyn menggelengkan kepalanya, dia seperti anak kecil yang sedang marah. Dia memalingkan wajahnya dari Nathan.


"Aku akan bayarin apapun belanjaan kamu nanti, asal kamu mau turun buat periksa."


"Oke aku mau kalau gitu, jadi uang aku ini bisa buat shopping lain kali." Ucap Jeslyn dengan gembira. Dia langsung ingin buru-buru turun dari mobil.


"Eh tunggu bentar, emangnya kamu mau beli apa nanti?" Tanya Nathan


"Emm apa ya coku? Nha iya ya aku mau beli tas kecil VL keluaran terbaru."


"Berapa harganya?"


"Sekitar 28 juta coku, murah kan." Jawab Jeslyn dengan tersenyum menatap Nathan.


"Oke yang penting kita periksa dulu."


"Oke coku, tapi jangan lama-lama ya aku udah nggak sabar mau menjemput anak-anak baruku." Jeslyn menyebut koleksi tasnya sebagai anaknya.

__ADS_1


"Iya cebor bawel."


Jeslyn langsung memicingkan matanya kearah Nathan setelah disebut seperti itu. Namun Nathan malah tersenyum tipis, dia merasa gemas melihat ekspresi kesal istrinya ketika dipanggil dengan sebutan Cebor.


__ADS_2