
Gladys meluapkan kekesalannya pada barang-barang di dalam apartemennya. Dia melempar apapun yang ada disana ke sembarang arah.
Herlin yang datang kesana langsung dikagetkan dengan vas bunga yang pecah tepat didepannya. "Astaga, apa-apaan ini Gladys!" Serunya karena mendapati ruangan yang sudah sangat berantakan. Tapi Gladys tidak memperdulikan Herlin, dia tetap ingin menghancurkan seluruh benda yang ada disana.
"Stop Gladys." Herlin berlari dan mencegah sepupunya yang akan memecahkan guci. "Apa sih yang terjadi? Kamu bertengkar lagi dengan Dafa?"
"Ya, dan itu gara-gara wanita penggoda itu." Ucap Gladys, Herlin menatap bingung. Dia tidak paham siapa yang maksud wanita penggoda.
"Aku sangat kesal Herlin. Dafa membentakku di depan banyak orang karena membela Jeslyn." Ucap Gladys menggebu.
"Memangnya apa yang terjadi sampai Dafa membela Jeslyn?" Tanya Herlin
"Dengan sengaja dia jatuh kepelukan Dafa. Aku jelas melihatnya. Ini bukan yang pertama kali. Dia pasti sengaja untuk menggoda Dafa." Jawab Gladys dengan ekspresi kesalnya.
"Hmm.. Gila tuh masa dia mau memiliki dua-duanya." Ucap Herlin
"Her bantu aku, aku nggak mau pernikahanku dengan Dafa batal. Aku nggak bisa hidup tanpa Dafa her," Rengek Gladys seraya menggenggam tangan Herlin.
Sebenarnya ini semua berat bagi Herlin. Dulu dia sangat mencintai Dafa tapi tidak bisa digapainya karena Dafa memilih Jeslyn. Kemudian saat Dafa berpisah dari Jelsyn pun dia tetap belum bisa memilikinya. Saat ada kesempatan, kenyataan pahit datang lagi. Sepupunya sendiri malah hamil dengan Dafa. Disaat Dafa mencelakai Gladys, Herlin benar-benar membencinya dan mencoba melupakan perasaannya. Tapi saat kini Dafa sudah kembali seperti dulu. Tak bisa dipungkiri perasaan itu datang kembali. Namun sayangnya lagi-lagi dia harus mengalah untuk orang lain, yaitu Gladys sepupunya sendiri.
"Her kok diam aja sih!" Seru Gladys sembari menggoyangkan badan Herlin beberapa kali.
"Eh hemm.. Kamu mau aku bantu apa? Tanya Herlin geragapan.
"Pokoknya aku mau bikin Jeslyn kapok deketin Dafa, dan aku sudah punya ide brilian." Ucap Gladys yang kemudian menjelaskan idenya pada Herlin. Dengan lantang dia menjelaskan secara detail rencananya. Tiba-tiba saja suara Dafa mengagetkan mereka berdua.
"Gladys hentikan niat jahatmu itu!" Seru Dafa yang entah sejak kapan sudah berada di dalam apartemen. Sontak Gladys yang tadinya dengan lantang berbicara langsung terdiam.
"Sayang, sejak kapan kamu disitu?" Tanya Gladys dengan gugup.
"Sudah sejak kamu berkata akan membuat karir Jelsyn hancur, dengan membuat skandal seolah dia merebutku darimu." Ucap Dafa
Gladys memang berencana membuat seolah Jeslyn ingin memiliki Nathan dan Dafa sekaligus. Padahal Dafa sudah akan menikah dengannya. Dengan keluarnya gosip panas seperti itu, pastinya karir Jeslyn akan meredup. Jeslyn akan dicap jelek oleh semua orang dan kemudian akan kehilangan seluruh kontrak kerjanya.
"Kalau kamu berani lakuin itu, kupastikan pernikahan kita batal." Ucap Dafa dengan serius.
__ADS_1
Herlin cukup kaget dengan pernyataan Dafa, sementara Gladys langsung menghampiri Dafa dan merangkul lengannya untuk meminta maaf.
"Sayang maaf, aku cuma takut kehilangan kamu. Iya aku janji nggak akan berbuat apapun pada Jeslyn asal kamu juga jauhin dia." Ucap Gladys
Dafa melepaskan rangkulan Gladys di tangannya.
"Gladys, Jeslyn itu sudah menjadi kakak iparku dan akan menjadi kakak iparmu juga. Pliss buang semua pikiran jelekmu itu. Aku memang punya masalalu dengannya, tapi sekarang semuanya sudah beda."
"Semua yang kamu lihat itu tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Jangan terlalu cemburu buta, karena itu bisa menghancurkan semuanya. Termasuk hubungan kita." Ucap Dafa panjang lebar. Dia mencoba membuat Gladys mengerti agar tidak berfikir lagi untuk mengganggu ataupun mencelakai Jelsyn.
"Iya maafkan aku, aku janji nggak akan seperti ini lagi." Ucap Gladys tertunduk mengakui kesalahannya. Dan diapun mulai menitikkan air mata. Membuat Dafa merasa tidak tega sudah berbicara keras pada calon istrinya itu. Dafa pun memberinya pelukan hangat.
"Maafkan aku daf, aku hanya takut kita tidak bisa bersama. Aku akan minta maaf pada Jeslyn." Ucap Gladys dalam pelukan Dafa.
"Iya sudahlah jangan menangis." Ucap Dafa dengan mengusap air mata Gladys.
Herlin menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya terasa panas. "Aku saja belum pernah dipeluk Dafa seperti itu. Ck,, andai saja bukan Gladys, aku akan terus maju untuk mendapatkan hatimu Daf." Gumam Herlin di dalam hati.
**
**
Saat ini mereka sedang berbaring di sofa yang berada di balkon seraya melihat bintang. Malam ini langit cerah dihiasi bintang yang bertebaran. Jeslyn berbaring dengan beralaskan lengan Nathan.
"Emm coku kayanya Gladys marah banget deh sama aku." Ucap Jeslyn
"Biarin aja, kamu kan nggak salah." Ucap Nathan menanggapi dengan santai.
"Aku tuh bener-bener nggak sengaja jatuh tepat didekat Dafa. Kalau bisa milih aku milih buat nggak jatuh atau ditolongin orang lain aja. Masa aku dikata ngegodain Dafa sih," Ucap Jeslyn dengan kesalnya.
"Ya kalau gitu jauh-jauh aja dari Dafa."
Jeslyn langsung memiringkan posisinya untuk menatap wajah sang suami. Dia menerka sepertinya suaminya itu sedang merasa cemburu.
"Coku, kamu cemburu ya?" goda Jeslyn dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Ya wajar kalau seumpama aku cemburu. Aku kan suamimu. Tapi aku nggak cemburu" Ucap Nathan masih dengan ekspresi datar menjaga imagenya.
Jeslyn langsung gemas melihat ekspresi suaminya. Dia tahu sebenarnya suaminya itu cemburu tapi gengsi untuk mengatakannya.
"Yakin nih nggak cemburu? Jadi rela dong kalau aku deket sampek dipe.."
"Tidak. Tidak ada yang boleh menyentuhmu dengan intens sepertiku." Ucap Nathan memotong perkataan Jeslyn. "Kalau hanya sekedar berjabat tangan tak masalah. Yang lainnya No!" Kini poisis mereka sudah saling berhadapan.
Jeslyn tertawa mendengar perkataan suaminya yang mulai keluar sifat posesifnya. "Coku kamu tuh lucu deh kalau lagi begini."
"Sampai kapan sih kamu panggil aku coku?"
"Sampai kapanpun, karena itu cocok untukmu."
"Panggil aku sayang,"
"Nggak mau." Jeslyn menolak dengan suara yang cukup menggoda.
Dengan tiba-tiba, Nathan mendaratkan ciuman di bibir Jeslyn. Ciuman yang berubah menjadi lu*matan dan gigitan kecil. Membuat bibir Jeslyn semakin memerah.
"Sudah lepaskan coku, aku hampir kehabisan nafas." Ucap Jeslyn dengan nafas yang terengah-engah.
"Itu hukuman untukmu. Ayo panggil aku sayang,"
"Nggak mau coku uuuu."
"Lihat saja akan kubuat kamu memanggilku sayang." Nathan tersenyum menyeringai membuat Jeslyn sedikit merinding.
Nathan terdiam membuat Jeslyn merasa bingung. Tapi beberapa detik kemudian Nathan menggelitiki tubuhnya tanpa ampun. Membuatnya berteriak tak karuan.
"Coku geli ah, coku..." Teriak Jeslyn sambil tertawa dan menahan geli. Sementara Nathan tidak akan berhenti melakukan itu sampai Jeslyn menuruti kemauannya.
"Sayang udah sayang, aku nyerah." Teriak Jeslyn yang langsung menghentikan gelitikan Nathan.
"Apa aku nggak denger, Ulangi." Ucap Nathan
__ADS_1
"Suamiku sayang, sayangku.." Ucap Jeslyn dengan suara yang sengaja dia manis-maniskan. Nathan tersenyum mendengar itu. Tanpa berkata-kata lagi dia menggedong sang istri masuk kedalam kamar. Tentunya setelah itu mereka melakukan ritual malam. Entah apa yang dilakukan oleh Nathan hingga membuat Jeslyn mend*sah dengan kuat malam ini. Suaranya sampai terdengar di telinga kedua asisten rumah tangganya yang belum tidur.