
Di studio pemotretan, Jeslyn sudah selesai melakukan pekerjaannya. Dia langsung pergi ke ruang ganti untuk berganti baju. Selesai berganti baju, dia bergegas pergi karena masih ada pekerjaan lain diluar. Dia selalu bersama Oning, asisten sekaligus managernya yang setia membantu segala urusan pekerjaannya.
"Oning bentar ya kamu ke mobil duluan aja, tiba-tiba aku mules." Ucap Jeslyn dengan langsung berlari kearah toilet.
Beberapa menit kemudian Jeslyn sudah selesai dan keluar dari dalam toilet. Saat hendak menuju ke mobil, Dafa memanggilnya. Mantan kekasihnya itu ingin berbicara sebentar dengannya.
"Jes aku cuma mau minta maaf atas kejadian kemarin. Gladys sudah aku tegur dan dia mengakui kesalahannya." Ucap Dafa
"Hemm, nggak papa kok Daf. Santai saja wajar aja kok Gladys cemburu. Itu tandanya dia sayang banget sama kamu. Makanya jangan pernah lagi kecewain dia ya." Ucap Jeslyn
"Iya jess aku sadar sekarang kita udah punya hidup masing-masing. Aku janji akan bahagiain Gladys. Dan aku tidak akan mengganggumu lagi kakak iparku." Ucap Dafa dengan senyum lebar.
Jeslyn tertawa mendengar Dafa memanggilnya kakak ipar. Meski sudah sering Dafa mengatakan itu, tapi kali ini rasanya sedikit berbeda. Karena sekarang Dafa sudah benar-benar mengikhlaskannya bersama Nathan. Refleks Jeslyn memegang bahu Dafa. Kini mereka sama-sama tertawa. Dikejauhan, Gladys melihat itu. Dia yang awalnya ingin meminta maaf pada Jeslyn malah kembali salah paham lagi.
"Apa itu namanya kalau bukan menggoda? Aku akan menemui mas Nathan untuk memperlihatkan kelakuan istrinya. Aku yakin Jeslyn ini masih ada perasaan untuk Dafa." Ucap Gladys yang hanya melihat tapi tidak mendengar apa yang sedang diobrolkan oleh Dafa dan Jeslyn.
***
Nathan dikagetkan dengan kedatangan Gladys ke kantornya. Wanita itu memaksa bertemu saat dirinya sedang sibuk.
"Maaf pak saya sudah melarang mbak ini masuk tapi dia memaksa." Ucap sekretaris Nathan.
"Yasudah nggak apa-apa kamu kembali bekerja." Ucap Nathan
__ADS_1
Nathan mempersilahkan Gladys duduk.
"Ada apa kamu datang kemari? Apa ada sesuatu yang penting hingga kamu tidak bisa menunggu sebentar saja."
"Maafkan saya mas, tapi ini sangat penting. Ini lihatlah," Gladys memperlihatkan foto dalam ponselnya. Foto Jeslyn dan Dafa yang terlihat sangat akrab.
"Hmm wanita ini masih saja mencurigai istriku." Gumam Nathan di dalam hati. Dia mengembalikan ponsel kepada Gladys.
"Mas kok biasa aja sih, Nggak ada respon marah gitu?" Pekik Gladys
"Saya mau tanya, apakah kamu mendengar mereka sedang membicarakan apa?"
Gladys langsung bingung harus menjawab apa, karena memang dirinya tidak mendengar apapun. Langsung menyimpulkan saja bahwa Jeslyn mencoba mendekati dan menggoda Dafa.
"Tapi mas.."
"Cukup Gladys, tinggalkan ruangan saya karena saya sangat sibuk."
Dengan kesal Gladys pergi dari ruangan Nathan. Dia tidak habis fikir kenapa Nathan membela Jeslyn begitu saja. Padahal dalam foto terlihat jelas Jeslyn dekat dengan Dafa. Apakah tidak ada rasa cemburu dalam hatinya. Gladys terus berdecak kesal.
Nathan tidak bisa dipengaruhi oleh Gladys. Karena sebelum wanita itu datang ke kantornya, Jeslyn sudah menelfonnya menceritakan semua. Tentang Dafa yang kini benar-benar sudah berubah.
***
__ADS_1
Sepuluh hari menjelang pernikahan, Gladys semakin merasa takut kehilangan Dafa. Kegelisahan menghantuinya terus menerus. Melihat hubungan antara Dafa dan Jeslyn yang terlihat semakin akrab. Dia selalu mencoba berfikir positif. Tapi selalu saja ada sesuatu yang membuatnya berfikir negatif.
Dafa masih tertidur nyinyak di sebelah Gladys. Pria itu menginap di apartemen calon istrinya. Seperti biasa mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Melihat ponsel Dafa yang tergeletak diatas nakas. Gladys berfikir untuk melihat kembali isi didalamnya. Perlahan dia mengambil ponsel itu, mencoba untuk tidak membuat gerakan yang akan membangunkan Dafa.
Dia melanjutkan membaca catatan di ponsel Dafa yang dulu pernah dia baca juga. Seketika hatinya hancur melihat isi catatan itu. Dimana Dafa menulis semua tentang Jeslyn.
'Dengan melihat senyummu saja sudah membuat hatiku bergetar. Tapi tak apa, aku tetap bahagia meski tidak bisa memiliku. Setidaknya aku tetap bisa melihatmu.'
Gladys langsung mengembalikan ponsel Dafa ditempat semula. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk membaca semua catatan itu.
"Apa aku harus melenyapkan wanita itu Daf, baru kamu akan sepenuhnya mencintaiku." Batin Gladys yang mulai berfikiran buntu.
Beberapa menit kemudian Dafa terbangun. Dia mendapati Gladys sudah tidak ada disampingnya. Gladys sedang berada di dapur, membuatkan sarapan untuk Dafa.
Sedangkan Dafa bangun langsung mandi dan bersiap pergi. Dia menghampiri Gladys yang sedang berada di dapur.
"Loh sayang kamu udah rapi aja," Ucap Gladys
"Iya sayang aku harus pergi jemput kakak ipar. Kita ada pemotretan di luar. Katanya mobilnya mogok dijalan dan bang Nathan nggak bisa jemput karena ada meeting penting. Aku pergi dulu ya," Dafa langsung memeluk dan mencium kening Gladys kemudian pergi tanpa mendengar lagi teriakan Gladys.
"Daf aku tuh udah capek masak buat kamu. Ngelirik pun enggak sama sekali." Gladys berdecak kesal.
"Ini pasti karena perempuan gatal itu. Emangnya nggak ada taksi apa? Kenapa juga harus nyuruh jemput Dafa."
__ADS_1
"Memang dia penghalang dalam hubunganku dengan Dafa. Mungkin kalau dia mati baru aku akan hidup tenang dengan Dafa."