
Presentasi Dafa yang kedua kalinya pun gagal. Owner stars city tetap tidak tertarik untuk menyerahkan proyeknya dihandle oleh Dafa. Malahan owner stars city berkata, proyek itu akan diserahkan kepada perusahaan Mahesa group tapi dia mau yang menghandle adalah Nathan. Menurutnya Dafa belum memumpuni skill sebagai seorang CEO. Dafa kembali ke kantor dengan perasaan yang kesal. Karena selesai meeting tadi, dia mendengar sekretaris stars city mengatainya tidak kompeten dan berjabatan tinggi hanya karena anak pemilik perusahaan.
"Aaarggh...!" Dafa menggebrak mejanya meluapkan kekesalannya. Mischa yang berada dalam satu ruangan dengan atasannya itu merasa kaget sekaligus takut. Dia memilih keluar dari sana daripada kena amuk atasan yang menurutnya menyebalkan dan arogant. Padahal kinerjanya masih cetek.
"Kinerjanya aja masih cetek, gimana mau nyaingin pak Nathan," Gumam Mischa saat sudah berada diluar ruangan.
Dafa benar-benar pusing. Lima hari lagi waktu deadline yang sudah ditentukan oleh Nathan.
"Gue harus gimana, gue nggak mungkin ngaku kalah gitu aja. Bisa makin gede kepala si bang Nathan."
Setelah lama mondar-mandir dalam ruangannya, Dafa memutuskan untuk pergi ke coffe shop dekat sana. Kebetulan juga ini sudah jam makan siang.
Saat keluar ruangan Dafa melihat Jeslyn baru saja masuk lift bersama Nathan. Sepertinya mereka akan makan siang bersama. Dafa pun mengikuti mereka.
Nathan dan Jeslyn makan di restoran yang tak jauh dari kantor. Mereka langsung memesan makanan setelah mendapatkan meja. Kebetulan disana sedang ramai karena bertepatan dengan jam makan siang.
"Coku kamu udah sering kesini ya,"
"Iya, makanan disini lumayan enak-enak. Kan deket juga dari kantor."
"Hemm gitu.. sama siapa kesininya?" Tanya Jeslyn dengan menaikkan sebelah alisnya menatap menelisik.
"Sendirian," Jawab Nathan
"Hah ahahaha.. Nggak mungkin aku nggak percaya." Ucap Jeslyn
"Kenapa nggak percaya?" Tanya Nathan
"Ya seperti yang pernah aku katakan kamu itu pria mapan, ganteng lagi masak nggak ada satu cewekpun yang pernah deket sama kamu. Itu nggak mungkin." Jawab Vella
"Nggak ada cebor dibilangin ngeyel aja." Ucap Nathan.
__ADS_1
Dafa yang berada tak jauh dari tempat Jeslyn dan Nathan duduk mendengar panggilan mereka yang menurutnya aneh. Tapi itu membuatnya iri.
"Apaan itu coku cebor, bahkan mereka sudah punya panggilan masing-masing. Apa Jeslyn benar-benar sudah melupakanku?" Batin Dafa
Disela-sela makan tiba-tiba muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak terfikirkan oleh Jeslyn.
"Emm coku, kamu punya mantan pacar berapa? Jangan bilang kamu nggak pernah pacaran, Aku nggak akan percaya." Pungkasnya.
"Satu, tapi dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu."
Mendengar jawaban Nathan, Jeslyn langsung terdiam. Tapi kemudian Nathan memulai pembicaraan lagi.
"Nggak usah ngerasa salah nanya, aku nggak papa kok. Itu cuma masa lalu, dia sudah tenang disana. Lagian sekarang aku sudah punya kamu." Ucapnya membuat Jeslyn tersipu, wajahnya memerah.
"Errg.. emm.." Jeslyn seperti akan tersedak, Nathan dengan sigap menuntunnya untuk minum.
Dafa yang melihat itu semakin geram. Tapi kini ada sesuatu yang lebih membuatnya tertarik. Sosok wanita yang tak jauh darinya juga sedang mengawasi Jeslyn dan Nathan. Ekspresinya menandakan kecemburuan. Dafa berniat menghampiri wanita itu. Tapi wanita itu malah kabur saat didekatinya.
.
.
"Sandra tunggu." Dafa berhasil menghentikan Sandra saat dia akan masuk kedalam mobilnya.
"Elo suka ya sama bang Nathan," Ucap Dafa langsung to the point.
"Enggak, lepasin pak saya kesini cuma makan siang. Sekarang jam makan siang udah selesai saya mau balik ke kantor." Ucap Sandra
"Sorry sorry," Dafa melepaskan Sandra, tapi dia tidak membiarkannya pergi begitu saja.
"Mau kemana sih buru-buru, Lo belum jawab pertanyaan gue." tukas Dafa
__ADS_1
"Enggak, pak Dafa ngomong apa sih. Jelas-jelas pak Nathan itu sudah punya istri. Permisi ya pak saya mau kembali ke kantor, masih banyak kerjaan." Ucap Sandra mengelak, dan ingin segera masuk ke mobilnya.
"Elo kan cewe yang terobsesi sama bang Nathan, Elo juga penyebab Asha meninggal." Ucap Dafa, Sandra langsung terdiam. Dia tak percaya ada orang yang mengetahui rahasianya itu.
"Tau darimana kamu?" Tanya Sandra dengan gugup.
"Oh jadi bener ya, Kok bisa ya pembunuh kaya lo ini bekerja di perusahaan papa gue. Parahnya yang lo bunuh itu calon menantu papa gue." Ucap Dafa
"Enggak saya nggak bunuh siapa-siapa, dia emang sakit. Dia meninggal karena sakit." Elak Sandra
"Udahlah nggak usah ngelak, gue udah tau semuanya. Gue bisa kirim lo ke penjara sekarang juga." Ancam Dafa sambil tersenyum sinis.
"Jangan jangan, iya saya dulu khilaf. Saya yang sudah menyabotase oksigen yang membantu Asha bernafas saat kritis waktu itu. Saya juga yang sudah mengganti obat Asha dengan vitamin biasa agar dia tidak sembuh-sembuh. Itu semua saya lakuin karena saya ingin memiliki Nathan. Saya mencintainya." Ucap Sandra melakukan pengakuan. Dafa sudah merekam semua omongan Sandra itu. Dafa sebenarnya sama sekali tidak tahu tentang itu. Tapi dia mencoba memancing. Karena Dafa pernah dengar sedikit tentang sosok Sandra sahabat pacar abangnya yang diam-diam menaruh perasaan.
"Bagus cewe bodoh ini benar-benar bisa gue manfaatin." Gumam Dafa dalam hati.
"Pak jangan bawa saya ke penjara, saya akan lakuin apapun untuk pak Dafa." Sandra memohon pada Dafa.
"Elo itu enak banget ya tinggal minta maaf. Gara-gara elo pacar gue dinikahin sama abang gue sendiri. Kalau aja pacar bang Nathan nggak lo bunuh, perjodohan ini nggak akan terjadi. Jeslyn mungkin jadi istri gue sekarang." Ucap Dafa penuh emosi.
"Astaga.. Saya nggak tahu kalau akan berakhir seperti ini pak. Maaf, saya akan lakukan apapun asal jangan pernjarakan saya." Sandra terus memohon.
"Yakin lo akan lakuin semuanya yang gue suruh?" Tanya Dafa, Sandra pun mengangguk. Tak ada pilihan lain. Sandra tak mau kalau sampai dia masuk ke penjara.
"Bantu gue buat naik jabatan secepatnya, bikin bang Nathan jatuh sejatuhnya. Setelah itu gue akan ambil Jeslyn kembali dan lo bebas mau milikin obsesi lo itu." Ucap Dafa
Sandra masih berfikir setelah mendengar ucapan Dafa, dia memang ingin memiliki Nathan tapi kalau untuk membuatnya sengsara rasanya tidak tega.
"Kenapa diam? Nggak rela lo bang Nathan gue jatuhin? Oke kalau gitu gue akan laporin lo kepolisi sekarang juga. 5 tahun lo sembunyiin semuanya itu sia-sia." Ancam Dafa pada Sandra.
"Ee jangan, iya iya saya setuju." Ucap Sandra dengan terpaksa. Dafa pun tersenyum senang berhasil memanfaatkan perempuan itu.
__ADS_1
"Arrgh.. nggak ada pilihan lain, nggak papa deh gue main jelek dibelakang Nathan dulu, asal nantinya dia akan jatuh kepelukan gue." Gumam Sandra dalam hati.