
Dafa melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dia sudah berhasil membawa pergi jauh Jeslyn. Tidak ada orang yang akan menemukannya. Saat sampai ditujuan, Jeslyn pun siuman.
"Aduh kepalaku pusing sekali. Coku kamu dimana?"
"Sayang aku ada disini untukmu." Dafa mendekat ingin memeluk Jeslyn yang baru saja siuman. Tapi Jelsyn langsung mendorongnya dengan kuat.
"Jangan mendekatiku! Tolong.. Tolong.." Teriak Jeslyn dengan suara yang serak.
"Ahaha, sayang simpan suaramu. Nggak ada yang bisa mendengarnya. Disini hanya ada kita berdua. Aku tidak mau ada orang lain mengganggu kedekatan kita, termasuk anak dari pria brengsek itu."
Mendengar perkataan Dafa, Jeslyn langsung merasa takut. Dia memegangi perutnya. Dia langsung berdiri meskipun masih sempoyongan akibat bius yang diberikan oleh Dafa tadi.
"Jangan mendekat!" Ketus Jeslyn
"Kenapa sih sayang, aku hanya ingin menghilangkan parasit dalam tubuhmu." Ucap Dafa dengan senyum yang membuat Jelsyn merasa takut. Dafa ingin memaksa Jeslyn minum obat penggugur kandungan. "Kamu hanya perlu minum ini, aku tidak akan menyakitimu sayang."
"Enggak aku nggak mau! Kau sudah gila daf, Kau bukan Dafa yang kukenal dulu."
"Aku memang gila dan itu karenamu."
Jeslyn terus mundur dan akhirnya berlari sekuat tenaga menghindari Dafa. Tapi sayangnya dia berhasil tertangkap. Tapi dia tidak kehabisan akal, dikeluarkannya jurus tendangan maut yang tepat mengenai senjata Dafa.
"Aw, sial!" Pekik Dafa kesakitan. Jeslyn kabur lagi hingga memasuki hutan.
🌺
🌺
Di hotel tempat acara kini sedang dilakukan penyelidikan oleh polisi. Cctv sudah dicek tapi Dafa sudah mensetting semuanya. Cctv mati sebelum kejadian itu. Nathan pun tidak bisa melacak keberadaan Jeslyn. Ponselnya di tinggal disana. Begitu pula ponsel milik Dafa yang sengaja ditinggalkan di hotel.
Sandra juga berada disana, dia sangat melihat kepanikan Nathan. Kemudian dia ingat satu tempat yang mungkin Dafa membawa Jeslyn kesana.
"Nathan aku tahu satu tempat, tapi aku tidak yakin mereka ada disana. Tapi tidak ada salahnya kita coba kesana." Ucap Sandra
"Dimana katakan,"
__ADS_1
"Tempatnya sangat jauh dari kermaian seperti dipinggiran hutan. Waktu itu aku pernah disekap disana."
"Apa? Dafa menyekap kamu."
"Iya karena aku ingin membongkar semua kejahatannya padamu dan juga Jeslyn."
"Dia memang keterlaluan. Kamu bisa menunjukkan jalannya?"
"Ya bisa."
Dengan ditemani beberapa polisi, Mereka menuju ke tempat yang memang saat ini Dafa dan Jeslyn berada. Sampai disana mereka melihat sebuah mobil yang dipastikan milik Dafa. Tapi sepertinya itu mobil sewaan.
Nathan langsung berlari masuk kedalam rumah kecil disana, tapi tal ada siapa-siapa. Dia pun keluar lagi melihat sekeliling.
"Apa jangan-jangan Mereka ke hutan?" Pungkas Sandra
"Bisa jadi, kita cari kesana. Tapi sebaiknya kamu disini saja." Ucap Nathan
"Tidak aku mau ikut."
Mereka pun pergi mencari menyusuri hutan. Dengan berteriak memanggil nama Jeslyn. Belum jauh mereka menyusuri, Nathan menemukan sepatu slop milik Jeslyn.
Di tengah hutan Dafa terus mencari keberadaan Jelsyn. Dia bertekad harus menemukan wanitanya dan tidak akan membiarkannya lepas.
"Sayang aku tahu kamu ada dimana, ayo lah jangan main petak umpet. Aku tidak akan menyakitimu." Ucap Dafa, Jeslyn dengan jelas mendengar suara Dafa. Karena saat ini dia sedang bersembunyi dibalik semak-semak tak jauh dari sana. Tenaganya sudah hampir terkuras karena berlarian. Apalagi perutnya terasa kram.
"Aku harus berhasil kabur dari orang gila ini. Sayang maafkan mama ya, kamu harus kuat." Gumam Jeslyn sembari mengelus perutnya. Sialnya saat akan berlari untuk menjauhi Dafa, Kakinya malah terjerat akar pohon hingga membuatnya tersungkur ke tanah.
Brukk
"Hmm.." Dafa tersenyum menyeringai. Perlahan dia mendekati sumber suara itu. Dia menyibakkan semak dedaunan dihadapannya. Benar saja, dia melihat wanitanya yang berusaha bangun dari jatuhnya.
"Yaampun sayang, kakimu sampai berdarah. Kalau saja kamu nurut denganku. Ini tidak akan terjadi." Ucap Dafa sembari meraba halus rambut Jeslyn yang sudah terduduk.
"Ayo aku bantu bangun, Kita kembali kesana. Rumah tempat dimana kita akan bahagia." Ucap Dafa sembari merangkul pundak Jeslyn untuk membantunya berdiri. Tapi tangannya ditepis oleh Jeslyn.
__ADS_1
"Aku tidak mau ikut denganmu. Kau itu pria yang jahat. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri." Ucap Jeslyn dengan raut wajah penuh amarah. Kemudian dengan susah payah dia berdiri sendiri.
"Sejak awal kau sudah melakukan penghianatan padaku. Kau salah karena menyalahkan orang lain atas perpisahan kita." Ucap Jeslyn
"Ck.. Jadi kau membela si brengsek yang sudah merebutmu dariku? Padahal kau tahu apa alasanku pergi tanpa mengabarimu." Ucap Dafa mulai membela diri.
"Dia suamiku dan dia tidak pernah merebut apapun darimu. Tidak usah membahas masalah itu sebagai alibi untuk menutupi kesalahanmu. Hubungan kita sudah berakhir semenjak kau pergi waktu itu." Tegas Jeslyn
Tiba-tiba Dafa mendekat dan menggenggam kedua tangan Jeslyn. Dia menangis tersedu dihadapan Jeslyn.
"Apa sedikitpun kamu tidak memikirkan perasaanku? Aku tulus mencintaimu." Ucap Dafa dengan tatapan memelas, tapi itu sama sekali tidak lagi membuat hati Jelsyn terketuk. Kini dihatinya sudah tidak ada lagi rasa cinta untuk Dafa. Hanya ada rasa benci dan marah padanya atas semua kelakuannya. Apalagi setelah tahu kebejatan Dafa yang meninggalkan Gladys yang hamil karena perbuatannya.
"Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu, Untuk apa aku memikirkan perasaanmu. Kau saja bermain dengan banyak wanita dibelakangku tanpa memikirkan perasaanku. Tapi aku sudah tidak peduli. Lepaskan aku!" Jeslyn meronta untuk melepaskan diri dari Dafa tapi tidak bisa. Tenaga Dafa sangat tidak sebanding dengannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Kalau kau terus menolak, kita mati bersama saja. Kita loncat dari jurang itu." Ucap Dafa dengan tatapan serius.
"Kau gila, tidak aku tidak mau!" Jelsyn berteriak tapi percuma, Dafa terus menyeretnya untuk ikut. Dia pun menggunakan kakinya untuk menendang tepat di senjata milik Dafa. Dua kali dia melakukan ini untuk melarikan diri.
"Aw," Pekik Dafa yang merasa kesakitan. Kali ini tendangan Jeslyn benar-benar kuat. Hingga membuat Dafa terjatuh kesakitan.
"Hei kau mau kemana? Kau tidak akan bisa lolos dariku!" Teriak Dafa
Jeslyn terus berlari sekuat tenaganya untuk pergi jauh dari Dafa. Dia tersandung lagi hingga jatuh. Tapi sekuat tenaga dia bangkit lagi.
"Coku kamu dimana, aku butuh kamu." Lirih Jeslyn sembari menangis. "Coku aku takut," Tenaganya sudah terkuras habis, pada akhirnya dia hanya meringkuk di balik pohon besar. Berharap ada yang menolongnya. "Aku sangat takut, semoga Dafa tidak menemukanku." Gumam Jeslyn
Tiba-tiba tangan seseorang memegang kepalanya. Dia yangs sedari tadi meringkuk mulai sedikit mengangkat kepala. Dia menelan salivanya. "Dafa maafkan aku, aku mohon lepaskan aku. Biarkan aku bahagia bersama Nathan." Lirih Jeslyn dengan gemetar.
"Cebor,"
Mendengar suara itu Jeslyn langsung menegakkan wajahnya menatap seseorang yang ada dihadapannya.
"Coku, coku benarkah ini kamu?" Ucap Jeslyn merasa tidak percaya.
"Hmm.." Nathan mengangguk, Tak berselang lama Jeslyn menghamburkan pelukannya pada sang suami.
__ADS_1
"Coku, aku sangat takut. Dafa ingin membunuh anak kita. Bahkan dia ingin mengajakku mati bersama." Ucap Jeslyn dengan masih gemetaran.
"Tenanglah aku ada disini, aku akan melindungimu dan juga anak kita." Ucap Nathan dengan mencium kening sang istri. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat. Karena kaki Jeslyn terluka, Nathan pun menggendongnya.