Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 79


__ADS_3

Lima hari berlalu, Jeslyn tetap di rumah saja. Dia hanya melakukan olahraga ringan dan sisanya untuk beristirahat. Rencananya hari ini dia ingin pergi ke rumah orang tuanya, karena merasa rindu.


Sedangkan Nathan tetap akan di sibukkan dengan pekerjaan hari ini. Sama seperti hari-hari kemarin. Tapi dia sudah merencanakan untuk cuti panjang bulan depan. Dia akan mengajak Jeslyn babymoon ke luar negeri.


"Titip salam untuk mama Kinan dan papa Hilman ya, maaf nggak bisa antar kamu kesana. Soalnya aku ada meeting pagi." Ucap Nathan


"Iya enggak apa-apa kok sayang, nanti aku salamin. Kamu hati-hati di jalan dan semangat kerjanya." Ucap Jeslyn dengan senyum manis.


Mereka pun berpelukan sebentar sebelum berpisah untuk pergi ke tujuan masing-masing. Nathan juga memberikan kecupan di kening dan tak lupa perut Jeslyn. Itu sudah menjadi moment wajib setiap Nathan akan berangkat bekerja.


.


.


Di kamarnya yang terletak di dalam apartemen megah di Jakarta, Liona sedang memilih parfum yang akan ia gunakan hari ini. Di belakangnya berdiri Sinta yang hanya diam saja menunggu perintah.


"Sinta bisakah kau memilihkan parfum yang terbaik untukku hari ini, karena aku cukup bingung." Ucap Liona


"Hmm baiklah nona Liona," Sinta mengambil satu persatu parfum mahal milik atasannya. "Sepertinya ini cocok untuk hari ini nona Liona." Ucap Sinta sembari menyerahkan pilihannya.


"Hmm,, oke juga pilihanmu. Thank you," Ucap Liona yang merasa cocok dengan pilihan asistennya.


"Oh ya, nanti jangan lupa atur sesuai perintahku semalam." Ucap Liona mengingatkan Sinta.


"Siap nona, tapi nona Liona yakin ingin melakukan hal seperti itu?"


"Iyalah kenapa tidak, kau tahu sendiri kan kalau aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan. Juga bagaimanapun caranya akan kulakukan." Ucap Liona dengan senyum penuh arti.


"Baiklah nona saya sudah siapkan semuanya." Ucap Sinta


"Bagus, pokoknya harus berhasil. Aku tidak mau kalau sampai ada yang mengacaukan nantinya. Ingat itu!" Tegas Liona,


Tiga jam kemudian...


Di depan pintu apartemen unit 107 Nathan berdiri. Dia sudah memencet bel tiga kali, tetapi pintu tidak kunjung terbuka. Kemudian ponselnya berbunyi. Nama Liona jelas tertulis di ponselnya.


"Masuk saja pak Nathan, saya sudah membuka kunci pintunya. Maaf saya tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Kepala saya sangat pusing." Ucap Liona dari telefon yang sedang tersambung. Tapi setelah itu terputus.


Nathan tidak langsung masuk ke dalam, dia masih berfikir untuk masuk. Dia sudah berjanji pada Jeslyn untuk menjaga jarak dengan Liona. Sebenarnya dia terpaksa datang karena membutuhkan berkas yang ada pada Liona. Wanita itu menyuruhnya datang ke apartemen karena beralasan sakit, tidak bisa bertemu di luar. Dia juga beralasan bahwa asistennya sedang cuti dan tidak bisa dimintai tolong.

__ADS_1


Akhirnya Nathan pun masuk ke dalam. Apartemen itu terlihat sepi. Nathan tak mau melangkah lebih dalam. Dia menelefon Liona dan bertanya dimana letak berkas itu.


"Halo Nona Liona, dimana anda meletakkan berkasnya?" Tanya Nathan


"Ada di dalam laci kamarku, pak Nathan bisa kemari kan? Saya benar-benar tidak bisa bangun. Kamar saya berpintu pink." Jawab Liona dari sambungan telefon.


Dengan terpaksa Nathan menuju ke kamar yang sudah di beritahu oleh Liona. Dia masuk ke dalam dan memang Liona terlihat pucat. Tapi sebenarnya bukan karena sakit, melainkan dia sudah membubuhkan fondation di area bibirnya.


"Oh dia beneran sakit, aku sedikit lega karena ini bukan triknya." Gumam Nathan di dalam hati.


"Dimana letaknya?" Nathan langsung to the point.


"Di laci itu pak," Jawab Liona sembari menunjuk kearah laci yang berada di sana. "Dih kok nggak basa-basi dulu nanyain keadaanku gitu. Lihat saja dalam lima menit kedepan, kau akan terikat denganku." Ucap Liona dalam hati.


Saat sedang sibuk mencari berkas di dalam laci, seseorang menepuk bahu Nathan. Dia menoleh dan tepat setelah itu dia terjatuh pingsan.


"Mulai detik ini dan seterusnya kau akan terikat denganku. Ku pastikan kau menjadi milikku dan akan ku singkirkan istrimu yang sok cantik itu." Ucap Liona sembari membelai wajah Nathan. Dia menyemprotkan sesuatu yang membuat Nathan pingsan. Dirinya memakai masker jadi hanya Nathan yang terpengaruh.


"Sinta kemari!" Teriak Liona,


"Iya Nona,"


"Baik Nona Liona, saya permisi."


.


.


Triing...


Ponsel Liona berbunyi membuat dirinya yang akan mencium bibir Nathan pun tertunda. Sebenarnya sudah lima belas menit sejak Nathan pingsan, tapi dalam waktu yang cukup banyak itu Liona hanya menatap ketampanan Nathan.


Tertulis nama 'Kak Sandra' di layar ponsel Liona. Gadis yang akan menjalankan aksinya itu merasa kesal karena ada yang mengganggunya.


"Halo ada apa kak?" Liona bersuara manis seperti biasanya.


"Aku di depan apartemenmu, buka pintunya. Aku mau bicara penting denganmu." Ucap Sandra yang kemudian mematikan telefonnya.


"Duh ngapain sih kak Sandra kemari, ganggu saja!" Liona berdecak kesal. Dia pun bergegas keluar dan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Liona membukakan pintu untuk kakaknya. Dia juga langsung memberikan sapaan pelukan hangat. Mereka sudah satu bulan tidak bertemu.


"Ayo masuk kak," Ucap Liona mempersilahkan Sandra masuk. Kemudian dia menuntun saudara kandungnya itu untuk duduk.


Kini mereka duduk berhadapan. Mereka berdua sama-sama diam beberapa saat. Hingga akhirnya Liona merasa waktunya terbuang cukup banyak. Dia takut Nathan akan bangun sebelum dia melancarkan aksinya.


"Katanya tadi mau ada yang di omongin, apa kak? Katakan segera, aku masih banyak kerjaan." Ucap Liona


"Jangan ganggu kebahagiaan orang lain. Jangan usik mereka yang sudah berumah tangga." Ucap Sandra


"Apa sih maksudnya kak? Aku tidak pernah mengganggu siapapun." Ucap Liona dengan santai.


"Aku sudah tahu semuanya, kau tidak bisa mengelak. Masih banyak pria single kenapa harus Nathan?" Sandra langsung to the point.


Liona tersenyum kaku mendengar perkataan kakaknya. Kemudian dia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di perut.


"Kakak tidak usah ikut campur urusanku. Siapapun pria yang kusukai itu terserah padaku. Aku tidak peduli siapapun dia, kalau aku suka aku pasti akan mendapatkannya. Meskipun dia suami orang lain." Ucap Liona dengan percaya diri.


"Sudahlah kak, jangan sok menasehatiku. Kau saja dulu pernah suka Nathan juga kan, kau juga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jadi lebih baik kau pergi dari sini sekarang. Aku tidak butuh pendapatmu." Ucap Liona dengan beraninya mengusir Sandra.


Tiba-tiba gagang pintu kamar Liona bergerak dengan keras. Suara gedoran juga terdengar. Hal itu membuat Sandra langsung berdiri dan menatap penuh pertanyaan pada adiknya. Jelas dia mendengar suara Nathan.


"Itu suara Nathan, bagaiman bisa dia ada di kamarmu?" Tanya Sandra dengan curiga. Tanpa berfikir lagi, Sandra langsung bergegas mendekat ke sumber suara.


"Kak bukan, itu bukan Nathan!" Teriak Liona mencegahnya, tapi percuma. Sandra sudah berhasil membuka pintu yang kuncinya masih tergantung di sana.


"Sial! Semuanya gagal total. Dan sekarang apa yang harus kukatakan," ucap Liona di dalam hati.


Nathan langsung mendekati Liona dengan tatapan penuh amarah. Liona langsung menciut dan terus melangkah mundur. Sedangkan Sandra terdiam menyimak. Dia tidak tahu apa yang terjadi.


"Apa kamu sudah berfikir sebelum bertindak? Kamu sengaja membiusku lalu berniat membuat seolah kita tidur bersama. Begitu kan?" Ucap Nathan dengan ekspresi yang menakutkan menurut Liona.


"E-e.. Saya bisa menjelaskannya. Saya melakukan itu karena mencintaimu pak Nathan, sungguh mencintaimu." Ucap Liona dengan gemetar.


Nathan langsung sedikit menjauh dan membuang pandangannya. Pria yang sudah beristri itu tersenyum kaku menanggapi perkataan Liona.


"Saya sudah beristri dan istri saya sedang hamil saat ini. Saya sudah bahagia dengan keluarga kecil saya. Mencintai boleh saja, tapi jika sampai cintamu merenggut kebahagiaan orang lain, itu namanya jahat!" Seru Nathan dengan penekanan untuk menyadarkan Liona.


"Maafkan saya pak, tapi saya benar-benar mencintai pak Nathan." Ucap Liona dengan wajah memelas, siapa tahu hati Nathan akan sedikit terbuka untuknya.

__ADS_1


Nathan mengabaikan Liona, dia malah langsung melangkah pergi. Liona berusaha mengejar tapi ditarik oleh Sandra.


__ADS_2